google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A APAKAH SEKOLAH ITU PENTING DI ERA 4.0 - PULPENWANKERTAS

APAKAH SEKOLAH ITU PENTING DI ERA 4.0


Di zaman revolusi 4.0, apakah sekolah itu penting? Celetukan pertanyaan itu muncul dari suara siswa ketika saya memulai kegiatan mengajar di sekolah. Satu kalimat bernada kritik itu di satu sisi membuat saya geram, tetapi di sisi lain juga membuat saya bangga. Geram, ya, wajar karena kalimat pertanyaan bernada sindiran itu seolah-olah para guru tidak memiliki potensi dalam mengajar. Bangga karena memiliki siswa yang kritis dalam menyikapi dunia pendidikan saat ini. Perlahan saya berikan senyuman kepada siswa tersebut sambil memikirkan jawaban yang tepat agar dia tidak kecewa dengan jawaban yang saya sampaikan.
Pertanyaan itu memang tak bisa ujug-ujug disalahkan. Sebab zaman sekarang, pembelajaran sudah dikemas untuk siap saji dan instan. Di mana saja dan kapan saja mereka bisa belajar. Banyak konten-konten media internet  menyediakan bahan pembelajaran. Sebut saja Google dan Youtube. Dengan Google siswa dapat mengakses materi yang dia inginkan. Sedangkan Youtube, mereka dapat melihat cara penyajian materi dengan jelas. Tinggal mengambil smartphone, materi yang dicari dengan mudahnya langsung ketemu. Bahkan, mereka dengan leluasanya menjelajah materi-materi yang tidak pernah dipelajari di sekolah.

Celetukan semacam itu bukan yang pertama kalinya saya dengar. Saat saya bertemu dengan seorang penulis di Kalimantan Selatan yang tidak lain adalah kawan saya sendiri, di kaosnya tertulis, "Sekolah itu penting agar kita tahu bahwa sekolah itu nggak penting." 
Tentu saja kalimat bertulisan bernada satire di bajunya itu mengundang pertanyaan, perhatian dan rasa penasaran saya. Dengan serius dia menjawab pertanyaan saya secara lugas. Pada inti jawabnya ialah kesuksesan dalam banyak hal dalam kehidupan tidak melulu datang dari sekolah, termasuk perkara menulis.

Dari dua kalimat sindiran itu, saya tergugah. Memang saya menyadari, sebagai pendidik kadang-kadang selalu menuntut siswa harus bisa menguasai pembelajaran. Siswa harus mampu, menguasai, memahami semua materi yang dihidangkan, sesuai indikator yang tertulis jelas dalam silabus. Daya tangkap siswa kadang beragam, tidak semuanya mampu memahami semua materi. Apalagi dalam rancangan siswa dituntut mampu menguasai semua pembelajaran. Apabila siswa tidak mampu menguasai pembelajaran, remedial sudah menghadang. Ketika siswa tidak mengikuti remedial, maka sangsi akan bicara. Secara otomatis mental siswa akan terganggu, dan permasalahan inilah yang akan timbul dalam kejenuhan seorang siswa.

Hampir setiap sekolah memiliki masalah ini dan hampir setiap sekolah tidak mampu mengatasi polemik ini. Kurikulum menuntut sekolah agar mampu mencetak generasi siswa yang religius dan berkarakter. Sedangkan sekolah menuntut guru untuk meracik siswa dalam kemasan pembelajaran agar mendapat predikat akreditasi yang baik, dan guru menuntut siswanya mampu menguasai semua materi pembelajaran. Pada akhirnya siswalah yang akan menjadi bulan-bulanan. Inilah masalah klasik yang tak pernah selesai.

Selama ini, guru banyak dihadapkan dengan tugas-tugas tambahan. Mengisi administrasi seorang pendidik. Misalnya saja, guru mengisi skp online, mengisi PMP, membuat publikasi ilmiah yang di luar jam mengajar. Apalagi dengan peraturan terbaru Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 guru harus memenuhi beban mengajar 40 jam perminggu. Kalau semua tidak direalisasikan, maka akan berdampak tertundanya kenaikan pangkat. Bahkan, akan adanya pemotongan hak dalam pemberian tunjangan. dan pada akhirnya keinginan mengajar serius kepada siswa banyak yang tersendat. 

Padahal seorang guru mengetahui betul apa yang diinginkan oleh siswanya, yang diinginkan siswa adalah bagaimana cara menggali bakat atau keinginan pembelajaran yang mereka sukai. bukan memaksakan kehendak atau yang tertulis sesuai peraturan yang ada. Selama ini hampir setiap sekolah tidak pernah memberikan kesempatan apa yang diinginkan siswa, hampir setiap sekolah belum menggali potensi bakat apa yang dimiliki siswa. Belum tentu siswa yang sering membuat masalah di sekolah dikatakan tidak pintar. Bisa saja ada bakat dan potensi yang terpendam yang belum diketahui oleh sekolah. Apabila sekolah dan guru tau apa yang diinginkan siswa dan mengetahui bakat dan potensi siswa, maka pastilah pembelajaran di sekolah pasti menyenangkan.

Jadi, kembali lagi dengan pertanyaan di awal apakah sekolah itu penting? Ya, tentu, dengan sekolah siswa akan diajarkan bagaimana berinteraksi dengan sesama maupun yang tua. Dengan sekolah siswa akan ditanamkan budi pekerti. Dengan sekolah, siswa akan diarahkan ke jenjang impian yang dicita-citakan oleh mereka.

Ar

Harian Radar Banjarmasin
Minggu, 8 Maret 2020
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

1 Komentar untuk "APAKAH SEKOLAH ITU PENTING DI ERA 4.0 "

Sunflower mengatakan...

ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
terimakasih ya waktunya ^.^

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel