Sultan Suriansyah Pendiri Dinasti Kerajaan Banjar Islam
Minggu, 17 Maret 2013
Tulis Komentar
Sultan Suriansyah Pendiri Dinasti Kerajaan Banjar Islam
Pendiri kerajaan Banjar Islam ini sewaktu muda dikenal dengan nama Raden Samudera. Sejak usia 7 tahun ia sudah ditinggal kedua orangtuanya. Raden Samudera kemudian dipelihara oleh kakeknya, Maharaja Sukarama, penguasa Kerajaan Negara Daha. Raden Samudera baik dari garis ibu maupun ayah, merupakan keturunan Raden Sekar Sungsang yang saat memerintah Negara Daha bergelar Maharaja Sari Kaburangan.
Kerajaan Banjarmasin pada hakekatnya adalah lanjutan dari Kerajaan
Negara Daha. Ramli Nawawi, dalam tulisannya berjudul Mengungkap Sejarah
Banjar: Mengapa Pangeran Sukarama menunjuk Raden Samudera Sebagai
Penggantinya?, Banjarmasin Post, 20 Februari 1979, menyatakan Raden
Samudera pembangun Kerajaan Banjarmasin, seorang yang mempunyai hubungan
darah dengan Raden Sekar Sungsang, raja pertama di Negara Daha.
Ada dua versi silsilah asal usul Raden Samudera yang menghubungkan ia
dengan raja-raja yang berkuasa sebelumnya di Negara Daha atau di Negara
Dipa. Versi pertama berdasarkan cerita tradisi tertulis, versi kedua
berdasarkan cerita tradisi lisan. Peneliti Belanda JJ Ras dalam Hikayat Banjar, menamakan kedua versi silsilah itu dengan istilah Resensi I dan Resensi II.
Amir Hasan Kiai Bondan dalam Suluh Sejarah Kalimantan
menulis, Raden Samudera adalah anak Raden Mantri Jaya anak Raden
Bangawan anak Maharaja Sari Kaburangan (Sekar Sungsang). Sementara jika
dari jalur ibu, Raden Samudera anak Putri Galuh anak Maharaja Sukarama
anak Sekar Sungsang. Selanjutnya, Sekar Sungsang anak Maharaja Carang
Lelean (Carang Lelana) anak Pangeran Suryawangsa anak Pangeran
Suryanata. Pangeran Suryanata dengan istrinya Putri Junjung Buih adalah
pendiri dinasti Kerajaaan Negara Dipa.
Silsilah
versi Amir Hasan Kiai Bondan mengikuti Resensi I. Perbedaannya cuma
pada nama orangtua Raden Samudera yang menurut Resensi I adalah Raden
Mantri Alu anak Raden Suryawangsa anak Sekar Sungsang.
Sementara jika mengikuti Resensi II, Raden Samudera adalah anak
Pangeran Tumenggung dan Ratu Intan Sari. Resensi II menyebutkan Pangeran
Tumenggung bersaudara dengan Pangeran Sukarama. Keduanya anak dari
Raden Mantri (Ratu Anom) anak Sekar Sungsang. Selanjutnya Sekar
Sungsang anak Pangeran Aria Dewangsa anak Pangeran Suryanata. Menurut
Resensi II, Sekar Sungsang beribu Putri Kabu Waringin anak Patih Lambung
Mangkurat. Sebaliknya menurut Resensi I, Sekar Sungsang beribu Putri
Kalungsu anak Maharaja Surya Ganggawangsa anak Maharaja Suryanata
(Pangeran Suryanata).
Berdasarkan Resensi I di atas, Raden Samudera dilahirkan dari putri
raja bernama Putri Galuh Baranakan dengan seorang laki-laki kemenakan
raja bernama Raden Mantri Alu. Hubungan Resensi I dan II jika
digabungkan, Putri Galuh Baranakan diperkirakan identik dengan Putri
Ratna Sari (Ratu Lamak). Ratu Lamak (Putri Ratna Sari) dalam Resensi II
menjadi penerus tahta kerajaan Negara Daha setelah Sekar Sungsang
mangkat.
Mengapa Maharaja Sukarama mewasiatkan penerus tahta sepeninggal dia
nanti adalah Raden Samudera? Sukarama kemungkinan tiada lain adalah
saudara Sekar Sungsang. Sukarama bukan anak Sekar Sungsang (Resensi I),
bukan pula cucu dari Sekar Sungsang (Resensi II).
Menurut Ramli Nawawi, ketika Sekar Sungsang (Maharaja Sari Kaburangan)
memerintah yang menjadi mangkubumi adalah Pangeran Sukarama. Jatuhnya
tahta dari Sekar Sungsang ke Sukarama dapat diperkirakan bahwa pada
waktu Sekar Sungsang meninggal anak-anaknya belum dewasa. Karena itu
tahta dipegang oleh Sukarama yang menjabat sebagai mangkubumi dan
selanjutnya sebagai mertua dari Putri Galuh Baranakan.
Sebagaimana disebut dalam Resensi II bahwa tahta kerajaan setelah Sekar
Sungsang wafat jatuh kepada Ratu Lamak (Putri Ratna Sari), tetapi yang
melaksanakan pemerintahan adalah mangkubumi yang menjadi mertuanya
yaitu Pangeran Sukarama.
Silsilah asal usul Raden Samudera, menurut Ramli Nawawi, jika disusun
kembali maka Raden Samudera anak dari Pangeran Mantri Alu anak Pangeran
Sukarama. Sedang ibunya bernama Putri Galuh Baranakan anak Sekar
Sungsang. Karena itu wajar jika di dalam Hikayat Banjar disebutkan bahwa Pangeran Sukarama
mewasiatkan kepada Patih Aria Trenggana bahwa apabila ia mangkat maka
yang diangkat untuk menggantikannya adalah cucunya yang bernama Raden
Samudera.
Seandainya Raden Mantri Alu waktu itu masih hidup, maka dialah yang
ditetapkan sebagai calon pengganti. Bukan Pangeran Mangkubumi atau juga
Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan dari
Pangeran Sukarama.
Kemelut di istana Negara Daha sepeninggal Sukarama membuat keselamatan
Raden Samudera terancam. Pangeran Mangkubumi naik tahta tapi kemudian
terbunuh. Pangeran Tumengung merebut kekuasaan dan mengangkat dirinya
menjadi raja selanjutnya. Raden Samudera kemudian menjadi putra mahkota
terbuang dan menyembunyikan diri hidup sebagai paiwakan
(penangkap ikan/elayan) di Muara Bahan, Balandean, Sarapat dan Kuin.
Pertemuannya dengan Patih Masih, penguasa orang-orang Melayu di Banjar
Muara Kuin Cerucuk berujung dengan pengangkatan Raden Samudera sebagai
raja. Ia kemudian terkenal dengan nama Pangeran Samudera.
Setelah memenangkan pertempuran melawan Pangeran Tumenggung, Pangeran
Samudera resmi berdaulat menjadi raja Banjar Islam pertama. Khatib Dayan
utusan Demak mengislamkannya. Kemenangan Pangeran Samudera diperoleh
setelah mendapat bantuan pasukan tentara prajurit Demak yang dikirimkan
oleh penguasa Demak waktu itu, Sultan Trenggono. Pangeran Samudera
bergelar Sultan Suriansyah atau Sultan Suryanullah. Ia mangkat
diperkirakan sekitar tahun 1546/1550. Setelah mangkat ia mendapat gelar
baru sebagai Penambahan Batu Habang. Peristiwa kemenangan pertempuran
terakhirnya pada 24 September 1526 diperingati sebagai Hari Jadi Kota
Banjarmasin. (Yudi Yusmili)

Belum ada Komentar untuk "Sultan Suriansyah Pendiri Dinasti Kerajaan Banjar Islam"
Posting Komentar