Cerpen Cokelat Mappanretasi - Leni Wulan Dari
Sabtu, 05 Desember 2015
Tulis Komentar
Ya, aku tahu tak ada
seorang pun di sini yang tak menyukainya. Jelas, karena ini memang gedung yang
didesain untuk pecinta es krim dan cokelat. Ada yang begitu cintanya hingga
tas, baju, sepatu, dan aksesoris seorang remaja berusia enam belasan tahun
bergambar es krim dan kerupuk yang berbentuk kerucutnya itu mendominasi ke
semua bagian yang dikenakan . Monoton sekali.
Kami berjalan menuju
ruang berikutnya. Aku melempar pandangan ke sebuah poster tentang perayaan mappanretasi, sebelum mataku mendapati miniatur
lemari buku dengan penjaganya si Hello Kitty yang terbuat dari cokelat aneka
warna. Indah sekali. Sayang, tak ada izin untuk menyentuhnya apalagi untuk
mencicipi seujung kuku, pun dipastikan akan berurusan dengan security. Bila begitu, aku menjadi ragu
dengan rasanya. Papan larangan 2 x 6 m eter itu mengurangi rasa kekaguman ku
saja.
Aku
melangkah lagi, menikmati keindahan tiap sudut istana cokelat ini. Beruntung, rasa
senang ini dapatku bagi dengan Nafhizah. Walau awalnya dia keberatan. Karena si
kelinci berkerudung ini selalu disibukkan dengan kegiatan organisasi dakwah
sekolah. Aku suka dengan gigi kelinci yang dimilikinya, sehingga sering ku
panggil dia dengan sebutan itu.
“Gak
nyesel kan ke sini, gilaaa bagus-bagus banget Naf! Tapi gak boleh dicicipi,
huh!” ku buka pembicaraan setelah tadi kami cukup lama terdiam mengagumi tiap
jengkal gedung ini.
“Lagian Ros, kalaupun dibolehin
untuk nyicipi setiap pajangan cokelat itu, aku yakin kita gak akan bisa lagi
nikmatin keindahannya. Hahaha nanti dihabisin sama Rosa Melani lagi..” Nafhizah
berbicara lebih dewasa diatasku dan mengimbanginya dengan gurauan kecil. Aku
tak menjawab, membiarkan tawa manis itu mekar di wajahnya. Lalu kutarik lengan
kirinya. Aku ingin mengajaknya ke meseum es krim. Hanya namanya saja yang
terkesan tua, namun itu adalah tempat pengolahan es krim dari bahan, alat,
sampai pengolahan es krim yang siap untuk ku makan seperti hari-hari terik
biasanya. Ku rasa penamaan untuk ruangannya kurang tepat, mengapa harus museum,
ya?
Nafh’ sangat menyukai cokelat,
karena itulah aku meminta janji jauh-jauh hari untuk pergi ke gedung
cokelat bersamanya tepat di hari ulang
tahunnya ini.
***
Dua hari setelah kami mengunjungi
gedung es krim dan cokelat itu, nyaris tak ada komunikasi antara aku dan
Nafhizah. Aku pun lelah melihatnya dengan segala organisasi yang menurutku semakin
menggila di dunianya itu. Maklum, dia anak salah seorang ulama di kota kelahiranku
ini, Batulicin, Kalimantan Selatan. Setiap harinya dia tentu tak lepas dari
tatakrama dan ajaran ilmu agama yang baik. Aku sempat iri padanya, diumurnya
yang sama denganku, dia dapat berkomunikasi dengan baik dan beralur satu arah
dalam pembicaraan dengan guru pengajar
agama islam di sekolahku.
Selain Nafh aku sering
berjalan-jalan dan istirahat di sekolah bersama Elza. Berbeda dengan Nafh, dia menikmati
kesenangan dunianya yang tak mau ambil pusing. Ia sering bicara padaku kalau
hidup hanya sekali buat apa susah-susah memikirkan ‘kematian’. Aku bingung
ingin memeberi respon apa atas perkataannya itu. Sekedarnya, aku mengulum
senyum yang aku sendiri tak mengerti arti senyumanku itu.
Istirahat kali ini sangat pedas.
Faktanya Elza menantangku.. makan sambal.
“Berani gak?” katanya sambil
memasang wajah macam pemain tinju menantang lawannya.
“Siapa takut!” jawabku yang juga
sedang berkonflik dengan hati nuraniku sendiri. Aku sudah yakin, sepulang ini,
dipastikan aku, akan, diare..
Tantangan itu dimenangkan Elza. Huh!
Yang penting aku menerima tantangannya, meskipun konyol.
Elza tak langsung mengakhiri hari
pedas ini setelah penjual di kantin membereskan mangkok-mangkoknya. Dia terus
tertawa melihat bibirku memerah dan keringat yang mengalir di wajahku.
“Iya iya aku kalah makan sambalnya.
Tapi jangan ketawa terus dong, terasa semakin menindas tahu...” gerutuku.
“Haaaa yang menindas siapa, aku
hanya tertawa. Seharusnya diawal tantangan tadi ada pemberian sesuatu dari yang
kalah..” membela diri.
“Benar Za. Seharusnya ada
pemberiannya, nah ini keringatku, mau kulunturkan bedakmu itu dengan ini?”
Sahutku yang masih kepedasan. Tawa Elza semakin menjadi-jadi.
Di tengah pertikaian sambal kami,
tiba-tiba Nafh memberi sebuah lembaran buletin kepada kami, tentu dengan
teman-teman organisasi dakwah Sekolah-nya itu. Ku suruh saja Elza yang membaca, karena
aku masih kepedasan.
“Assalamu’alaikum teman-teman! Waah
maaf nih, ganggu acara makannya,
sekedar mengingatkan, bahwa niat adalah hal terpenting untuk mengawali semua
pekerjaan kita. begitupun dengan kesenangan kita nanti, jangan sampai memebri
kerugian bagi diri kita sendiri. Nah! Mappanretasi
sebentar lagi, kan teman-teman? Maka dari itu kita turut waspada! Kejahatan
dan kesalahan pribadi bisa datang kapan saja, bukan? Kami dari Organisasi
Dakwah Sekolah ingin mengingatkan nih!
jaga diri kita baik-baik ya? Di manapun kalian berada.... Wassalam. Sudah Ros. Sudah kubacain. Dan lebay! Aku lihat Nafhidzah semakin sok
alim deh! Sok sibuk juga!” katanya sambil menghina setelah tadi membaca tanpa
titik koma yang sesuai.
“Hey! Kok gitu Za, itu namanya
penghinaan tahu... aku rasa dia bukannya sok alim. Tapi ya, memang alim duluan
Za, kamu gak tahu ya kalau dia itu anaknya ulama.” Kataku ingin membenarkan
dugaan Elza.
“Aku gak peduli, Ros. Dia memang
teman kita tapi tetap saja aku tidak sejalan dengannya. Aku menyukai
kebisaanku, dan dia dengan kebiasaanya.” Tutup Elza tak mau tahu.
Bel masuk sudah berbunyi. Kami pun bersama menuju kelas. Elza
menceritakan bahwa mappanretasi memang
acara yang sangat ramai dan dia menggemarinya, rutin untuk mengikuti acara itu
barang menonton dengan keluarga atau teman-temannya. Tapi bodohnya aku, tidak
sempat bertanya apa itu mappanretasi.
***
Hari libur ini cukup berbeda dari
biasanya, aku pergi bersama keluarga ke pantai pagatan. Aku melihat sebagian
orang sedang ramai-ramai bergotong-royoang mebuat perahu besar.
“Itu nantinya akan dijadikan tempat
sajian di mappanretasi, Ros.” Ayah mengagetkanku
saat aku masih memandangi detail demi detail tumpukan kayu yang sangat rapat
itu.
Aku melirik ke arah adikku, menganga
dengan mulut dibukanya seperempat. Maklum, dia baru pertama kali melihat
pantai. Rasa penggangguku kambuh, ku kagetkan dia, dan se-isi mobil mengutukku
dengan berbagai kalimat marahnya masing-masing. Aku tertawa, sama sekali tak
merasa bersalah.
“Mappanretasi?
Apa itu Yah?” aku memang sering mendengarnya, tapi aku tak tahu pasti arti
perkataan itu.
Ayah mengajakku turun. Sambil berjalan,
menuju warung es degan. Dengan sabar ia menjelaskannya padaku. “Disetiap tiga
minggu di bulan April orang suku adat Bugis memperingati rasa syukurnya dengan
istilah ‘memberi makan laut’.” Ayah memandangku, yang melongo menatapnya. Lalu ia sambung lagi “Nah! Memberi makan laut
itulah asal kata dari mappanretasi
yang sedang kamu tanyakan ini. Sebenarnya mappanretasi
itu bukan satu kata, Ros.” Potong Ayah yang ingin tahu apa responku.
“Bukan satu kata? Lalu?” tanyaku
dengan ringannya, tak berpikir apakah tenggorokan Ayah kering.
“Pertama, mappanre yang artinya memberi makan. Dan yang kedua, tasi yang artinya laut.” Lanjut Ayah
sambil duduk di kursi panjang sederhana milik penjual es degan. Aku memikirkan
perkataan Ayah yang terakhir ini, memberi makan laut? Teringat dengan status
agamaku, Islam, bagaimana pandangannya, sedangkan acara itu kian mengeksotis di
kelahiranku ini? Bagaimana dengan Indonesia dengan seribu satu macam adat dan
islam di dalamnya? Duh, pikiranku semakin melayang-layang, macam permainan
layangan adikku yang putus begitu pun dengan pikiranku tadi, saat Ibu menegurku.
“Rosa! Melongo aja, mau minum ndak?”
kata Ibuku di depan seorang ibu-ibu penjual yang sudah siap memegang gelas
ukuran besar kosong tempat menaruh es degannya.
***
Usai dari pantai pagatan mengenai
mappanretasi, aku semakin ingin tahu apa kira-kira komentar Nafh tentang ini.
“Akhirnya bulan April datang juga,
yesss! Sebentar lagi! Dan Ros, tau nggak aku terpilih lho menjadi salah satu dari ke-enam puluh dayang di acara yang
kutunggu-tunggu itu.” Merona wajahnya penuh semangat. Aku membenak,
bertanya-tanya acara apa yang dimaksud Elza. Apa iya, mappanretasi?
“Hah? Dayang?” pertanyaan yang
meminta penjelasan.
“Iya, dayang, di sana aku akan
menjalani ritual sesuai pelatihan-pelatihanku dua minggu kemarin Ros, huh!
Badanku jadi hitam tahu. Kamu lihat aja pasti acaranya seru, aku jamin!” Elza
Aku memang ingin melihat langsung
acara itu, berhubung pada tanggal itu aku libur sekolah. Setelah perbincanganku
dengan Elza selesai, akhirnya aku dapat menemui Nafh. Aku membicarakan semua
yang ku tahu dan semua pertanyaanku yang membenak tentang mappanretasi kepadanya.
“Iya, Ros. Aku sering mendengarnya,
dan aku juga tahu acara macam apa itu. Sebuah keyakinanan erat yang sangat
sulit dipisahkan dari masyarakat kita. Meski di dalamnya bagiku itu terdapat
ke-mubaziran, ke-yakinan yang sesuguhnya tak ada dalam perintah islam. Sebagai
anggota Dakwah Sekolah aku ingin sekali memberitahukan ini kepada Elza, tapi
setelah aku tahu dari kamu dia sangat bersemangat.....” Nafh tiba-tiba
menghentikan obrolannya, alu mentapku sayup dengan sedikit mengerutkan
keningnya.
“Kamu nggak mau dia kecewa?” tebakku.
“Bukan hanya kecewa Ros, aku tidak mau
nantinya organisasiku ini akan disangkut-pautkan karena kelancanganku
mengurangi kesenangan orang lain, Elza.” Aduh semakin rumit aku memikirkan
antara pertanyaan-pertanyaanku, Nafh dan
Elza.
Belum dapat kusimpulkan mappanretasi itu. Aku duduk di bawah
pohon tak berbuah, entahlah apa namanya, menatap kosong. Setelah tadi
perbincanganku harus usai karena ada rapat organisasi Nafh. Aku memutuskan
untuk mendatangi guru agama islamku. Beliau sedang duduk di depan kelas. Salam
pendekku mengawali.
“Wa’alaikumussalam. Nafhizah, ya?”
tebaknya kepadaku mungkin karena sering bersama Nafh namaku jadi tertukar, dan
itu disadari beliau lewat tanyanya tadi.
“Bukan pak, saya Rosa Melani.”
Jelasku kepada beliau, setelah lima menit kedepan semua tanyaku telah tumpah ke
telinganya.
“Hmm, mappanretsai, ‘memberi makan laut’iya itu memag sempat dilarang
oleh pemerintah orde baru kalau tidak salah Munawir Sadzli selaku menteri
agama, Ros. Karena dituding pesta nelayan itu ada keterkaitannya dengan
syirik..” mentapku.
“Syirik? Tapi kenapa sampai sekarang
masih terlaksana pak?”
“Dulu namanya sempat diganti yang artinya
menjadi makan-makan di laut oleh
mantan bupati kita dulu pak Zairullah, bukan lagi
memberi makan
laut. Tapi, entah bagaimana bapak kurang tahu nama acara itu menjadi kembali
dengan arti memberi makan laut. Nah, untuk acara intiya sebagai ungkapan rasa
syukur atas rejeki yang diberi Tuhan kepada mereka digelar pada hari terakhir.”
Beliau menjelaskan sambil tersenyum.
“Jadi apakah sebelum acara inti itu
hanya foya-foya saja?” aku teringat Ayah yang dulu juga menjelaskan hal ini,
apakah tenggorokan beliau juga sama keringnya dengan tenggorokan Ayah?
“Hmm, bisa dibilang begitu, tapi ada
kalanya itu untuk mereka-mereka saja yang memaknainya dengan cara yang tidak
benar. Karena pada hakikatnya para warga yang mengadakan acara tersebut untuk
bersyukur kepada Tuhan, namun menimbulkan banyak penilaian pandangan dari
ritual yang dijalankan. Dan sisi positifnya tentu ada Ros, selama empat belas
hari sebelum puncak acara itu diadakannya pergelaran budaya, seni, bahkan
tausiyah agama.. pameran seni anak-anak sekolah dan masih banyak lagi. Jika
asal pertanyaanmu adalah diperbolehkan atau tidaknya acara itu, tergantung kita
memaknainya dari dasar hati sanubari kita sendiri tentunya, untuk apa dan apa
manfaat kita mengunjungi keramaian di sana. Bapak rasa kamu bisa
menyimpulkannya, kan Ros.” Tutup beliau memberi tugas baru untukku
menyimpulkan. Tak lama dari senyum
ramah beliau bel masuk berbunyi. Kami pun kembali ke lakon masing-masing.
***
Mentari bersinar bahagia di ufuk
sana aku yakin sebahagia itu pula Elza. Aku melihatnya sangat cantik mengenakan
selendang berwarna emas, memakai tancapa-tancapan kembang di sanggulnya macam
pengantin. Nafhizah berbisik padaku..
“Ros, aku semakin merasa bersalah
pada diriku sendiri tak bisa menyadarkannya jika ini menimbulkan rasa ria’
dalam hatinya, merasa lebih dari yang lain, berlenggak-lenggok memamerkan
kecantikannya dengan
mengumbar aurat yang
semestinya ditutup.”
Keluhnya menggandeng tanganku.
Tak lama setelah keluh Nafh yang
berbisik, Elza mengampiri kami.
“Hey! Nafh, Ros, terima kasih telah
datang. Aku seneeeng baget bisa jadi salah satu dayang. Eh... sudah cantik kan?
Yang kurang, apa, ya? Nafh bisa benarkan kancing belakangku tidak?” sapanya
dengan segala kesibukkan yang membuat kami tak mempunyai kesempatan menimpali
rasa bahagianya ini. Nafhidzah sempat mendengus mengerutkan kenng tanda tak
suka. Jika tak kupaksa, mungkin Nafh tidak akan pergi ke sini.
Semua sudah siap, para dayang
laki-laki dan wanita berbaris dan menempati tempat yang sudah ditata dan diatur
untuk mereka. Elza kulihat sangat gemulai tak terlihat demam panggung. Satu,
dua, satu, dua lagkah kaki
dengan ritme yang itu-itu saja namun indah. Dayang yang anggun dan gagah.
Mereka berpencar melayani tugas
masing-masing. Ada yang merapikan perahu, membawa sajian untuk makanan laut,
ada juga yang menjadi pengiring dewan-dewan rakyat, tokoh-tokoh masyarakat,
serta Bupati dan sang Istri.
Aku dan Nafh menonton dari kejauhan
namun cukup jelas. Saat Istri Bapak Bupati hendak menempati kursinya... oh
astaga..
Bruuukkk
“Aaaw! Aduhh!” Elza terhempas tepat
diujung sepatu mengkilat Istri Bupati itu. Ternyata gaun panjang berwarna ungu
didominasi kuning itu terinjak salah satu dayang dibelakangnya. Elza sangat
menahan malu. Mukanya merah, pucat, dan baru kali ini aku melihat ekspresi itu.
“Hahahaa.” Nafhidzah tertawa lirih
di sampingku. Aku menyikutnya bermaksud menegur.
Acaranya lima belas menit lagi
selesai. Mau tak mau Elza masih terus melanjutkan rangkain acara seperti
pelatihan. Aku inigin menunggu Elza sampai usai, tapi aku ingin sekali makan
bakso yang tak jauh dari aku dan Nafh berdiri. Nafh tidak mau ikut, ya sudah, aku beli sendiri saja.
Dengan janji jangan kemana-mana nanti aku panik macam anak terlepas dari
ibunya. Nafh tertawa melihat aku khawatir hilang.
Sepuluh menit di warung bakso, aku
kembali ke tempat Nafh berdiri tadi. Ternyata Nafh sudah tidak tidak ada di
tempat ini, mataku panik menatap ke sekitar. Dan aku melongok jauh ke batu
besar di dekat pantai. Elza? Nafh? Sedang apa mereaka di sana? Aku mendekati
mereka dengan cepat. Tapi, aku ingin mendengar dari belakang saja apa yang
sedang mereka bicarakan.
Ternyata Elza sedang menangis pasti
soal jatuh tadi. Dan Nafh berada didekatnya ingin menanangkan. Kulihat dia
membenarkan tancapan kembang yang bengkok itu di kepala Elza. Menyeka kedua
mata Elza denga sapu tangan miliknya sendiri. Dan yang termanis adalah..
cokelat.
“Ini.” Singkat Nafh sambil
mengulurkan cokelat dengan tangan kanannya.
Elza masih menunduk malu dengan mata
sembab. Aku tersenyum di belakang menyaksikan kedua temanku ini.
“Tidak apa-apa Za, kamu sudah
berusaha keras. Mungkin jatuh yang tadi itu memang pelajaran untuk kamu
perbaiki lain waktu.” Nafh kembali menenangkan.
“Terima kasih. Lain kali aku akan
menjadi dayang yang jauh lebih baik.” Sesal Elza.
“Iya.” Kata Nafh. Tangannya masih
masih menggantung dengan cokelat sepanjang sepluh sentimeter.
Elza menyabut cokelat itu, cokelat
termanis di mappanretasi-nya. Aku
berpura-pura baru datang dan menemukan mereka. Berlari-lari kecil dari belakng.
“Heey! Kalian! aku panik tahu
mencari ke sana- ke mari. Untung saja kalian ketemu di sini. Bagaimana kalau
seharian aku mencari kalian? Huh!” keluhku, pura-pura.
Nafh dan Elza tertawa melihat
panikku yang pura-pura. Aku, nafh, dan Elza memakan cokelat itu bersama, di
depan matahari yang semakin tenggelam menyinar emas di ujung sana.
Belum ada Komentar untuk "Cerpen Cokelat Mappanretasi - Leni Wulan Dari"
Posting Komentar