Bendera - Mira
Rabu, 25 Mei 2016
Tulis Komentar
Desiran halus sang angin memainkan
helaian anak rambut cepak
seorang lelaki yang terpaku menatap bangunan yang baru selesai di
bangun sejak 3 tahun lalu. Sambil meraba tulisan yang terletak di
samping monumen, seketika itu pula memorinya memutar
dengan penuh rasa hormat kepada sang nenek yang membuatnya sadar akan harga
sebuah perjuangan.
“Aku
tidak akan melupakan kejadian 3 tahun yang silam.”
Lelaki itu menghela nafas.
Memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana, kemudian melangkah ke arah
timur.
***
Terdengar sahut-sahutan beberapa
jenis burung liar taman di suatu daerah yang sangat indah dan sangat menawan,
aneka pohon rindang penghias taman. Juga bendera yang sangat kumuh disertai
tiang yang sudah hampir roboh. Di sisi taman itu terdapat
rumah seorang nenek tua yang sudah lanjut usia. Nenek itulah yang dengan setia menjaga
bendera itu dari pagi hingga pagi lagi. Nenek itu juga tidak suka apabila ada orang lain yang
mendekati benderanya, terutama anak-anak.
“aku
tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketenangan bendera ini.”
gumam nenek dalam hati.
Dua puluh lima tahun sudah bendera
itu berdiri di taman,
dan
selama itu pula nenek itu menunggu dan menjaga benderanya. Hingga suatu hari saat terik matahari menyengat, nenek
tua itu terdengar marah-marah karena tiang bendera itu dipanjat anak-anak yang sedang bermain.
“Heeey!!! Pergi kalian dari sini! Dasar anak-anak tidak berguna!” sentak nenek dengan
tertatih saat mengejar anak-anak. Beberapa pasang mata disekitar taman itu memandang sinis
ke arah
nenek. Mungkin mereka berpikir bahwa nenek itu benar-benar gila. Dengan pakaian yang compang-camping
dan kebiasaan berceloteh sendiri, siapa yang tidak mengira dia seperti orang
gila?
Setiap
hari ada saja anak-anak
yang bermain di sekitar bendera itu.
Dengan
perilaku nenek yang berlebihan terhadap bendera itu, membuatnya semakin
dibenci oleh beberapa warga yang kerap melintas, terutma anak-anak yang bermain di taman.
“Heeey!!! enyah kau dari sini jangan pernah kau dekati
bendera milikku ini!” teriak nenek itu sambil membawa tongkat
di tangan kanannya.
“Lihaaat..! Ada nenek gilaaa! ayo kita lari!” ucap
salah satu dari anak-anak yang sedang
bermain di taman.
“ha…..ha….ha…. nenek gila!” sahut yang lain, seraya meninggalkan
taman.
Setiap hari hanya itu saja yang dikerjakan oleh nenek
itu,
tanpa mengenal lelah dia berkeliling sepanjang hari
untuk menjaga bendera kesayangannya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang yang
ada di sekitarnya,
dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjaga benderanya, tanpa
ada seorang pun yang
mengganggu bendera itu.
Pada akhirnya datanglah Pegawai Pemerntah Daerah yang sedang melihat-lihat lokasi di taman itu. Tujuan Pegawai Pemerintah
Daerah datang ke taman tersebut,
ingin membangun sebuah monumen. Sepanjang
taman telah mereka telusuri dan mereka menjumpai bendera yang amat kumuh, berdiri di taman tersebut. Sedangkan tempat berdirinya bendera itu
akan dijadikan monument.
“Siapa
yang mendirikan bendera disini?
ayo
cepat lepaskan bendera itu dari tiangnya!
dan singkirkan dari sini.”
ucap seorang Kasub Pemerntah
Daerah kepada anak buahnya.
“Hentikan! apa yang kalian lakukan dengan
benderaku? Menyingkir kau dari sini!!!”
Sentak nenek tua kepada Pegawai
Pemerntah
Daerah
“Siapa Anda?” jawab Kasub Pemerntah Daerah
“Aku yang mempunyai bendera ini. Kenapa kau ingin menyingkirkan
benderaku?”
sentak nenek
seraya mendekati Kasub Pemerintah Daerah.
“Kami
dari Pemerintah Daerah, kami
datang ke taman ini untuk menentukan lokasi pembangunan monument, jadi mau
tidak mau bendera ini harus disingkirkan.” sahut Kasub Pemerntah Daerah
“Sampai kapanpun aku tidak akan
membiarkan kalian menyentuh bendera ini.” bantah Nenek tua.
Dengan keadaan bingung salah seorang anak buah dari Kasub
Pemerintah Daerah berpikir.
“Siapa
dia? Berani sekali dia melawan pemerintah.”
Kasub Pemerintah Daerah pun
berbicara dengan nada halus kepada nenek tersebut, “Mau tidak mau bendera itu
harus disingkirkan, Nek. Karena itu sudah keputusan pemerintah.’’seraya para
petugas Pemerintah Daerah meninggalkan nenek itu sendiri.
Kegelisahan nenek sudah sangat
tinggi, bagaimana ia bisa mempertahankan bendera itu sedangkan bendera itu
sudah seperti nyawanya sendiri. hari sudah larut malam nenek itu belum kunjung
tidur.
“Aku
tidak akan tidur. Kalau aku tidur bagaimana kalau para petugas itu datang dan
menyingkirkan benderaku?”
ucap nenek dalam hati, dia pun berjalan mendekati bendera tersebut sambil
menggerutu,dan dengan wajah panik dia pun tetap memperjuangkan bendera itu.
Hari sudah pagi petugas Pemerintah Daerah pun kembali datang.
“Mengapa bendera itu masih ada disini?”
Ucap salah satu karyawan Pemerintah Daerah
“Sepertinya bendera itu tidak akan
mungkin disingkirkan oleh nenek itu, sebaiknya kita sendiri yang
menyingkirkannya secara paksa.”
sahut salah satu temannya.
“Tidak. Aku rasa kita jangan
lakukan itu, kita harus cari jalan keluar yang lain, aku tau apabila seseorang
sangat mempertahankan benda miliknya pasti itu sangat berarti baginya, kita
harus berbicara baik-baik dengannya.”
Karyawan Pemerintah Daerah pun berpikir
apa yang harus mereka katakan agar nenek itu mau menyingkirkan benderanya?
“Sebaiknya, aku datangi saja ke rumah
Nenek itu untuk berbicara dengannya secara baik-baik.” gumam Kasub Pemerintah
Daerah.
Sambil berjalan menuju rumah nenek
itu para karyawan Pemerintah Daerah itu berpikir dan menyiapkan bahan yang
harus dibicarakan dengan nenek. Disisi lain, bahan material untuk pembangunan
monument sudah datang dan para pekerja siap untuk membuat monumennya, tetapi
sedikit masalah yang disebabkan bendera itu semua pekerjaan jadi tersendat dan
ini menjadi masalah besar.
“Nek... Nek…” kata salah satu
karyawan Pemerintah Daerah
“Siapa...?” sahut Nenek sambil membuka pintu
“Apakah kami boleh masuk Nek? Kami
ingin berbicara denganmu Nek!” kata Kasub Pemerintah Daerah.
Wajah Nenek mulai geram melihat
kedatangan karyawan Pemerintah Daerah itu.
“Jadi begini, kedatangan kami kemari ingin
membahas tentang bendera yang terletak di taman ini, bagaimana pun caranya
bendera itu harus dipindah
atau disingkirkan karena lokasi ini akan dijadikan tempat pembangunan monument
Negara. Dan
ini perintah dari atasan kami, dan Nenek juga tidak memiliki hak atas wilayah
ini, jadi kami pertegas lagi agar Nenek harus segera menyingkirkan bendera yang
ada di taman ini.” ucap Kasub Pemerintah Daerah.
Mendengar perkatakaan dari Kasub
Pemerintah Daerah, Nenek pun terdiam, matanya mulai berbinar, bagaimana mungkin
bendera yang telah lama dijaganya selama kurang lebih dua puluh lima tahun kini
akan dihancurkan oleh Pemerintah setempat, dengan dalih ingin digantikan sebuah
monument yang menurut dia bukan sebuah simbol sejarah dan kurang bermakna jika dibandingkan dengan benderanya.
Karyawan Pemerintah Daerah itu
meninggalkan rumah Nenek.. Sambil berlari kecil nenek itu mengejar para karyawan Pemerintah Daerah.
“Hey...! Berhenti...! Aku tetap tidak
mau memindahkan bendera itu.” spontan suara dikeluarkan oleh Nenek.
“Nek, alangkah baiknya jika nenek tidak bersikap
seperti itu seharusnya Nenek juga memikirkan nasib Negara kita, Nenek jangan mementingkan
diri sendiri. Ini semua bukan kehendak kami, tapi ini semua kehendak Rakyat demi
berkembangnya Negara kita ini.”
***
Pada akhirnya Nenek memutuskan menurunkan bendera itu dengan
sangat berat hati. Bendera yang sangat sudah jelek itu disimpan rapi di dalam lemarinya, Nenek itu masih belum
ikhlas menerima semua itu setiap hari ia memikirkan nasib bendera itu, dengan keadaan yang
demikian nenek itu tidak peduli dengan kondisi dirinya yang lemah akibat tidak
memperdulikan makan karena memikirkan bendera kesayangannya itu,
sampai nenek itu sakit karna tidak
makan seharian karena
bendera itu, dalam
keadaan sakit nenek itu pun
tetap menjaga bendera itu hingga ia tidak lagi memperdulikan dirinya dalam
batinnya, ia hanya memperedulikan benderanya saja.
Lambat hari sakitnya semakin parah.
Kini ia hanya bisa memandangi tempat di mana dulu bendera itu berdiri sekarang
sudah berubah menjadi pondasi monument. Terkadang wanita lanjut usia itu
menitikkan air matanya, mengira bahwa dirinya tidak berguna. Menyesali, mengapa
ia bisa mengorbankan bendera yang sangat bermakna itu digantikan oleh bangunan
yang baru. Kondisi tubuh yang semakin ringkih tidak lagi ia permasalahkan
karena betapa cintanya ia terhadap tanah air
“Sekarang
apa yang harus aku lakukan?”
gumam
nenek dalam hati.
Hari demi hari ia lewati dengan
penuh penyesalan, akibat rasa sayang yang berlebihan itulah yang semakin
membuatnya merasa menyesal.
Namun semua sudah terlanjur, Nenek pun
tak dapat berbuat banyak. Terkadang, ia bersikap berontak karena tidak terima
dengan apa yang telah terjadi. Bangunan monument itu sudah setengah berdiri
dengan kokoh. Hanya beberapa bagaian lagi monument itu selesai dibangun. Semakin
bagus dan semakin cepat monument itu jadi membuat hati nenek teriris-iris.
Tiada pekerjaan lain selain merenung dan menjaga benderanya sambil menatapi
proses pembangunan monument, ia mengaggap bahwa monument itu tidaklah penting. Yang
penting dan yang sangat-sangat penting ialah benderanya menurut Nenek tersebut.
Terlihat seorang lelaki sedang
gelisah, ia berjalan ke arah
timur menuju ke gubuk tua yang berdiri di samping taman. Tak lama kemudian Ia tiba
di depan pintu gubuk Nenek itu, namun pintu gubuknya tidak terkunci dan suasana
di gubuk itu sangan hening. Ia masuk kedalam, sambil memanggil nenek itu.
“Permisi! Nek...! Nek...!” ucap Kasub Pemda dengan sopan.
Betapa terkejutnya Ia ketika mengetahui
Nenek itu telah tiada. Dilihatnya Nenek itu telah terbaring mendekap kain
berwarna merah putih. Lelaki yang tadi terlihat gelisah itu sangat heran mengapa Nenek itu sangat
menyayangi bendera yang kusam itu, meski diakhir hayatnya Nenek masih bersama
bendera kesayangannya. Dan lebih terkejutnya lagi saat ia
mendapati baju yang berada
tidak jauh dari jasad Nenek itu adalah baju seorang Komandan Pejuang
kemerdekaan, dan sekaligus
mendiang suami Nenek itu.
“Betapa bersalahnya aku, aku telah membuat bukti kemenangan Negara ini disingkirkan, dan
aku juga belum puas atas apa yang aku lakukan, aku masih ingin menyingkirkan
gubuk ini sedangkan gubuk ini adalah saksi bisu kediaman seorang Pahlawan
kemerdekaan.”
Ucap Kasub dengan penuh penyesalan.
***
Seorang lelaki gagah berjalan menuju
pemakaman, dengan seuntai bunga di tangan kanannya Ia akan letakkan di sebuah
makam seorang wanita yang telah membuat Ia sadar akan apa yang Ia lakukan di
masa 3 tahun yang silam, Ia adalah Kasub Pemerintah Daerah.
Belum ada Komentar untuk "Bendera - Mira"
Posting Komentar