Melodi Ukulele - Fathul
Rabu, 25 Mei 2016
Tulis Komentar
Ganasnya pancaran sinar raja siang benar-benar terasa memanggang kulit. Aroma butiran-butiran asin hasil ekskresi tubuh berkolaborasi dengan polusi yang bertebaran ria di udara. Suara klakson, peluit, deru mesin bus, dan semua suara manusia berbaur di terminal itu. Berisik sekali.
Di antara hiruk-pikuk itu, nampak
seorang bocah kurus yang baru saja turun dari bus putih tengah berjalan ke
sudut terminal. Di dadanya tergantung sebuah ukulele yang menjadi sahabat
hidupnya sejak empat tahun yang lalu. Sambil berjalan, ia membaca selembar
brosur yang ditemukannya saat mengamen di bus putih tadi.
“Hati-hati uang palsu. Kenali uang
anda dengan 3D. Dilihat, diraba, diterawang.” Bocah itu berpikir sejenak sambil
mengerutkan dahinya. Ia pun berusaha mengeluarkan uang kertas dari lubang
ukulelenya. Alhasil, selembar kertas kumal bergambar Kapten Pattimura bisa
dikeluarkan.
Bocah itu segera melakukan langkah-langkah
yang ada di brosur dari A sampai Z. Hingga akhirnya ia menyimpulkan bahwa uang
yang ditelitinya itu adalah uang asli. Ia tersenyum puas.
“Hmm, ternyata bukan uang palsu!”
seru bocah itu. Ia pun mencoba untuk mengeluarkan semua jerih payah yang
dikumpulkannya dalam ukulele. Tiga lembar uang seribuan dan lima keping uang
receh bernilai Rp. 200. Ketiga lembar uang seribuan itu segera ditelitinya.
“Hufft... untung uang asli.
Lumayanlah, bisa buat melunasi hutang-hutangku sama Bang Jamal.” Bocah itu
memasukkan semua uangnya ke saku celana. Sejenak ia menatap keramaian yang ada.
Orang-orang berlalu lalang dengan sibuknya. Disela-sela itu, beberapa anak
berseragam merah putih tengah asyik bersenda gurau sambil memegang es krim yang
ia tahu harganya lebih mahal daripada jerih payahnya hari ini.
“Seandainya saja aku seperti mereka”
ujarnya lirih. Pikirannya menerawang. Memorinya memutar ke masa silam. Hal yang
pertama kali muncul dalam ingatannya adalah ayah dan ibunya. Pikirnya mengharap
ada seorang ibu mengulum senyum menyambut kedatangannya usai sekolah. Kalau pun
tidak, tak apa sesuruh kalimat untuk membantu merapikan rumah.
Bocah bernama Damar itu telah
terbiasa tidur berselimut dinginnya udara malam. Meski sebenarnya ia memiliki
tempat tinggal yang kurang layak, ia lebih memilih menghabiskan malamnya di
luar rumah. Dengan alas-alas emperan yang khas bagai kasur besi. Serta
suara-suara kenalpot kendaraan yang meninabobokannya. Sumpah serapah pemilik
toko yang selalu setia membangunkan tubuh kurus kumalnya. Adalah sebuah
penjelasan yang tak lagi perlu digali untuk dimengerti. Juga mempertanyakan
ayah ibunya. Bukti nelangsa keras hidupnya.
Empat tahun silam saat merah putih
masih mengena ditubuhnya, tamparan kencang melayang jelas di depan matanya
membawa pergi bahagia miliknya. Menghilang. Tanpa sempat menjelaskan bengongnya
menatap apa sesungguhnya arti tamparan di wajah ibu, nada suara murka ayahnya,
dan surat-surat resmi yang tak bisa ia baca. Empat tahun silam itu yang kini
membuat Damar entah sampai kapan terpenjara di jeruji dunia jalanan.
Damar segera menyeka air matanya
saat mendengar derap langkah seseorang mendekat ke arahnya. Lamunannya buyar
seketika. Merasa malu jika terlihat cengeng, Damar hanya pura-pura menunduk.
Suara derap sepatu itu semakin mendekat. Aroma parfum yang nampak menyengat pun
mulai tercium. Damar yang masih menunduk hanya bisa melihat sepasang sepatu kulit yang terlihat
mahal berhenti di depannya. Tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh kepalanya.
“Ambillah,” ucap seorang pria
berkemeja kuning yang tak lain adalah pemilik suara derap langkah kaki yang
sempat membuyarkan lamunannya. Diraihnya tangan Damar tanpa permisi dengan
tangan kirinya dan segera ia menyelipkan sesuatu di sana. “Sepertinya kamu belum
sarapan.” Sambung pria itu sambil berlalu. Damar hanya ternganga. Ia
benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.
Selembar uang biru yang bergambar I Gusti Ngurah Rai berada di tangannya.
Cepat-cepat ia berdiri, mencari sesosok pria berkemeja kuning tadi. Ternyata
pria itu sudah melangkah kira-kira sejauh lima meter ke arah selatan.
“Bapak! Bapak kemeja kuning! Terima kasih!”
teriak Damar sekeras mungkin. Mendengar suara Damar, pria itu hanya mengangkat
tangan kirinya tanpa membalikkan badan. Damar hanya bisa berteriak kegirangan.
Orang-orang yang lewat di dekatnya hanya menatapnya sekilas dengan raut muka
yang berbeda-beda. Damar sama sekali tak peduli dengan semua ekspresi wajah di
sekelilingnya.
Bergegas ia mengalungkan ukulelenya,
kemudian melangkah ringan menuju tempat yang tak pernah lupa ia kunjungi.
***
“Assalamu’alaikum Bang Jamal!” seru
Damar mengejutkan seorang pria tambun yang masih duduk menghitung uang di meja
kasir.
“Eh copot eh copot!” spontan Bang
Jamal terkejut di kursinya. Damar hanya tertawa geli melihat tingkah Bang
Jamal.
“Aduh,
wa’alaikumussalam! Wah, jahil banget sih, kamu!” ujar Bang Jamal dengan
suaranya yang khas.
“Hahaha...
maaf Bang! Lagian sudah lama kan, kita nggak bercandaan?” ujar Damar sambil
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bang Jamal menatap Damar lamat-lamat.
Celotehannya barusan sedikit menyentak pikirannya. Ya, seingatnya bocah di
hadapannya ini terakhir kali tertawa saat dua bulan sebelum orang tuanya
menyatakan berpisah empat tahun yang lalu. Ia ingat hari itu adalah hari
pertama Damar masuk sekolah dasar. Hari itu, semua pelanggan yang makan di
restorannya langsung ditraktir orang tua Damar. Namun setelah itu, ia dengar
keharmonisan keluarga Damar telah hancur. Dan dari hari itulah Damar selalu
datang ke restorannya dengan segala
curahan hati yang memilukan.
“Bang, hutangku masih berapa ya?”
tanya Damar tiba-tiba. Seulas senyum mengembang di wajah Bang Jamal.
“Mar,
aku tahu hutangmu belum lunas, dan tidak apa-apa. Makanlah dengan menu yang
engkau mau. Jangan anggap aku seperti orang lain begitu.” Liriknya teduh
memandang Damar yang wajahnya memerah, sungkan. Setiap kali datang, setelah
salam, kata yang mengawali dari mulut bocah 10 tahun ini adalah meminta maaf
karena selalu datang dan belum juga melunasi hutang-hutangnya.
“Hmmm, tapi Bang, hari ini aku mau
membayar sebagian hutang-hutangku. Aku sudah mengumpulkan uang tabungan, kok.
Terus tadi aku dapat rejeki lumayan nih!” jelas Damar sambil merogoh saku
celananya. Selembar uang lima puluh ribu dibentangkannya di hadapan Bang Jamal.
“Tenang
saja Tuan Jamal, karena semua uangku dijamin halal dan tidak palsu” katanya
bergurau, menghentakkan meja dengan tangan kanan serta menegakkan tubuhnya
macam bos berwibawa.
“Hahaha...
baiklah. Silakan duduk, Tuan Jalanan. Saya ambilkan dulu sajian teristimewa
untuk anda.” Bang Jamal membalas gurauan Damar sambil beranjak menuju dapur.
Pemilik restoran yang usianya terpaut 14 tahun dengan Damar ini layaknya teman
akrab bagi Damar.
Tak lama kemudian, Bang Jamal datang
dengan membawa dua porsi ikan bakar. Satu untuk Damar dan satunya lagi untuk
dirinya sendiri. Sekalian makan siang bersama sahabat kecilku, pikirnya.
Setelah piring sajian itu diletakkan di hadapan Damar, tanpa babibu Damar
langsung menyantapnya dengan lahap. Sendok yang disediakan dalam piring itu
dipinggirkannya. Dan hanya beberapa menit ke depan Damar mampu menandaskan
sepiring porsi makan siang yang juga mewakili sarapannya.
“Bang, tadi aku baca brosur. Katanya
kita harus hati-hati dengan uang palsu.” Kata Damar setelah meneguk air
minumnya yang sekaligus mengakhiri episode makan siangnya kali itu.
“Oh
ya? Tapi Abang yakin dengan uang yang Abang dapat itu asli semua. Soalnya dari
zaman Abang kecil, restoran ini tidak pernah punya pelanggan yang dzolim Mar.” Damar
hanya manggut-manggut.
“Tapi
Bang, hal-hal seperti itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Jadi Abang
juga harus tetap waspada.”
Giliran Bang Jamal yang manggut-manggut.
“Hmm, benar juga kamu. Oke deh, nanti Abang coba periksa. Kamu tidak ingin
pulang menjenguk ayahmu? Rasanya hampir dua bulan kamu belum pulang ke rumah.”
Tanya Bang Jamal. Mendengaar kata “ayah”, hati Damar terasa tersentil. Ya, dia
telah melupakan seseorang yang ikut menjadi tokoh dalam cerita hidupnya : ayah
tirinya.
Ah, lelaki yang tak pernah berani membuatku
menangis. Rambut ikalnya pernah kujambak ketika pertamakali kulihat ia berani
menyentuh tangan ibu. Tubuhnya yang kurus namun tegap itu pernah menggendongku
yang terus memukul-mukul bahunya di hari pemakaman ibu. Lelaki berkulit cokelat
yang selalu menyambutku dengan senyuman ketika aku datang untuk menginap barang
semalam-dua malam di rumahnya. Bagaimana kabarnya hari ini? Batin Damar.
“Terakhir Abang lihat ayahmu sedang mengaduk
semen di bangunan yang berada di seberang masjid sana. Tapi setelah bangunannya
selesai, Abang belum pernah ketemu lagi. Apakah kamu sudah pulang dalam
minggu-minggu ini?” tanya Bang Jamal yang nampaknya secara tidak langsung ingin
menyuruh Damar untuk menemui ayah tirinya. Damar hanya menggeleng lemah seraya
menyunggingkan senyum kecil.
“Tapi setelah ini aku mau pulang ke
rumah, Bang.” jawab Damar seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Oh iya Bang, nih uangnya.” Kata
Damar seraya menyodorkan uang berwarna birunya. Bang Jamal hanya tersenyum
simpul, kemudian menolak pemberian Damar secara halus.
“Simpanlah dulu, urusan hutang bisa
dibayar belakangan.”
***
Damar menghentikan langkahnya. Dipandanginya
sebuah rumah kecil yang atap bagian depannya agak terkuak. Teras kecil yang
berhiaskan stempel-stempel kotor kaki ayam, pot-pot bunga kosong yang ditumpuk di
sudut teras, dan beberapa sarang laba-laba yang entah kemana penghuninya
berhijrah. Di depannya ada sebuah bangku yang menghadap ke jalan. Damar
menghela nafas, membatin akhirnya ia kembali ke rumah yang menyimpan potongan
kisah masa lalunya. Ia benar-benar tak ingat kapan terakhir kali ia menginjak
rumah ini. Sambil melangkah ke daun pintu, ia mencoba mengingat-ingat seberapa
lama ia tak pulang.
Sebelum sempat Damar mengetuk pintu,
seorang laki-laki paruh baya sudah membuka pintunya lebih dahulu. Damar
mengangkat wajahnya. Didapatinya seulas senyuman dari laki-laki yang berbadan
kurus-tegap itu. Senyuman yang sama setiap kali ia datang ke rumah itu.
“Akhirnya kau pulang nak. Ayo masuk,
bersihkan badanmu.” Ucap laki-laki yang Damar tahu betul akan kebaikan hatinya.
Meski begitu, entah mengapa ia masih merasa canggung jika hendak memanggilnya
dengan sebutan ayah.
“Baik. Terimakasih” jawab Damar
sekenanya.
“Ayah mau berangkat kerja dulu. Kamu
istirahat saja di rumah. Kalau mau makan buka tudung sajinya. Masih ada nasi
dan sedikit sayur kangkung.” Ujar ayah Damar sambil bergegas memakai sepatu
boatnya.
“Iya, terimakasih.” Sahut Damar yang
masih berdiri di dekat daun pintu.
Sejenak ayah menatap Damar, kemudian
tersenyum sebentar dan segera beranjak ke tempat kerjanya.
***
Nostalgia dengan luka lamanya telah
usai. Damar kembali menari dengan nada keras petikan ukulele. Ia tutup hari
yang setengah membuatnya geram dan setengah menyenangkan itu di rumah Ibu yang
kini sudah tiada, menyisakan wajah seorang pria yang ia sendiri pun bingung
menyebutnya sebagai apa.
Damar
melawan terik. Berjalan sendiri menuju restoran Bang Jamal yang memang tak
terlalu jauh dari terminal dengan ukulele yang menggantung slempangan di bahu
kirinya. Di tengah perjalanan, matanya menangkap sesosok lelaki yang tak lagi
asing diingatannya. Tatapan Damar masih seheran seperti kali pertama ia melihat
orang itu memeberinya uang. Ya, itu adalah bapak berkemeja kuning! Hanya saja
hari ini ia menggunakan topi bundar, jas hitam, celana jins, dan sepatu lancip
di ujungnya. Mode pakaian yang berbeda seperti waktu itu, batin Damar.
Langkah
keduanya semakin mendekat, Damar masih bingung hendak memberi respon apa atas
matanya yan menangkap sosok itu. Sesekali Damar menggigit bibir bawahnya,
hingga hembus aroma parfum lelaki itu tertinggal di nafas yang masih berpikir.
Akhirnya lelaki topi bundar itu melewatinya begitu saja dan menghilang. Namun
garis wajah dan khas cara berjalan yang memincang masih terlintas lekat
diingatan Damar. Bunyi guntur seketika mengejutkannya.
“Astaga,
mendung? Baru saja hari terasa sangat panas.” Gumamnya sambil bersicepat dengan
kedua langkahnya menuju restoran Bang Jamal. Tubuh kurus kumalnya melesat,
menghilang di sela keramaian.
Dari
kejauhan Bang Jamal terlihat sedang bersantai. Namun terlihat aneh. Duduknya
yang lapang seketika berbalik dengan mengamati selembar uang seratus ribuan
yang masih memerah, bersih tanpa ada satu garis kumal pun. Damar sudah berniat
mengejutkannya dari kejauhan, tetapi niat itu ia urungkan ketika melihat Bang
Jamal begitu lamat-lamat menatap selembar uang.
“Bang
Jamal, ada apa?” tanyanya singkat. Bang Jamal pun menoleh.
“Aku
heran Mar. Belakangan ini ada seorang pelanggan yang selalu membayar dengan
uang seratus ribuan yang tidak ada sedikit pun garis-garis kumal, rapi!
Bukannya aku tidak bersyukur Mar, tapi ini aneh bukan?” jelas Bang Jamal seraya
menunjukkan lima lembar uang bernilai Rp. 100.000 yang terlihat baru semua.
Damar
mengamati uang yang ditunjukkan Bang Jamal. Diambilnya selembar uang itu,
kemudian ditelitinya dengan ilmu 3D yang pernah dibacanya dalam brosur. Dan
benar saja, ada yang aneh di sana.
“Wah!
Ini uang palsu Bang! Coba Abang bandingkan dengan uang lainnya! Harusnya gambar
lambang negara ini terasa kasar, tapi ini tidak, terlalu mulus!”
Bang
Jamal nampak terkejut sekali. Tanpa bertanya dua kali ia mengeluarkan dompet
yang ada di saku celananya. Dikeluarkannya dua lembar uang ratusan ribu,
kemudian dibandingkannya dengan uang yang mencurigakan itu. Alhasil, Bang Jamal
hanya bungkam. Ia benar-benar tak dapat menyangkal ucapan Damar.
“Apakah
Abang ingat bagaimana ciri-cirinya?” tanya Damar menyelidik.
“Entahlah
Mar, Abang rasa orangnya yang sering gonta-ganti mode itu. Pokoknya dia
bapak-bapak yang sering pesan di meja nomor empat waktu makan siang. Kalau
tidak salah, Abang sering lihat dia pakai sepatu kulit.” jawab Bang Jamal
dengan lemas.
Damar
mengangkat alisnya. Orang yang sering gonta-ganti mode? Sepatu kulit? Apakah
bapak yang pernah memberinya uang lima puluh ribu itu? Batinnya. Damar pun
merogoh saku celananya yang ia kenakan. Tadi pagi ia sempat menyelipkan uang
lima puluh ribunya sebelum keluar rumah.
Ia
pun meraba bagian gambar burung garudanya. Mulus sekali. Damar hanya bisa menghela nafas.
“Dan
satu hal lagi, dia seorang kidal. Karena setiap kali membayarkan uang ke kasir,
dia selalu pakai tangan kiri.” Tambah Bang Jamal.
***
Langit kelabu meneduhi angin yang
memainkan anak rambut ikal Damar. Usai mengamen di sebuah bus, ia duduk di
tempat yang dimana ia diberi uang oleh lelaki berkemeja kuning dahulu. Tepat
sekali, siang itu si lelaki itu tampak keluar dari restoran Bang Jamal. Mata Damar
mulai mengintainya. Pikirannya mengintrogasi dalam batinnya sendiri.
Lelaki itu mengenakan celana pendek
sebatas lutut dengan sepatu kulit yang sama. Kali ini dia memakai kaos oblong
berwarna hitam. Damar menatapnya dengan waspada. Ketika lelaki itu mulai
berjalan ke arah timur, Damar pun mulai mengikutinya.
Suara guntur mulai terdengar dari
langit. Nampaknya hari akan segera hujan. Raja siang bagai bersembunyi di balik
awan-awan hitam yang menggantung. Namun, semua itu tak dapat mematahkan nyali
seorang Damar. Hingga rinai hujan mulai turun ke bumi, Damar masih tetap
mengikuti kemana langkah lelaki pengedar uang palsu itu pergi.
Laki-laki itu menuju terminal. Nampaknya
ia hendak naik bus yang berada di bagian kiri terminal. Benar saja, ia mulai
masuk ke bus merah yang sudah mulai berjalan. Dengan cekatan Damar melompat ke
bus itu.
“Permisi bapak-bapak, ibu-ibu,
mas-mas, dan mbak-mbak yang berbahagia. Izinkan saya untuk membawakan lagu
karangan saya sendiri yang berjudul Rupiah Palsu.” Ucap Damar seraya melirik ke
arah laki-laki yang tengah dikejarnya. Wajah laki-laki itu agak terkejut, meski
setelah itu ia bersikap santai dengan menyilangkan tangannya.
Suara petikan senar ukulele Damar mulai
beralun. Dengan piawai Damar memainkan alat musik itu dengan sempurna. Para
penumpang yang awalnya tak mengindahkan suara Damar kini mulai menolehkan
pandangannya ke arah bocah kurus kumal itu.
Perutku
berbunyi...
Merindukan sesuap nasi
Ke mana aku harus pergi
Ukulele kembali
memelodi
Rupiah...!! oh
rupiah...!!
Recehan dan kertas yang
kumal
Asal halal...
Rupiah palsu...!!
Menyelip di celanaku
Membuat durja abangku
Membuang sedih
Membawa bahagia
nestapa...
“Pak, bisa berhenti di sini?” ucap
laki-laki itu. Deru mesin bus itu pun berhenti. Bergegas laki-laki itu membayar
uang ke kernet yang berdiri di pintu belakang. Melihat itu, Damar jadi kurang
fokus. Jika ia berhenti mengamen dan langsung turun sekarang, tentu itu
terlihat ganjil. Namun, jika ia meneruskan lagunya, bagaimana caranya agar ia
tak kehilangan jejak laki-laki itu?
Bingung harus bagaimana, Damar pun menghentikan
musiknya. Para penumpang yang tadinya tengah asyik menikmati alunan musik
ukulele Damar, kini mulai gaduh karena heran mengapa Damar tiba-tiba berhenti
bermain musik. Damar tak mempedulikan semua itu. Ia hanya memperhatikan
laki-laki yang diincarnya itu mulai menyebrang jalan dari kaca spion bus itu.
Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan para penumpang, Damar langsung melompat
keluar dari bus yang mulai berjalan itu. Sama sekali tak dihiraukannya
umpatan-umpatan dari kernet bus yang sempat tersenggol oleh Damar.
Mata Damar memandang tajam ke
sebrang jalan. Dicarinya sosok lelaki pengedar uang palsu itu. Namun, ia sama
sekali tak menemukan batang hidungnya. Kemana ia pergi? Batinnya. Damar
berjalan cepat ke arah kanan. Matanya masih menatap tajam ke seberang jalan.
Sebuah sedan hitam berhenti di depan
salon yang berada di seberang jalan. Di sela-sela padatnya lalu lintas, Damar
tetap berusaha mengintai dengan teliti bagai detektiv professional. Dan saat
itulah tanpa sengaja Damar melihat lelaki berkaos oblong hitam yang mengenakan
sepatu kulit masuk ke sedan hitam itu.
“Ah! Itu dia!” seru Damar.
Segera Damar berlari ke zebra cross
yang terletak sekitar sepuluh meter dari tempatnya sekarang, seraya berdo’a
semoga ia masih bisa sempat menyeberang. Sejenak ia terengah-engah. Diliriknya
lampu merah yang masih menyala.
“Masih ada kesempatan!” gumam Damar.
Damar langsung berlari menyebrangi
jalan raya. Dan pada waktu yang bersamaan, sebuah ambulan yang membawa pasien
kritis dari ujung jalan melintas di jalan itu dengan kecepatan tinggi.
Siang itu, hujan turun dan membelai
Damar yang terpental di dekat trotoar dan ukulelenya yang belum terisi rupiah
sepeser pun.
***
“Damar! Damar!” pekik Bang Jamal
saat para perawat memasukkan Damar ke ruang ICU. Air matanya masih saja
berlinangan sejak seorang tetangganya mengabarkan bahwa Damar mengalami
kecelakaan di jalan raya.
Seorang laki-laki berambut ikal
termenung di ruang tunggu. Dipangkunya sebuah ukulele milik anak yang sangat
disayanginya dengan diam. Entah apa yang berkecamuk dipikirannya, tak ada yang
tahu. Sekilas ia menengok Bang Jamal yang masih menangis di depan ruang ICU.
Laki-laki kurus tegap itu kemudian berdiri.
Ia melangkah keluar meninggalkan rumah sakit sambil menyeka air matanya.
***
“Aron, tolong kondisikan semuanya
ya? Saya mau ke rumah sakit.” Ucap Bang Jamal kepada salah seorang karyawannya
sambil meraih kunci sepeda motor yang ada di meja kasir.
Bang Jamal melenggang keluar dari restorannya.
Sekilas ia melirik meja nomor empat yang biasanya ditempati seorang laki-laki
bersepatu kulit yang dicurigainya. Namun entah mengapa sejak Damar kecelakaan,
orang itu tak pernah lagi bertandang ke restorannya. Bang Jamal pun melaju
dengan motor hitamnya. Rumah sakit tempat Damar dirawat memang tidak terlalu
jauh, mungkin sekitar lima kilo meter dari restoran.
Sesampainya di rumah sakit, Bang
Jamal melangkah menuju ke bagian administrasi untuk melunasi biaya perawatan
Damar. Sedangkan di ruang perawatan Damar sudah merapikan segalanya, meski pun
perban masih membalut di tangan kanannya.
“Sudah siap, Mar?” tanya Bang Jamal
usai dari bagian administrasi.
Belum lagi Damar sempat menjawab,
suara parau kebapakan mengejutkan keduanya.
“Damar”
Bang Jamal menoleh ke belakang.
Melihat wajahnya, rasa geram yang sudah tertanam dalam hatinya kepada lelaki
itu pun akhirnya tak bisa ditahannya lagi. Amarahnya meluap. Macam terpedaya
bisikan iblis terkutuk.
Wussshhh...
seketika hembusan angin terasa di wajah Damar, dan, plakk!!! Hantaman keras
tepat mengenai pipi kiri yang disusul aliran darah dari bibir lelaki berbadan
kurus tegap.
“Kemana
saja kau?! Dasar biadab! Anakmu terkulai lemas sedangkan kau hilang begitu saja.
Kau memang tak pantas menjadi seorang ayah!” maki Bang Jamal dengan pedas.
Lelaki
itu memandang Damar sebentar. Disodorkannya ukulele kepada Bang Jamal
yang berisi hasil jerih payah yang dikumpulkannya selama ia menghilang dari
Damar dan Bang Jamal. Menjelaskan pun sepertinya tak berguna lagi, pikir lelaki
itu.
“Ini.
Sisanya akan kubayar nanti.” Ucapnya dengan nada tabah.
Bang
Jamal tercengang. Dilihatnya lubang ukulele
itu dipenuhi rupiah. Damar yang sedari tadi tak tahu harus berbuat apa,
seketika menghambur ke arah lelaki kurus tegap itu dengan perasaan haru.
“Ayah!”
***
Kesenduan sudah berganti. Hubungan
antara Damar, ayah tirinya, dan Bang Jamal sudah membaik. Kini Damar tak lagi
mencari rupiah dengan petikan melodi ukulele. Bang Jamal telah berbaik hati
mengasuhnya dengan segala keperluan seusianya. Demi merajut masa depan yang
lebih baik, ayah Damar pun pergi ke negeri jiran sebagai TKI.
Sedangkan disela kesibukan restoran
sederhana milik Bang Jamal, Aron menyodorkan secangkir kopi kepada seorang
pemuda di meja nomor empat. Peasanan yang menjadi favorit ketika musim hujan
seperti saat ini.
“Terima kasih, mas” ucap pelanggan
yang nampaknya seorang mahasiswa itu.
Tujuh
menit bersama secangkir kopi dan selembar koran itu pun berakhir tepat
ditegukan terakhirnya. Bergegas pemuda itu meninggalkan meja nomor empat
setelah melirik jam tangannya. Langkahnya bersicepat dengan waktu, dan karena
hujan yang sebentar lagi akan turun.
Lipatan koran di atas meja itu
bergambar wajah seseorang menunduk menyimpan kesalahan. Di atasnya tertulis
‘BURONAN PENGEDAR UANG PALSU AKHIRNYA DITEMUKAN’.

Belum ada Komentar untuk "Melodi Ukulele - Fathul "
Posting Komentar