google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A PUISI SANG JENDERAL - PULPENWANKERTAS

PUISI SANG JENDERAL

Wow... Panglima TNI Jenderal Gatot membuat gempar para politikus, pada saat menghadiri acara rapinmas partai Golkar di Balikpapan. Sang Jenderal menyempatkan membaca puisi 'Tapi Bukan Kami' karya DennyJA. Sepertinya  lantunan-lantunan puisi yang dibacakan Sang Jenderal mengungkapkan perasaan dari hati nuraninya yang Dia tidak bisa sampaikan secara langsung di publik. Benar saja, akibat ulah Sang Jenderal akhirnya membuat para politikus bertanya-tanya ada apa dengan Sang Jendral? dan tidak sedikit mereka membincangkan dan menganalisis bait-bait puisi. Bahkan para politikus ada juga yang memperdebatkan puisi tersebut. Tidak sedikit ada yang mengatakan bahwa Sang Jederal telah menyindir kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang Khususnya dalam status NKRI sekarang.
Kalau secara kajian teori sastra, yang dikatakan puisi merupakan luapan emosi yang disampaikan secara tertulis. Namun bagi para politik mengartikan puisi saat ini adalah senjata paling ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan secara tidak langsung, sebab kalau mereka menyampaikan pesan secara implisit dan berseberangan dengan kebijakan-kebijakan rezim sekarang, maka dikhawatirkan akan berdampak negetaif pada mereka.

Artinya, hanya merekalah yang dapat mengetahui makna dari puisi tersebut, sebab puisi merupakan multi tafsir. Jadi dengan puisilah mereka dapat menyampaikan pesan hati nurani mereka, walaupun pekerjaan mereka tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. 

Berikut puisi 'Tapi Bukan Kami'

Sungguh Jaka tak mengerti
Mengapa ia dipanggil ke sini.
Dilihatnya Garuda Pancasila
Tertempel di dinding dengan gagah.
Dari mata burung Garuda
Ia melihat dirinya
Dari dada burung Garuda
Ia melihat desa
Dari kaki burung Garuda
Ia melihat kota
Dari kepala burung Garuda
Ia melihat Indonesia
Lihatlah hidup di desa
Sangat subur tanahnya
Sangat luas sawahnya
Tapi bukan kami punya
Lihat padi menguning
Menghiasi bumi sekeliling
Desa yang kaya raya
Tapi bukan kami punya
Lihatlah hidup di kota
Pasar swalayan tertata
Ramai pasarnya
Tapi bukan kami punya
Lihatlah aneka barang
Dijual belikan orang
Oh makmurnya
Tapi bukan kami punya 

AR_86
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

2 Komentar untuk "PUISI SANG JENDERAL"

Unknown mengatakan...

Pian dasar mantab banar...
Mudahan pian banyak razaki

Arif Rahman (Bakulaan) mengatakan...

Mudahan pian naik haji haha

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel