Radio - Syarianah
Rabu, 25 Mei 2016
Tulis Komentar
Di
sudut ruangan, terlihat seorang
anak kecil yang sedang asyik memutar-mutar tombol benda
kesayangan,
mencari sesuatu yang dapat menghilangkan rasa lelahnya. Rasa lelah itu pun
berakhir begitu dia mendapati berita di radio yang sering didengarnya.
Selang
beberapa jam kemudian, dia termenung mengingat bagaimana nasib keluarganya, Yang mana keluarganya itu miskin, juga
jauh dari rumah penduduk lain. Semenjak Ibunya meninggal, kini hanya Ayah,
kakak dan adiknyalah yang ia miliki.
Malam hari keluarga sederhana itu berkumpul ditemani benda yang sangat disayangi Safha.
Dalam suasana tenang yang hening pada malam hari itu, Shafa memecah kesunyian.
“Ayah...” kata si Anak memanggil.
“Iya,
ada apa? ” dengan nada
lembut dijawab sang Ayah
“Apakah
ayah tau benda kesayanganku?” tanya Safha
“Apakah ayah perlu mengetahuinya? ” jawab Ayah tanpa menengok.
“Ayah
selalu saja begitu. Apakah
ayah benar-benar
tidak ingin mengetahuinya?”
Safha sedikit cemberut.
“Ayah…
Aku tahu apa benda kesayangan kakak!!!” menyeletuk Rasya, adik
Shafha.
“Hmm..
benarkah? benda apa yang disukai kakak
mu itu?” kata Ayahnya, merespon pembicaraan Rasya.
“Benda
kesayangan Kakak itu adalah benda yang sering menemani Kakak setiap hari, ketika
malam, siang, sore saat
dia bersantai. Dan, benda itu adalah ini!!” jawab Rasya sambil menunjuk sebuah benda yang
sudah using, namun masih berfungsi.
“Oh,
ya?” ungkap Ayah yang sangat terkejut saat melihat benda
apa yang ditunjuk oleh anak bungsunya itu.
Rasya hanya mengangguk-angguk karena
sudah membuat ayahnya terkejut ketika mengetahui benda kesayangan kakanya. Anak
sulung Pak Yoga dan Bu Sinta itu turut berkumpul tak lama setelah tadi Rasya
mengagetkan Ayah.
“Safha...” panggil
si kakak
kepada
adiknya yang selalu bermimpi dan berkhayal itu., adahal dia baru kelas lima SD. Safha tidak merespon
ketika Kakaknya
memanggilnya, dia tetap asyik mendengarkan berita yang
terdengar dari benda kesayangannya.
“Safha!” panggil
Kakaknya dengan suara
yang sangat keras.
“Safha!” untuk
ketiga kalinya Kakaknya
memanggil dengan mimik yang sangat garang kepada adiknya yang tidak merespon
panggilannya..
“Iya
Kak, ada apa ?” jawab Safha dengan kesal karena sudah mengganggu
waktu besantainya.
“Ada
apa? Ada apa Safha? kamu itu sudah dipanggil berulang kali, masih saja tidak menyahut ketika ada
orang yang memanggilmu, mau jadi anak seperti apa kamu?” Kelsa langsung menjewer telinga adiknya dengan sangat kesal.
Rasya
datang dengan santainya mengambil air minum di dapur dan langsung mengolok-olok
Safha.
“Kasian
deh, dimarahi kakak blu..blu..blu.” kata Rasya yang
mengolok-olok sambil menjulurkan lidahnya kepada Safha,
Olokan
Rasya itu membuat hati Safha
emosi dibuatnya. Tak
lama setelah Rasya
meninggalkan dapur, Safha
segera lari dari hadapan kakaknya
dan mengejar Rasya
yang membuanya naik pitam. Belum lagi dia mengenai Rasya. Kelsa kembali memanggilnya
untuk membantu menyiapakan makan malam.
***
Keesokkan
paginya Safha dan Rasya harus pergi kesekolah. Meski jaraknya cukup jauh kurang
lebih satu kilo meter dari rumahnya, mereka akhirnya terbiasa berangkat
berjalan kaki sejauh itu dengan seteguk kopi di cangkir Ayah yang dibuat oleh
kak kelsa, mereka bergegas, beriringan.
“Rasya...” panggil Safha
“Apa?”
sahut Rasya
“Apa
cita-citamu jika kamu sudah dewasa nanti?” Safha
bertanya kepada Rasya yang kelihatannya serius, namun di dalam hatinya dia
hanya ingin menjahili adiknya
“Cita-citaku
ingin menjadi seorang yang gagah
dan
bijaksana agar bisa
menangkap orang yang jahat!” jawabnya
dengan bangga.
Safha hanya tersenyum sendiri ketika
mendengar jawaban Rasya
dengan panjang lebar dengan
begitu bangga.
“Mimpiii!!” ungkap Safha dengan mengolok-olok yang segera berlari cepat.
Rasya
merasa kesal dan langsung
mengejar Safha, tetapi dia langsung berlari menjauh dari
Rasya. Hingga
setibanya di depan pintu gerbang sekolahnya, sebelum
mereka berpisah Safha
mengatakan.
“Rasya,
kalau kamu duluan pulang tunggu aku dipohon mangga seperti biasa oke..!” Rasya tidak menjawab tetapi dia hanya
mengangguk-angguk.
Tak
lama lonceng
sekolah pun berbunyi, Safha
langsung masuk kekelasnya, di
dalam kelas dia langsung duduk ditempat duduknya sambil bercanda dengan teman-temannya. Lima menit setelah bel berubunyi, Ibu Guru masuk
dengan mengucapkan salam. Bu
Mariana terkenal sebagai guru yang suka marah-marah apabila
ada anak muridnya yag berbuat salah , tetapi
dia tidak pernah marah dengan Safha
karena dia adalah murid kesayangannya.
“Selamat
pagi anak-anak,
bagaimana kabar kalian hari ini ?”
“Baik
Bu guru” sahut murid-murid serentak
“Kumpulkan semua buku catatan dan tugas Matematika kalian ke depan” Semua anak murid langsung mengerjakan apa yang diperintahkan
gurunya.
“Siapa
yang tidak mengumpulkan buku tugasnya?” Bu Mariana
memecahkan keheningan dalam ruangan tersebut. Semuanya
terdiam, dengan perasaan tegang.
“Ayo
ngaku, sebelum ibu yang memanggil.” Tambah Bu mariana kali ini wajah Ibu Mariana yang pemarah mulai kelihatan, dan seluruh murid
pun terdiam dengan hati yang kepada teman yang membuat sifat pemarah Bu Mariana
keluar. Salah satu siswa langsung bangkit dari
tempat duduknya dan mengahadap. Dia
adalah sahabat Safha, Tia. Dia dimarahi hingga
akhirnya keluar dari kelas. Satu
jam kemudian lonceng berbunyi waktunya istirahat. Safha langsung bergegas menuju ke kantin
tetapi dia sedang ditunggu oleh Bu
guru.
“Safha,
ke sini sebentar nak. Oh ya, Bangaimana kesehatanmu akhir-akhir ini?” tanya Bu
Guru itu begitu Safha mendekat.
“Alhamdullillah, sehat Bu”
“Ya sudah, istirahat jangan bermain sampai membuat
penyakit kamu kumat lagi”
Safha
hanya menganguk-angguk, dan
langsung pergi setelah bersalaman. Dia
menuju kantin menghampiri Tia yang
lebih dulu di sana, dan sudah
menyiapakan makanan favoritnya. Tia
selalu membayarkan makanan atau pun jajanan yang dipesan oleh Safha. Karena Tia tahu bagaimana keadaan ekonomi
keluarga Safha.
Tiga jam setelah masuk kembali kekelasnya, bel
pulang berbunyi. Safha
dan Tia berpisah
didepan pintu gerbang.
“Udah
lama ya nunggunya?”
“Enggak, baru 15 menit di sini” jawab Rasya
dengan wajah sedikit cemberut
“Maksudnya?” Safha
berpura-pura bingung, terlihat bodoh.
“Maksudnya, aku di sini sudah dari tadi, sudah lama
kelez, kenapa sih telat terus kaya siput aja, lambat” tanya Rasya sedikit jengkel
Safha
tidak mau berdebat dengan adiknya. Dia hanya mongomel dalam hati. “Aku
manusia bukan siput kali”.
Sesampai
di rumah kedua Kakak adik tersebut langsung berganti pakaian. Dan Safha langsung mendengarkan berita dari
radio benda kesayangannya.
***
Suasana
malam yang dingin. Semua anak Pak Yoga sedang sibuk melakukan pekerjaanya masing-masing, tak terkecuali Kelsa
yang merupakan sosok pengganti Ibu bagi Safha dan Rasya.
“Ayah” Kelsa memecahkan keheningan
“Iya...” sahut Ayah yang sedang asik membaca
koran.
“Kelsa
sedih melihat Safha yang sangat pendiam akhir-akhir ini, apakah dia punya masalah?” Kelsa yang kelihatannya
Khawatir, bertanya kepada ayhanya
“Kamu
ini tidak boleh berpikir begitu” jawab Ayah untuk menenangkan Kelsa
“Bagaimana
dengan keadaan dapur ?”
Ayahnya
mengalihkan
pembicaraan
“Baik-baik saja” jawab Kelsa
***
Bel
pulang sekolah telah berbunyi, Safha
bergegas
pulang dan menemui Adiknya yang telah menunggu. Kebiasaan terlambat itu tetap saja
terulang. Belum Rasya
berbicra Safha
langsung minta maaf kepada adiknya yang sudah lama menunggu.
“Ciee
ngambek, jangan marah dong,
Rasya
yang ganteng dan baik,hati” kata Safha sedikit menggoda Saudara laki-lakinya itu
“Iya
tapi janji gak terlambat lagi, kalau tidak, pokoknya aku pulang duluan.” Rasya mulai
agak menerima kesalahan kakaknya itu.
“Dipuji
dulu, baru gak ngembek nih anak, Wow!
Janji? kayanya gak bisa deh, Mimpi…..kamu,
pulang duluan meemangnya berani?
tetapi akan
aku usahakan deh gak bakalan
terlambat lagi demi adikku yang
gagah” ledek
Safha dengan ekspresi santai.
Begitu
sampai di rumah, Safha
sangat terkejut karena radio
kesayanggannya tidak ada di tempat biasanya. Dia mencari dimana-mana tetapi tetap tidak
ada. Sampai-sampai dia ingin menitikan air matany. Tetapi radio itu masih
lenyap entah berada dimana.
“Kakak,
apakah kakak tahu radio yang ada di atas meja di dekat tempat tidur?” tanya
Safha sedikit gelisah
“Memangnya
kenapa? Radio itu sudah aku jual untuk...” belum Kelsa meneruskan pembicaraannya, Safha langsung memotong pembicaraan kakaknya
“Apa?!! ” Safha
kaget bukan kepalang
Safha
merasa jantungnya hampir tidak berdetak lagi, dia
syok, dan merasa akan pingsan saat itu juga
”Apa
kakak beneran gak tahu, radio itukan sangat berarti bagi Ku!” sentak Safha sambil menitikan air mata. kakanya hanya menjawab dengan santai
bahwa benda itu adalah benda yang sudah usang.
Dia
tidak dapat berkata-kata lagi dia hanya menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya, tetapi
kalau dia menangis seperti
itu, pasti kakaknya akan marah. Dia
langsung meninggalkan kakaknya
menuju kamar dan menangis sampai akhirnya
dia tertidur.
***
Malam
itu hujan mulai turun membasahi bumi, suara tetesan air hujan yang bising
saat mengenai atap-atap rumah. Pak Yoga terlihat sedikit kebingungan, bagaikan debu
yang tertiup angin,
tak tau arah. Selang beberapa detik Kelsa langsung mendekati Pak Yoga
“Ayah,
ini ada sedikit uang.” Kelsa menyerahkan uang yang berwarna merah dari saku
bajunya.
“Kelsa
tahu, Ayah bingungkan bagaimana caranya melunasi hutang-hutang Ayah?”
Pak
Yoga tersenyum, dan merasa bangga memiliki Anak yang sangat perhatian kepadanya
dan Adiknya.
“Benar, Ayah hanya punya uang
200 ribu sedangkan hutang kita 300 ribu.”
“Ambil
saja Yah.. uang ini hasil dari radio Safha yang telah Kelsa jual siang tadi”
Mendengar
hal itu Pak Yoga sangat terkejut. Pak Yoga teringat bahwa radio itu adalah benda yang sangat disayangi oleh Safha.
Ayahnya sangat bingung bagaimana cara menjelaskan tentang hal ini kepada Safha.
Pak Yoga langsung berkata kepada Kelsa untuk membangunkan adiknya yang sudah
lama tertidur, akan tetapi Kelsa saat itu ingin menyiapakan makan malam. Dan
akhirnya Ayahnyalah yang membangunkan Safha. Ketika Ayahnya membangunkannya,
Alangkah terkejutnya Ia melihat anaknya sudah tak bernapas lagi. Ayahnya
terisak tak sanggup lagi
menopang kedua kakinya untuk berdiri tegap melihat kepergian Safha daridunia ini. Terasa pilu hatinya. Dan bertambah bingung Ayahnya memikirkan mengapa
Safha begitu cepat meninggalkannya.
***
Ditengah
kesibukan keluarga Pak Yoga yang sedang mempersiapkan pemakaman anaknya Safha, Bu Mariana menghampiri Pak Yoga. Ia sangat sedih ditinggal oleh murid yang sangat ia
sayangi
itu. Bu Mariana teringat bahwa
orang tua Safha tidak mengetahui apa penyakit yang diderita Safha. Beliau
langsung ingin menceritakan rahasia Safha yang hanya diketahui dirinya. Bu Mariana
memanggil Ayahnya Safha yang sedang berbicara dengan warga.
“Maaf, Pak perkenalkan saya wali kelasnya Safha di SD
Muharram.” Bu Mariana memperkenalkan dirinya.
“Iya Bu, terimakasih sudah datang kemari.” jawab Ayahnya yang kelihatan masih sangat bingug.
“Hmm… Bapak, saya ingin menceritakan tentang rahasia Safha yang hanya
saya mengetahuinya”
Dia menceritakan bahwa Safha mengidap penyakit Gagal
Fungsi Hati, dan dia juga berkata bahwa Safha tidak ingin keluarganya
mengetahui penyakit yang dideritanya. Setelah mendengarkan cerita dari Bu
Mariana, Ayahnya semakin
merasa sangat bersalah dan menceritakan bagaimana kejadian sebelum Safha meninggal. Bu Guru sangat terkejut dan menitikan air mata, karena
mengetahui Radio hadiah ulang tahunnya itu sangat disayangi oleh Safha.
Belum ada Komentar untuk "Radio - Syarianah"
Posting Komentar