google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A Pegiat Literasi Jangan Gaptek - Arif Rahman - PULPENWANKERTAS

Pegiat Literasi Jangan Gaptek - Arif Rahman

Mengembangkan literasi di sekolah memang tidak mudah. Perlu usaha para pendidik, baik kepala sekolah maupun para guru untuk mendorong dan memberikan motivasi kepada para siswa agar memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan para pegiat literasi sekolah yang tak hanya paham literasi, tetapi juga harus paham teknologi.

Penggunaan teknologi merupakan hal utama yang harus dikuasai oleh pegiat literasi. Penguasaan teknologi itu salah satu syarat untuk mengekspor kan karya-karya siswa atau warga sekolah. Selain cepat, penggunaan teknologi juga dapat mempermudah mengembangkan literasi khususnya bidang tulis menulis. Tanpa teknologi mengembangkan literasi seakan tak lengkap. Bahkan pegiat hanya mencicipi karya dia sendiri, tidak untuk orang lain.

Kehadiran teknologi yang canggih, harus dimanfaatkan dengan baik bagi para pegiat. Banyak aplikasi-aplikasi yang ditawarkan untuk mempermudah kita dalam mengembangkan literasi. Misalnya saja aplikasi menulis lewat suara. Aplikasi menulis lewat suara ini sangat mempercepat pegiat untuk menulis. Cukup dengan bersuara, maka akan tampil sebuah tulisan tanpa diketik dengan jari.

Pegiat literasi tanpa teknologi ini pernah saya temukan, yaitu seorang guru SMP Negeri yang hebat mencetak anak didiknya, kehebatan guru SMP itu mampu menghipnotis anak didiknya untuk menyukai literasi khususnya di bidang sastra. Pengetahuan membaca anak didiknya sangat luas. Di bidang tulis misalnya, cerpen dan puisi bisa dikatakan mampu menyaingi penulis penulis ternama di daerah lokal. Namun sayangnya ketika anak-anak tersebut melanjutkan ke jenjang SMA di tempat saya, mereka lambat dalam mengekspresikan karya-karya mereka.

Ketika diteliti, hampir dari mereka mengekspresikan karyanya menggunakan sistem tempo dulu. Yaitu menggunakan kertas. Ketika saya menyuruh mereka untuk mengetik menggunakan laptop dan gawai mereka tidak mampu. Pada dasarnya saya tidak menyalahkan apa yang digunakan mereka ketika mengekspresikan karya dengan metode dulu. Saya juga tidak menyalahkan guru mereka dulu yang tidak mengenalkan dengan teknologi. Tetapi setidaknya saya sebagai guru penerus mereka sekarang sangat bersyukur. Pemahaman dan keinginan mereka tentang literasi khususnya bidang sastra sangat tinggi.

Pernah pada saat itu saya berbincang dengan guru mereka dulu. Tukar informasi terhadap alumni siswa dia yang telah bergabung dengan saya. Ya, memang benar guru tersebut mengaku lemah di bidang teknologi. Dia hanya mengajari sebatas kemampuannya. Sebagai guru yang bergerak di bidang pegiat literasi seyogyanya harus mengikuti perkembangan abad 4.0 dan sangat disayangkan kalau tidak mengikuti perkembangan zaman. Karena dalam literasi harus mengedepankan kecepatan, efisien dan mengeksplorasi sebuah karya.

Perbincangan itu tentulah mendapatkan strategi berharga dalam menyambung bakat siswa yang gemar di bidang sastra. Kelemahan siswa tersebut yaitu kurangnya menguasai teknologi. Padahal siswa tersebut sudah menggunakan gawai, sungguh ironis sekali. Ya pastilah sebagai guru mereka sekarang saya ajarkan bagaimana menulis atau mengembangkan karya mereka dengan cepat. Memberikan edukasi sedikit tentang teknologi kepada mereka. Ternyata ketika diajarkan bagaimana cara membuat karya sastra dengan perpaduan teknologi, akhirnya membuat mereka leluasa dalam mengembangkan literasi khususnya tulis-menulis. Bahkan karya sastra mereka sering masuk dalam penerbitan mayor.

Masalah di atas mungkin sebagian contoh dari permasalahan yang lain. Sebagai guru yang bergerak di bidang literasi, harusnya menguasai dengan teknologi. Serta mengedepankan karya-karya yang ada di sekolah khususnya karya guru dan siswa. Perpaduan literasi dengan teknologi maka akan menjadikan literasi sekolah menjadi hidup dan berkembang.

Literasi sekolah merupakan gerakan menyeluruh warga sekolah, baik guru, kepala sekolah siswa, penjaga sekolah, bahkan ibu kantin sekolah pun. Upaya yang ditempuh oleh pihak sekolah misalkan saja membiasakan minat baca tulis siswa. Secara tidak langsung gerakan literasi siswa juga menanamkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa dapat membudidayakan pentingnya sebuah literasi.

Mengembangakan literasi di sekolah adalah hal wajib. Himbauan mewajibkan literasi itu telah disampaikan oleh pihak kementrian dengan menggalakan gerakan literasi sekolah seperti dengan adanya pelatihan-pelatihan khusus bagi guru bagaimana cara mengembangkan literasi di sekolah masing-masing.

Jadi, dalam perpaduan literasi sekolah dengan teknologi akan mewujudkan ketertarikan, sikap dan kemampuan warga sekolah untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat.

AR

Artikel ini juga muncul di harian Radar Banjarmasin, 13/10/19
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

1 Komentar untuk "Pegiat Literasi Jangan Gaptek - Arif Rahman"

Sunflower mengatakan...

ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
terimakasih ya waktunya ^.^

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel