google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A Melodi Ukulele - Fathul - PULPENWANKERTAS

Melodi Ukulele - Fathul


         
   Ganasnya pancaran sinar raja siang benar-benar terasa memanggang kulit. Aroma butiran-butiran asin hasil ekskresi tubuh berkolaborasi dengan polusi yang bertebaran ria di udara. Suara klakson, peluit, deru mesin bus, dan semua suara manusia berbaur di terminal itu. Berisik sekali.
            Di antara hiruk-pikuk itu, nampak seorang bocah kurus yang baru saja turun dari bus putih tengah berjalan ke sudut terminal. Di dadanya tergantung sebuah ukulele yang menjadi sahabat hidupnya sejak empat tahun yang lalu. Sambil berjalan, ia membaca selembar brosur yang ditemukannya saat mengamen di bus putih tadi.
            “Hati-hati uang palsu. Kenali uang anda dengan 3D. Dilihat, diraba, diterawang.” Bocah itu berpikir sejenak sambil mengerutkan dahinya. Ia pun berusaha mengeluarkan uang kertas dari lubang ukulelenya. Alhasil, selembar kertas kumal bergambar Kapten Pattimura bisa dikeluarkan.
            Bocah itu segera melakukan langkah-langkah yang ada di brosur dari A sampai Z. Hingga akhirnya ia menyimpulkan bahwa uang yang ditelitinya itu adalah uang asli. Ia tersenyum puas.
            “Hmm, ternyata bukan uang palsu!” seru bocah itu. Ia pun mencoba untuk mengeluarkan semua jerih payah yang dikumpulkannya dalam ukulele. Tiga lembar uang seribuan dan lima keping uang receh bernilai Rp. 200. Ketiga lembar uang seribuan itu segera ditelitinya.
            “Hufft... untung uang asli. Lumayanlah, bisa buat melunasi hutang-hutangku sama Bang Jamal.” Bocah itu memasukkan semua uangnya ke saku celana. Sejenak ia menatap keramaian yang ada. Orang-orang berlalu lalang dengan sibuknya. Disela-sela itu, beberapa anak berseragam merah putih tengah asyik bersenda gurau sambil memegang es krim yang ia tahu harganya lebih mahal daripada jerih payahnya hari ini.
            “Seandainya saja aku seperti mereka” ujarnya lirih. Pikirannya menerawang. Memorinya memutar ke masa silam. Hal yang pertama kali muncul dalam ingatannya adalah ayah dan ibunya. Pikirnya mengharap ada seorang ibu mengulum senyum menyambut kedatangannya usai sekolah. Kalau pun tidak, tak apa sesuruh kalimat untuk membantu merapikan rumah.
            Bocah bernama Damar itu telah terbiasa tidur berselimut dinginnya udara malam. Meski sebenarnya ia memiliki tempat tinggal yang kurang layak, ia lebih memilih menghabiskan malamnya di luar rumah. Dengan alas-alas emperan yang khas bagai kasur besi. Serta suara-suara kenalpot kendaraan yang meninabobokannya. Sumpah serapah pemilik toko yang selalu setia membangunkan tubuh kurus kumalnya. Adalah sebuah penjelasan yang tak lagi perlu digali untuk dimengerti. Juga mempertanyakan ayah ibunya. Bukti nelangsa keras hidupnya.
            Empat tahun silam saat merah putih masih mengena ditubuhnya, tamparan kencang melayang jelas di depan matanya membawa pergi bahagia miliknya. Menghilang. Tanpa sempat menjelaskan bengongnya menatap apa sesungguhnya arti tamparan di wajah ibu, nada suara murka ayahnya, dan surat-surat resmi yang tak bisa ia baca. Empat tahun silam itu yang kini membuat Damar entah sampai kapan terpenjara di jeruji dunia jalanan.
            Damar segera menyeka air matanya saat mendengar derap langkah seseorang mendekat ke arahnya. Lamunannya buyar seketika. Merasa malu jika terlihat cengeng, Damar hanya pura-pura menunduk. Suara derap sepatu itu semakin mendekat. Aroma parfum yang nampak menyengat pun mulai tercium. Damar yang masih menunduk hanya bisa  melihat sepasang sepatu kulit yang terlihat mahal berhenti di depannya. Tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh kepalanya.
            “Ambillah,” ucap seorang pria berkemeja kuning yang tak lain adalah pemilik suara derap langkah kaki yang sempat membuyarkan lamunannya. Diraihnya tangan Damar tanpa permisi dengan tangan kirinya dan segera ia menyelipkan sesuatu di sana. “Sepertinya kamu belum sarapan.” Sambung pria itu sambil berlalu. Damar hanya ternganga. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. Selembar uang biru yang bergambar I Gusti Ngurah Rai berada di tangannya. Cepat-cepat ia berdiri, mencari sesosok pria berkemeja kuning tadi. Ternyata pria itu sudah melangkah kira-kira sejauh lima meter ke arah selatan.
            “Bapak! Bapak kemeja kuning! Terima kasih!” teriak Damar sekeras mungkin. Mendengar suara Damar, pria itu hanya mengangkat tangan kirinya tanpa membalikkan badan. Damar hanya bisa berteriak kegirangan. Orang-orang yang lewat di dekatnya hanya menatapnya sekilas dengan raut muka yang berbeda-beda. Damar sama sekali tak peduli dengan semua ekspresi wajah di sekelilingnya.
            Bergegas ia mengalungkan ukulelenya, kemudian melangkah ringan menuju tempat yang tak pernah lupa ia kunjungi.
***
            “Assalamu’alaikum Bang Jamal!” seru Damar mengejutkan seorang pria tambun yang masih duduk menghitung uang di meja kasir.
            “Eh copot eh copot!” spontan Bang Jamal terkejut di kursinya. Damar hanya tertawa geli melihat tingkah Bang Jamal.
“Aduh, wa’alaikumussalam! Wah, jahil banget sih, kamu!” ujar Bang Jamal dengan suaranya yang khas.
“Hahaha... maaf Bang! Lagian sudah lama kan, kita nggak bercandaan?” ujar Damar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bang Jamal menatap Damar lamat-lamat. Celotehannya barusan sedikit menyentak pikirannya. Ya, seingatnya bocah di hadapannya ini terakhir kali tertawa saat dua bulan sebelum orang tuanya menyatakan berpisah empat tahun yang lalu. Ia ingat hari itu adalah hari pertama Damar masuk sekolah dasar. Hari itu, semua pelanggan yang makan di restorannya langsung ditraktir orang tua Damar. Namun setelah itu, ia dengar keharmonisan keluarga Damar telah hancur. Dan dari hari itulah Damar selalu datang ke restorannya dengan segala  curahan hati yang memilukan.
            “Bang, hutangku masih berapa ya?” tanya Damar tiba-tiba. Seulas senyum mengembang di wajah Bang Jamal.
“Mar, aku tahu hutangmu belum lunas, dan tidak apa-apa. Makanlah dengan menu yang engkau mau. Jangan anggap aku seperti orang lain begitu.” Liriknya teduh memandang Damar yang wajahnya memerah, sungkan. Setiap kali datang, setelah salam, kata yang mengawali dari mulut bocah 10 tahun ini adalah meminta maaf karena selalu datang dan belum juga melunasi hutang-hutangnya.
            “Hmmm, tapi Bang, hari ini aku mau membayar sebagian hutang-hutangku. Aku sudah mengumpulkan uang tabungan, kok. Terus tadi aku dapat rejeki lumayan nih!” jelas Damar sambil merogoh saku celananya. Selembar uang lima puluh ribu dibentangkannya di hadapan Bang Jamal.
“Tenang saja Tuan Jamal, karena semua uangku dijamin halal dan tidak palsu” katanya bergurau, menghentakkan meja dengan tangan kanan serta menegakkan tubuhnya macam bos berwibawa.
“Hahaha... baiklah. Silakan duduk, Tuan Jalanan. Saya ambilkan dulu sajian teristimewa untuk anda.” Bang Jamal membalas gurauan Damar sambil beranjak menuju dapur. Pemilik restoran yang usianya terpaut 14 tahun dengan Damar ini layaknya teman akrab bagi Damar.
            Tak lama kemudian, Bang Jamal datang dengan membawa dua porsi ikan bakar. Satu untuk Damar dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Sekalian makan siang bersama sahabat kecilku, pikirnya. Setelah piring sajian itu diletakkan di hadapan Damar, tanpa babibu Damar langsung menyantapnya dengan lahap. Sendok yang disediakan dalam piring itu dipinggirkannya. Dan hanya beberapa menit ke depan Damar mampu menandaskan sepiring porsi makan siang yang juga mewakili sarapannya.
            “Bang, tadi aku baca brosur. Katanya kita harus hati-hati dengan uang palsu.” Kata Damar setelah meneguk air minumnya yang sekaligus mengakhiri episode makan siangnya kali itu.
“Oh ya? Tapi Abang yakin dengan uang yang Abang dapat itu asli semua. Soalnya dari zaman Abang kecil, restoran ini tidak pernah punya pelanggan yang dzolim Mar.” Damar hanya manggut-manggut.
“Tapi Bang, hal-hal seperti itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Jadi Abang juga harus tetap waspada.”
            Giliran Bang Jamal yang manggut-manggut. “Hmm, benar juga kamu. Oke deh, nanti Abang coba periksa. Kamu tidak ingin pulang menjenguk ayahmu? Rasanya hampir dua bulan kamu belum pulang ke rumah.” Tanya Bang Jamal. Mendengaar kata “ayah”, hati Damar terasa tersentil. Ya, dia telah melupakan seseorang yang ikut menjadi tokoh dalam cerita hidupnya : ayah tirinya.       
            Ah, lelaki yang tak pernah berani membuatku menangis. Rambut ikalnya pernah kujambak ketika pertamakali kulihat ia berani menyentuh tangan ibu. Tubuhnya yang kurus namun tegap itu pernah menggendongku yang terus memukul-mukul bahunya di hari pemakaman ibu. Lelaki berkulit cokelat yang selalu menyambutku dengan senyuman ketika aku datang untuk menginap barang semalam-dua malam di rumahnya. Bagaimana kabarnya hari ini? Batin Damar.  
             “Terakhir Abang lihat ayahmu sedang mengaduk semen di bangunan yang berada di seberang masjid sana. Tapi setelah bangunannya selesai, Abang belum pernah ketemu lagi. Apakah kamu sudah pulang dalam minggu-minggu ini?” tanya Bang Jamal yang nampaknya secara tidak langsung ingin menyuruh Damar untuk menemui ayah tirinya. Damar hanya menggeleng lemah seraya menyunggingkan senyum kecil.
            “Tapi setelah ini aku mau pulang ke rumah, Bang.” jawab Damar seraya beranjak dari tempat duduknya.
            “Oh iya Bang, nih uangnya.” Kata Damar seraya menyodorkan uang berwarna birunya. Bang Jamal hanya tersenyum simpul, kemudian menolak pemberian Damar secara halus.
            “Simpanlah dulu, urusan hutang bisa dibayar belakangan.”
***
            Damar menghentikan langkahnya. Dipandanginya sebuah rumah kecil yang atap bagian depannya agak terkuak. Teras kecil yang berhiaskan stempel-stempel kotor kaki ayam, pot-pot bunga kosong yang ditumpuk di sudut teras, dan beberapa sarang laba-laba yang entah kemana penghuninya berhijrah. Di depannya ada sebuah bangku yang menghadap ke jalan. Damar menghela nafas, membatin akhirnya ia kembali ke rumah yang menyimpan potongan kisah masa lalunya. Ia benar-benar tak ingat kapan terakhir kali ia menginjak rumah ini. Sambil melangkah ke daun pintu, ia mencoba mengingat-ingat seberapa lama ia tak pulang.
            Sebelum sempat Damar mengetuk pintu, seorang laki-laki paruh baya sudah membuka pintunya lebih dahulu. Damar mengangkat wajahnya. Didapatinya seulas senyuman dari laki-laki yang berbadan kurus-tegap itu. Senyuman yang sama setiap kali ia datang ke rumah itu.
            “Akhirnya kau pulang nak. Ayo masuk, bersihkan badanmu.” Ucap laki-laki yang Damar tahu betul akan kebaikan hatinya. Meski begitu, entah mengapa ia masih merasa canggung jika hendak memanggilnya dengan sebutan ayah.
            “Baik. Terimakasih” jawab Damar sekenanya.
            “Ayah mau berangkat kerja dulu. Kamu istirahat saja di rumah. Kalau mau makan buka tudung sajinya. Masih ada nasi dan sedikit sayur kangkung.” Ujar ayah Damar sambil bergegas memakai sepatu boatnya.  
            “Iya, terimakasih.” Sahut Damar yang masih berdiri di dekat daun pintu.
            Sejenak ayah menatap Damar, kemudian tersenyum sebentar dan segera beranjak ke tempat kerjanya.
***
            Nostalgia dengan luka lamanya telah usai. Damar kembali menari dengan nada keras petikan ukulele. Ia tutup hari yang setengah membuatnya geram dan setengah menyenangkan itu di rumah Ibu yang kini sudah tiada, menyisakan wajah seorang pria yang ia sendiri pun bingung menyebutnya sebagai apa.
Damar melawan terik. Berjalan sendiri menuju restoran Bang Jamal yang memang tak terlalu jauh dari terminal dengan ukulele yang menggantung slempangan di bahu kirinya. Di tengah perjalanan, matanya menangkap sesosok lelaki yang tak lagi asing diingatannya. Tatapan Damar masih seheran seperti kali pertama ia melihat orang itu memeberinya uang. Ya, itu adalah bapak berkemeja kuning! Hanya saja hari ini ia menggunakan topi bundar, jas hitam, celana jins, dan sepatu lancip di ujungnya. Mode pakaian yang berbeda seperti waktu itu, batin Damar.
Langkah keduanya semakin mendekat, Damar masih bingung hendak memberi respon apa atas matanya yan menangkap sosok itu. Sesekali Damar menggigit bibir bawahnya, hingga hembus aroma parfum lelaki itu tertinggal di nafas yang masih berpikir. Akhirnya lelaki topi bundar itu melewatinya begitu saja dan menghilang. Namun garis wajah dan khas cara berjalan yang memincang masih terlintas lekat diingatan Damar. Bunyi guntur seketika mengejutkannya.
“Astaga, mendung? Baru saja hari terasa sangat panas.” Gumamnya sambil bersicepat dengan kedua langkahnya menuju restoran Bang Jamal. Tubuh kurus kumalnya melesat, menghilang di sela keramaian.
Dari kejauhan Bang Jamal terlihat sedang bersantai. Namun terlihat aneh. Duduknya yang lapang seketika berbalik dengan mengamati selembar uang seratus ribuan yang masih memerah, bersih tanpa ada satu garis kumal pun. Damar sudah berniat mengejutkannya dari kejauhan, tetapi niat itu ia urungkan ketika melihat Bang Jamal begitu lamat-lamat menatap selembar uang.
“Bang Jamal, ada apa?” tanyanya singkat. Bang Jamal pun menoleh.
“Aku heran Mar. Belakangan ini ada seorang pelanggan yang selalu membayar dengan uang seratus ribuan yang tidak ada sedikit pun garis-garis kumal, rapi! Bukannya aku tidak bersyukur Mar, tapi ini aneh bukan?” jelas Bang Jamal seraya menunjukkan lima lembar uang bernilai Rp. 100.000 yang terlihat baru semua.
Damar mengamati uang yang ditunjukkan Bang Jamal. Diambilnya selembar uang itu, kemudian ditelitinya dengan ilmu 3D yang pernah dibacanya dalam brosur. Dan benar saja, ada yang aneh di sana.
“Wah! Ini uang palsu Bang! Coba Abang bandingkan dengan uang lainnya! Harusnya gambar lambang negara ini terasa kasar, tapi ini tidak, terlalu mulus!”
Bang Jamal nampak terkejut sekali. Tanpa bertanya dua kali ia mengeluarkan dompet yang ada di saku celananya. Dikeluarkannya dua lembar uang ratusan ribu, kemudian dibandingkannya dengan uang yang mencurigakan itu. Alhasil, Bang Jamal hanya bungkam. Ia benar-benar tak dapat menyangkal ucapan Damar.
“Apakah Abang ingat bagaimana ciri-cirinya?” tanya Damar menyelidik.
“Entahlah Mar, Abang rasa orangnya yang sering gonta-ganti mode itu. Pokoknya dia bapak-bapak yang sering pesan di meja nomor empat waktu makan siang. Kalau tidak salah, Abang sering lihat dia pakai sepatu kulit.” jawab Bang Jamal dengan lemas.
Damar mengangkat alisnya. Orang yang sering gonta-ganti mode? Sepatu kulit? Apakah bapak yang pernah memberinya uang lima puluh ribu itu? Batinnya. Damar pun merogoh saku celananya yang ia kenakan. Tadi pagi ia sempat menyelipkan uang lima puluh ribunya sebelum keluar rumah.
Ia pun meraba bagian gambar burung garudanya. Mulus sekali. Damar hanya bisa  menghela nafas.  
“Dan satu hal lagi, dia seorang kidal. Karena setiap kali membayarkan uang ke kasir, dia selalu pakai tangan kiri.” Tambah Bang Jamal.
***
            Langit kelabu meneduhi angin yang memainkan anak rambut ikal Damar. Usai mengamen di sebuah bus, ia duduk di tempat yang dimana ia diberi uang oleh lelaki berkemeja kuning dahulu. Tepat sekali, siang itu si lelaki itu tampak keluar dari restoran Bang Jamal. Mata Damar mulai mengintainya. Pikirannya mengintrogasi dalam batinnya sendiri.  
            Lelaki itu mengenakan celana pendek sebatas lutut dengan sepatu kulit yang sama. Kali ini dia memakai kaos oblong berwarna hitam. Damar menatapnya dengan waspada. Ketika lelaki itu mulai berjalan ke arah timur, Damar pun mulai mengikutinya.
            Suara guntur mulai terdengar dari langit. Nampaknya hari akan segera hujan. Raja siang bagai bersembunyi di balik awan-awan hitam yang menggantung. Namun, semua itu tak dapat mematahkan nyali seorang Damar. Hingga rinai hujan mulai turun ke bumi, Damar masih tetap mengikuti kemana langkah lelaki pengedar uang palsu itu pergi.
            Laki-laki itu menuju terminal. Nampaknya ia hendak naik bus yang berada di bagian kiri terminal. Benar saja, ia mulai masuk ke bus merah yang sudah mulai berjalan. Dengan cekatan Damar melompat ke bus itu.
            “Permisi bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas, dan mbak-mbak yang berbahagia. Izinkan saya untuk membawakan lagu karangan saya sendiri yang berjudul Rupiah Palsu.” Ucap Damar seraya melirik ke arah laki-laki yang tengah dikejarnya. Wajah laki-laki itu agak terkejut, meski setelah itu ia bersikap santai dengan menyilangkan tangannya.
             Suara petikan senar ukulele Damar mulai beralun. Dengan piawai Damar memainkan alat musik itu dengan sempurna. Para penumpang yang awalnya tak mengindahkan suara Damar kini mulai menolehkan pandangannya ke arah bocah kurus kumal itu.
 Perutku berbunyi...
Merindukan sesuap nasi
Ke mana aku harus pergi
Ukulele kembali memelodi
Rupiah...!! oh rupiah...!!
Recehan dan kertas yang kumal
Asal halal...
Rupiah palsu...!!
Menyelip di celanaku
Membuat durja abangku
Membuang sedih
Membawa bahagia nestapa...
            “Pak, bisa berhenti di sini?” ucap laki-laki itu. Deru mesin bus itu pun berhenti. Bergegas laki-laki itu membayar uang ke kernet yang berdiri di pintu belakang. Melihat itu, Damar jadi kurang fokus. Jika ia berhenti mengamen dan langsung turun sekarang, tentu itu terlihat ganjil. Namun, jika ia meneruskan lagunya, bagaimana caranya agar ia tak kehilangan jejak laki-laki itu?
            Bingung harus bagaimana, Damar pun menghentikan musiknya. Para penumpang yang tadinya tengah asyik menikmati alunan musik ukulele Damar, kini mulai gaduh karena heran mengapa Damar tiba-tiba berhenti bermain musik. Damar tak mempedulikan semua itu. Ia hanya memperhatikan laki-laki yang diincarnya itu mulai menyebrang jalan dari kaca spion bus itu. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan para penumpang, Damar langsung melompat keluar dari bus yang mulai berjalan itu. Sama sekali tak dihiraukannya umpatan-umpatan dari kernet bus yang sempat tersenggol oleh Damar.
            Mata Damar memandang tajam ke sebrang jalan. Dicarinya sosok lelaki pengedar uang palsu itu. Namun, ia sama sekali tak menemukan batang hidungnya. Kemana ia pergi? Batinnya. Damar berjalan cepat ke arah kanan. Matanya masih menatap tajam ke seberang jalan.
            Sebuah sedan hitam berhenti di depan salon yang berada di seberang jalan. Di sela-sela padatnya lalu lintas, Damar tetap berusaha mengintai dengan teliti bagai detektiv professional. Dan saat itulah tanpa sengaja Damar melihat lelaki berkaos oblong hitam yang mengenakan sepatu kulit masuk ke sedan hitam itu.       
            “Ah! Itu dia!” seru Damar.
            Segera Damar berlari ke zebra cross yang terletak sekitar sepuluh meter dari tempatnya sekarang, seraya berdo’a semoga ia masih bisa sempat menyeberang. Sejenak ia terengah-engah. Diliriknya lampu merah yang masih menyala.
            “Masih ada kesempatan!” gumam Damar.
            Damar langsung berlari menyebrangi jalan raya. Dan pada waktu yang bersamaan, sebuah ambulan yang membawa pasien kritis dari ujung jalan melintas di jalan itu dengan kecepatan tinggi.
            Siang itu, hujan turun dan membelai Damar yang terpental di dekat trotoar dan ukulelenya yang belum terisi rupiah sepeser pun.
***
            “Damar! Damar!” pekik Bang Jamal saat para perawat memasukkan Damar ke ruang ICU. Air matanya masih saja berlinangan sejak seorang tetangganya mengabarkan bahwa Damar mengalami kecelakaan di jalan raya.
            Seorang laki-laki berambut ikal termenung di ruang tunggu. Dipangkunya sebuah ukulele milik anak yang sangat disayanginya dengan diam. Entah apa yang berkecamuk dipikirannya, tak ada yang tahu. Sekilas ia menengok Bang Jamal yang masih menangis di depan ruang ICU.
            Laki-laki kurus tegap itu kemudian berdiri. Ia melangkah keluar meninggalkan rumah sakit sambil menyeka air matanya.
***
            “Aron, tolong kondisikan semuanya ya? Saya mau ke rumah sakit.” Ucap Bang Jamal kepada salah seorang karyawannya sambil meraih kunci sepeda motor yang ada di meja kasir.
            Bang Jamal melenggang keluar dari restorannya. Sekilas ia melirik meja nomor empat yang biasanya ditempati seorang laki-laki bersepatu kulit yang dicurigainya. Namun entah mengapa sejak Damar kecelakaan, orang itu tak pernah lagi bertandang ke restorannya. Bang Jamal pun melaju dengan motor hitamnya. Rumah sakit tempat Damar dirawat memang tidak terlalu jauh, mungkin sekitar lima kilo meter dari restoran.
            Sesampainya di rumah sakit, Bang Jamal melangkah menuju ke bagian administrasi untuk melunasi biaya perawatan Damar. Sedangkan di ruang perawatan Damar sudah merapikan segalanya, meski pun perban masih membalut di tangan kanannya.
            “Sudah siap, Mar?” tanya Bang Jamal usai dari bagian administrasi.
            Belum lagi Damar sempat menjawab, suara parau kebapakan mengejutkan keduanya.
            “Damar”
            Bang Jamal menoleh ke belakang. Melihat wajahnya, rasa geram yang sudah tertanam dalam hatinya kepada lelaki itu pun akhirnya tak bisa ditahannya lagi. Amarahnya meluap. Macam terpedaya bisikan iblis terkutuk.
Wussshhh... seketika hembusan angin terasa di wajah Damar, dan, plakk!!! Hantaman keras tepat mengenai pipi kiri yang disusul aliran darah dari bibir lelaki berbadan kurus tegap.
“Kemana saja kau?! Dasar biadab! Anakmu terkulai lemas sedangkan kau hilang begitu saja. Kau memang tak pantas menjadi seorang ayah!” maki Bang Jamal dengan pedas.
Lelaki itu memandang Damar sebentar. Disodorkannya ukulele kepada Bang Jamal yang berisi hasil jerih payah yang dikumpulkannya selama ia menghilang dari Damar dan Bang Jamal. Menjelaskan pun sepertinya tak berguna lagi, pikir lelaki itu.
“Ini. Sisanya akan kubayar nanti.” Ucapnya dengan nada tabah.


Bang Jamal tercengang. Dilihatnya lubang ukulele itu dipenuhi rupiah. Damar yang sedari tadi tak tahu harus berbuat apa, seketika menghambur ke arah lelaki kurus tegap itu dengan perasaan haru.
“Ayah!”
***
            Kesenduan sudah berganti. Hubungan antara Damar, ayah tirinya, dan Bang Jamal sudah membaik. Kini Damar tak lagi mencari rupiah dengan petikan melodi ukulele. Bang Jamal telah berbaik hati mengasuhnya dengan segala keperluan seusianya. Demi merajut masa depan yang lebih baik, ayah Damar pun pergi ke negeri jiran sebagai TKI.
            Sedangkan disela kesibukan restoran sederhana milik Bang Jamal, Aron menyodorkan secangkir kopi kepada seorang pemuda di meja nomor empat. Peasanan yang menjadi favorit ketika musim hujan seperti saat ini.
            “Terima kasih, mas” ucap pelanggan yang nampaknya seorang mahasiswa itu.
Tujuh menit bersama secangkir kopi dan selembar koran itu pun berakhir tepat ditegukan terakhirnya. Bergegas pemuda itu meninggalkan meja nomor empat setelah melirik jam tangannya. Langkahnya bersicepat dengan waktu, dan karena hujan yang sebentar lagi akan turun.
            Lipatan koran di atas meja itu bergambar wajah seseorang menunduk menyimpan kesalahan. Di atasnya tertulis ‘BURONAN PENGEDAR UANG PALSU AKHIRNYA DITEMUKAN’.



                
           

  
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "Melodi Ukulele - Fathul "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel