DI ANTARA GURU DAN SISWA
Senin, 22 Mei 2017
Tulis Komentar
Apa yang mereka lakukan setelah melepas seragam abu-abu? Apakah mereka mengingat pesan-pesan guru atau mereka hanya sekedar menyimak saja?. Mungkin jawaban itu hanya merekalah yang tau. selama tiga tahun belajar di bangku SMA, hampir setiap hari Guru memberikan nasihat-nasihat tentang budi perkerti, mengarahkan yang baik dan yang tidak patut untuk ditiru.
Selama ini para Guru tidak hanya sekedar memberikan teori-teori saja. Tetapi mereka memberikan bimbingan kepada siswanya seperti melatih beberapa skill keterampilan keahlian agar siswanya menjadi orang yang berguna di masyarakat.
Pada hakikatnya para guru sudah menanamkan dirinya sebagai seorang pengajar, tidak ada sedikitpun dalam hatinya mereka meminta imbalan berupa barang kepada siswanya, yang mereka minta hanyalah agar siswanya mengingat mereka, dan menjadi anak yang berguna.
Pada hakikatnya para guru sudah menanamkan dirinya sebagai seorang pengajar, tidak ada sedikitpun dalam hatinya mereka meminta imbalan berupa barang kepada siswanya, yang mereka minta hanyalah agar siswanya mengingat mereka, dan menjadi anak yang berguna.
Ketika lantunan lagu terima kasih guru dinyanyikan, dan pada saat itulah perisahan seorang guru dan siswanya akan dimulai. tidak sedikit guru dan siswanya meneteskan air matanya, mengingat masa-masa indah kebersamaan.
Namun ironisnya, ada sebagian siswa yang tingkah lakunya di luar kewajaran, hingga perbuatan mereka membuat para guru dan dunia pendidikan menangis. Ketika para siswa merayakan hasil kelulusan, sebagian mereka merayakan dengan mencoret-coret seragamnya dan yang lebih parah lagi di seragam mereka bertulikan "Lulus Potong Bebek Tidak Lulus Potong Guru". Beginikah gambaran cerminan para siswa zaman sekarang?
Ruang guru dalam mendidik siswanya tak mampu banyak bergerak, dengan adanya undang-undang perlindungan anak setiap guru dalam memberikan sanksi kepada siswa yang bermasalah selalu terbatas, ditambah lagi pengawasan orang tua yang acuh kepada anaknya sendiri, dan mereka (orang tua) taunya menyerahkan anaknya kepada pihak sekolah, tapi ketika anaknya terkena sanki oleh pihak sekolah, orang tuanya tidak terima dari hasil keputusan sekolah, dan bahkan yang lebih parahnya adanya pemukulan terhadap seorang guru seperti kasus pemukulan guru di SMA Sulewesi Selatan
Dan kita berharap, semoga ditahun berikutnya semoga generasi-generasi bangsa dapat menjadi lebih baik lagi, dan tidak terulang kembali seperti kasus-kasus di atas.
Namun ironisnya, ada sebagian siswa yang tingkah lakunya di luar kewajaran, hingga perbuatan mereka membuat para guru dan dunia pendidikan menangis. Ketika para siswa merayakan hasil kelulusan, sebagian mereka merayakan dengan mencoret-coret seragamnya dan yang lebih parah lagi di seragam mereka bertulikan "Lulus Potong Bebek Tidak Lulus Potong Guru". Beginikah gambaran cerminan para siswa zaman sekarang?
Ruang guru dalam mendidik siswanya tak mampu banyak bergerak, dengan adanya undang-undang perlindungan anak setiap guru dalam memberikan sanksi kepada siswa yang bermasalah selalu terbatas, ditambah lagi pengawasan orang tua yang acuh kepada anaknya sendiri, dan mereka (orang tua) taunya menyerahkan anaknya kepada pihak sekolah, tapi ketika anaknya terkena sanki oleh pihak sekolah, orang tuanya tidak terima dari hasil keputusan sekolah, dan bahkan yang lebih parahnya adanya pemukulan terhadap seorang guru seperti kasus pemukulan guru di SMA Sulewesi Selatan
Dan kita berharap, semoga ditahun berikutnya semoga generasi-generasi bangsa dapat menjadi lebih baik lagi, dan tidak terulang kembali seperti kasus-kasus di atas.
ar_86


Belum ada Komentar untuk "DI ANTARA GURU DAN SISWA"
Posting Komentar