google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A Radio - Syarianah - PULPENWANKERTAS

Radio - Syarianah

Di sudut ruangan, terlihat seorang anak kecil yang sedang asyik memutar-mutar tombol benda kesayangan, mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa lelahnya.  Rasa lelah itu pun berakhir begitu dia mendapati berita di radio yang sering didengarnya.
Selang beberapa jam kemudian, dia termenung mengingat bagaimana nasib keluarganya, Yang mana keluarganya itu  miskin, juga jauh dari rumah penduduk lain. Semenjak Ibunya meninggal, kini hanya Ayah, kakak dan adiknyalah yang ia miliki.
Malam hari keluarga sederhana itu berkumpul ditemani benda yang sangat disayangi Safha. Dalam suasana tenang yang hening pada malam hari itu, Shafa memecah kesunyian.
“Ayah...” kata si Anak memanggil.
“Iya, ada apa? ” dengan nada lembut dijawab sang Ayah
“Apakah ayah tau benda kesayanganku?” tanya Safha
Apakah ayah perlu mengetahuinya? ” jawab Ayah tanpa menengok.
“Ayah selalu saja begitu. Apakah ayah benar-benar tidak ingin mengetahuinya?” Safha sedikit cemberut.
“Ayah… Aku tahu apa benda kesayangan kakak!!!” menyeletuk Rasya, adik Shafha.
“Hmm.. benarkah? benda apa yang disukai kakak mu itu?” kata Ayahnya, merespon pembicaraan Rasya.
“Benda kesayangan Kakak itu adalah benda yang sering menemani Kakak setiap hari, ketika malam, siang, sore saat dia bersantai. Dan, benda itu adalah ini!!” jawab Rasya sambil menunjuk sebuah benda yang sudah using, namun masih berfungsi.
“Oh, ya?” ungkap Ayah yang sangat terkejut saat melihat benda apa yang ditunjuk oleh anak bungsunya itu.
Rasya hanya mengangguk-angguk karena sudah membuat ayahnya terkejut ketika mengetahui benda kesayangan kakanya. Anak sulung Pak Yoga dan Bu Sinta itu turut berkumpul tak lama setelah tadi Rasya mengagetkan Ayah.
“Safha...” panggil si kakak kepada adiknya yang selalu bermimpi dan berkhayal itu., adahal dia baru kelas lima SD. Safha tidak merespon ketika Kakaknya memanggilnya, dia tetap asyik mendengarkan berita yang terdengar dari benda kesayangannya.
“Safha! panggil Kakaknya dengan suara yang sangat keras.
“Safha! untuk ketiga kalinya Kakaknya memanggil dengan mimik yang sangat garang kepada adiknya yang tidak merespon panggilannya..
“Iya Kak, ada apa ?” jawab Safha dengan kesal karena sudah mengganggu waktu besantainya.
“Ada apa? Ada apa Safha? kamu itu sudah dipanggil berulang kali, masih saja tidak menyahut ketika ada orang yang memanggilmu, mau jadi anak seperti apa kamu?” Kelsa  langsung menjewer telinga adiknya dengan  sangat kesal.
Rasya datang dengan santainya mengambil air minum di dapur dan langsung mengolok-olok Safha.
“Kasian deh, dimarahi kakak blu..blu..blu.” kata Rasya yang mengolok-olok sambil menjulurkan lidahnya kepada Safha,
Olokan Rasya itu membuat hati Safha emosi dibuatnya. Tak lama setelah Rasya meninggalkan dapur, Safha segera lari dari hadapan kakaknya dan mengejar Rasya yang membuanya naik pitam. Belum lagi dia mengenai Rasya. Kelsa kembali memanggilnya untuk membantu menyiapakan makan malam.
***
Keesokkan paginya Safha dan Rasya harus pergi kesekolah. Meski jaraknya cukup jauh kurang lebih satu kilo meter dari rumahnya, mereka akhirnya terbiasa berangkat berjalan kaki sejauh itu dengan seteguk kopi di cangkir Ayah yang dibuat oleh kak kelsa, mereka bergegas, beriringan.
“Rasya...” panggil Safha
“Apa?” sahut Rasya
“Apa cita-citamu jika kamu sudah dewasa nanti?” Safha bertanya kepada Rasya yang kelihatannya serius, namun di dalam hatinya dia hanya ingin menjahili adiknya
“Cita-citaku ingin menjadi seorang yang gagah dan bijaksana agar bisa menangkap orang yang jahat!” jawabnya dengan bangga.
Safha hanya tersenyum sendiri ketika mendengar jawaban Rasya dengan panjang lebar dengan begitu bangga.
“Mimpiii!!” ungkap Safha dengan  mengolok-olok yang segera berlari cepat.
 Rasya merasa kesal dan langsung mengejar Safha, tetapi dia langsung berlari menjauh dari Rasya. Hingga setibanya di depan pintu gerbang  sekolahnya, sebelum mereka berpisah Safha mengatakan.
“Rasya, kalau kamu duluan pulang tunggu aku dipohon mangga seperti biasa oke..!” Rasya tidak menjawab tetapi dia hanya mengangguk-angguk.
Tak lama lonceng sekolah pun berbunyi, Safha langsung masuk kekelasnya, di dalam kelas dia langsung duduk ditempat duduknya sambil bercanda dengan teman-temannya. Lima menit setelah bel berubunyi, Ibu Guru masuk dengan mengucapkan salam. Bu Mariana terkenal sebagai guru yang suka marah-marah apabila ada anak muridnya yag berbuat salah , tetapi dia tidak pernah marah dengan Safha karena dia adalah murid kesayangannya.
“Selamat pagi anak-anak, bagaimana kabar kalian hari ini ?”
“Baik Bu guru” sahut murid-murid serentak
“Kumpulkan semua buku catatan dan tugas Matematika kalian ke depan” Semua anak murid  langsung mengerjakan apa yang diperintahkan gurunya.
“Siapa yang tidak mengumpulkan buku tugasnya? Bu Mariana memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut. Semuanya terdiam, dengan perasaan tegang.
“Ayo ngaku, sebelum ibu yang memanggil.”  Tambah Bu mariana kali ini wajah Ibu Mariana yang pemarah mulai kelihatan, dan seluruh murid pun terdiam dengan hati yang kepada teman yang membuat sifat pemarah Bu Mariana keluar. Salah satu siswa langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengahadap. Dia adalah sahabat Safha, Tia. Dia dimarahi hingga akhirnya keluar dari kelas. Satu jam kemudian lonceng berbunyi waktunya istirahat. Safha langsung bergegas menuju  ke kantin tetapi dia sedang ditunggu oleh Bu guru.
“Safha, ke sini sebentar nak. Oh ya, Bangaimana kesehatanmu akhir-akhir ini?” tanya Bu Guru itu begitu Safha mendekat.
“Alhamdullillah, sehat Bu”
Ya sudah, istirahat jangan bermain sampai membuat penyakit kamu kumat lagi”
Safha hanya menganguk-angguk, dan langsung pergi setelah bersalaman. Dia menuju kantin menghampiri Tia yang lebih dulu di sana, dan sudah menyiapakan makanan favoritnya. Tia selalu membayarkan makanan atau pun jajanan yang dipesan oleh Safha. Karena Tia tahu bagaimana keadaan ekonomi keluarga Safha.
Tiga jam setelah masuk kembali kekelasnya, bel pulang berbunyi. Safha dan Tia berpisah didepan pintu gerbang.
“Udah lama ya nunggunya?
“Enggak, baru 15 menit di sini” jawab Rasya dengan wajah sedikit cemberut
“Maksudnya? Safha berpura-pura bingung, terlihat bodoh.
“Maksudnya, aku di sini sudah dari tadi, sudah lama kelez, kenapa sih telat terus kaya siput aja, lambat” tanya Rasya sedikit jengkel
Safha tidak mau berdebat dengan adiknya. Dia hanya mongomel dalam hati. Aku manusia bukan siput kali”.
 Sesampai di rumah kedua Kakak adik tersebut langsung berganti pakaian. Dan Safha langsung mendengarkan berita dari radio benda kesayangannya.
***
Suasana malam yang dingin. Semua anak Pak Yoga sedang sibuk melakukan pekerjaanya masing-masing, tak terkecuali Kelsa yang merupakan sosok pengganti Ibu bagi Safha dan Rasya.
“Ayah” Kelsa memecahkan keheningan
           “Iya...” sahut Ayah yang sedang asik membaca koran.             
“Kelsa sedih melihat Safha yang sangat pendiam akhir-akhir ini, apakah dia punya masalah?” Kelsa yang kelihatannya Khawatir, bertanya kepada ayhanya
“Kamu ini tidak boleh berpikir begitu” jawab Ayah untuk menenangkan Kelsa
“Bagaimana dengan keadaan dapur ?” Ayahnya mengalihkan pembicaraan
“Baik-baik saja” jawab Kelsa
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Safha bergegas pulang dan menemui Adiknya yang telah menunggu. Kebiasaan terlambat itu tetap saja terulang. Belum Rasya berbicra Safha langsung minta maaf kepada adiknya yang sudah lama menunggu.
“Ciee ngambek, jangan marah dong, Rasya yang ganteng dan baik,hati” kata Safha sedikit menggoda Saudara laki-lakinya itu
“Iya tapi janji gak terlambat lagi, kalau tidak, pokoknya aku pulang duluan.” Rasya mulai agak menerima kesalahan kakaknya itu.
“Dipuji dulu, baru gak ngembek nih anak, Wow! Janji? kayanya gak bisa deh, Mimpi…..kamu, pulang duluan meemangnya berani? tetapi akan aku usahakan deh gak bakalan terlambat lagi demi adikku yang gagah  ledek  Safha dengan ekspresi santai.
Begitu sampai di rumah, Safha sangat terkejut  karena radio kesayanggannya tidak ada di tempat biasanya. Dia mencari dimana-mana tetapi tetap tidak ada. Sampai-sampai dia ingin menitikan air matany. Tetapi radio itu masih lenyap entah berada dimana.
“Kakak, apakah kakak tahu radio yang ada di atas meja di dekat tempat tidur?” tanya Safha sedikit gelisah
“Memangnya kenapa? Radio itu sudah aku jual untuk...” belum Kelsa meneruskan pembicaraannya, Safha langsung memotong pembicaraan kakaknya
“Apa?!! Safha kaget bukan kepalang
Safha merasa jantungnya hampir tidak berdetak lagi, dia syok, dan merasa akan pingsan saat itu juga
”Apa kakak beneran gak tahu, radio itukan sangat berarti bagi Ku!” sentak Safha sambil menitikan air mata. kakanya hanya menjawab dengan santai bahwa benda itu adalah benda yang sudah usang.
Dia tidak dapat berkata-kata lagi dia hanya menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya, tetapi kalau dia menangis seperti itu, pasti kakaknya akan marah. Dia langsung meninggalkan kakaknya menuju kamar dan menangis sampai akhirnya dia tertidur.
***
Malam itu hujan mulai turun membasahi bumi, suara tetesan air hujan yang bising saat  mengenai atap-atap rumah. Pak Yoga terlihat sedikit kebingungan, bagaikan debu yang tertiup angin, tak tau arah. Selang beberapa detik Kelsa langsung mendekati Pak Yoga
“Ayah, ini ada sedikit uang.” Kelsa menyerahkan uang yang berwarna merah dari saku bajunya.
“Kelsa tahu, Ayah bingungkan bagaimana caranya melunasi hutang-hutang Ayah?”
Pak Yoga tersenyum, dan merasa bangga memiliki Anak yang sangat perhatian kepadanya dan Adiknya.
“Benar,  Ayah hanya punya uang 200 ribu sedangkan hutang kita 300 ribu.”
“Ambil saja Yah.. uang ini hasil dari radio Safha yang telah Kelsa jual siang tadi”
Mendengar hal itu Pak Yoga sangat terkejut. Pak Yoga teringat bahwa radio itu adalah benda yang sangat disayangi oleh Safha. Ayahnya sangat bingung bagaimana cara menjelaskan tentang hal ini kepada Safha. Pak Yoga langsung berkata kepada Kelsa untuk membangunkan adiknya yang sudah lama tertidur, akan tetapi Kelsa saat itu ingin menyiapakan makan malam. Dan akhirnya Ayahnyalah yang membangunkan Safha. Ketika Ayahnya membangunkannya, Alangkah terkejutnya Ia melihat anaknya sudah tak bernapas lagi. Ayahnya terisak tak sanggup lagi menopang kedua kakinya untuk berdiri tegap melihat kepergian Safha daridunia ini. Terasa pilu hatinya. Dan bertambah bingung Ayahnya memikirkan mengapa Safha begitu cepat meninggalkannya.
***
Ditengah kesibukan keluarga Pak Yoga yang sedang mempersiapkan pemakaman anaknya Safha, Bu Mariana menghampiri Pak Yoga. Ia sangat sedih ditinggal oleh murid yang sangat ia sayangi itu. Bu Mariana teringat bahwa orang tua Safha tidak mengetahui apa penyakit yang diderita Safha. Beliau langsung ingin menceritakan rahasia Safha yang hanya diketahui dirinya. Bu Mariana memanggil Ayahnya Safha yang sedang berbicara dengan warga.
“Maaf, Pak perkenalkan saya wali kelasnya Safha di SD Muharram.” Bu Mariana memperkenalkan dirinya.
“Iya Bu, terimakasih sudah datang kemari.” jawab Ayahnya yang kelihatan masih sangat bingug.
Hmm… Bapak, saya ingin menceritakan tentang rahasia Safha yang hanya saya mengetahuinya”
Dia menceritakan bahwa Safha mengidap penyakit Gagal Fungsi Hati, dan dia juga berkata bahwa Safha tidak ingin keluarganya mengetahui penyakit yang dideritanya. Setelah mendengarkan cerita dari Bu Mariana, Ayahnya semakin merasa sangat bersalah dan menceritakan bagaimana kejadian sebelum Safha meninggal. Bu Guru sangat terkejut dan menitikan air mata, karena mengetahui Radio hadiah ulang tahunnya  itu sangat disayangi oleh Safha.

Bergetar tubuh Bu Mariana menahan goncangan isak tangis, betapa pilu hatinya. Dan beliau berkata dalam hati “Semoga dia tenang disisi-Nya dan dalam dekapan-Nya.
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "Radio - Syarianah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel