google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A Bendera - Mira - PULPENWANKERTAS

Bendera - Mira

Desiran halus sang angin memainkan helaian anak rambut cepak seorang lelaki yang terpaku menatap bangunan yang baru selesai di bangun sejak 3 tahun lalu. Sambil meraba tulisan yang terletak di samping monumen, seketika itu pula memorinya memutar dengan penuh rasa hormat kepada sang nenek yang membuatnya sadar akan harga sebuah perjuangan.
“Aku tidak akan melupakan kejadian 3 tahun yang silam.
            Lelaki itu menghela nafas. Memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana, kemudian melangkah ke arah timur.
***
Terdengar sahut-sahutan beberapa jenis burung liar taman di suatu daerah yang sangat indah dan sangat menawan, aneka pohon rindang penghias taman. Juga bendera yang sangat kumuh disertai tiang yang sudah hampir roboh. Di sisi taman itu terdapat rumah seorang nenek tua yang sudah lanjut usia. Nenek itulah yang dengan setia menjaga bendera itu dari pagi hingga pagi lagi. Nenek itu juga tidak suka apabila ada orang lain yang mendekati benderanya, terutama anak-anak.
“aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketenangan bendera ini.” gumam nenek dalam hati.
Dua puluh lima tahun sudah bendera itu berdiri di taman, dan selama itu pula nenek itu menunggu dan menjaga benderanya. Hingga suatu hari saat terik matahari menyengat, nenek tua itu terdengar  marah-marah karena tiang bendera itu dipanjat anak-anak yang sedang bermain.
Heeey!!! Pergi kalian dari sini! Dasar anak-anak tidak berguna!sentak nenek dengan tertatih saat mengejar anak-anak. Beberapa pasang mata disekitar taman itu memandang sinis ke arah nenek. Mungkin mereka berpikir bahwa nenek itu benar-benar gila. Dengan pakaian yang compang-camping dan kebiasaan berceloteh sendiri, siapa yang tidak mengira dia seperti orang gila?
Setiap hari ada saja anak-anak yang bermain di sekitar bendera itu. Dengan perilaku nenek yang berlebihan terhadap bendera itu, membuatnya semakin dibenci oleh beberapa warga yang kerap melintas, terutma  anak-anak yang bermain di taman.  
Heeey!!! enyah kau dari sini jangan pernah kau dekati bendera milikku ini! teriak nenek itu sambil membawa tongkat di tangan kanannya.
Lihaaat..! Ada nenek gilaaa! ayo kita lari! ucap salah satu dari anak-anak yang sedang bermain di taman.
“ha…..ha….ha…. nenek gila!” sahut yang lain, seraya meninggalkan taman.
Setiap hari hanya itu saja yang dikerjakan oleh nenek itu, tanpa  mengenal lelah dia berkeliling sepanjang hari untuk menjaga bendera kesayangannya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang yang ada di sekitarnya, dia hanya memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjaga benderanya, tanpa ada seorang pun yang mengganggu bendera itu.
Pada akhirnya datanglah Pegawai Pemerntah Daerah yang sedang melihat-lihat lokasi di taman itu. Tujuan Pegawai Pemerintah Daerah datang ke taman tersebut, ingin membangun sebuah monumen.  Sepanjang taman telah mereka telusuri dan mereka menjumpai bendera yang amat kumuh, berdiri di taman tersebut. Sedangkan tempat berdirinya bendera itu akan dijadikan monument.
            “Siapa yang mendirikan bendera disini? ayo cepat lepaskan bendera itu dari tiangnya! dan singkirkan dari sini.” ucap seorang Kasub Pemerntah Daerah kepada anak buahnya.

                                  
            “Hentikan! apa yang kalian lakukan dengan benderaku? Menyingkir kau dari sini!!!Sentak  nenek tua kepada Pegawai Pemerntah Daerah
            “Siapa Anda?” jawab Kasub Pemerntah Daerah
            “Aku yang mempunyai bendera ini. Kenapa kau ingin menyingkirkan benderaku?” sentak nenek seraya mendekati Kasub Pemerintah Daerah.
            “Kami dari Pemerintah Daerah, kami datang ke taman ini untuk menentukan lokasi pembangunan monument, jadi mau tidak mau bendera ini harus disingkirkan.” sahut Kasub Pemerntah Daerah         
“Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh bendera ini.” bantah Nenek tua.
 Dengan keadaan bingung salah seorang anak buah dari Kasub Pemerintah Daerah berpikir.  “Siapa dia? Berani sekali dia melawan pemerintah.”
Kasub Pemerintah Daerah pun berbicara dengan nada halus kepada nenek tersebut, “Mau tidak mau bendera itu harus disingkirkan, Nek. Karena itu sudah keputusan pemerintah.’’seraya para petugas Pemerintah Daerah meninggalkan nenek itu sendiri.
Kegelisahan nenek sudah sangat tinggi, bagaimana ia bisa mempertahankan bendera itu sedangkan bendera itu sudah seperti nyawanya sendiri. hari sudah larut malam nenek itu belum kunjung tidur.
“Aku tidak akan tidur. Kalau aku tidur bagaimana kalau para petugas itu datang dan menyingkirkan benderaku? ucap nenek dalam hati, dia pun berjalan mendekati bendera tersebut sambil menggerutu,dan dengan wajah panik dia pun tetap memperjuangkan bendera itu.
Hari sudah pagi petugas  Pemerintah Daerah pun kembali datang.
“Mengapa bendera itu masih ada disini?” Ucap salah satu karyawan Pemerintah Daerah
“Sepertinya bendera itu tidak akan mungkin disingkirkan oleh nenek itu, sebaiknya kita sendiri yang menyingkirkannya secara paksa.” sahut salah satu temannya.
“Tidak. Aku rasa kita jangan lakukan itu, kita harus cari jalan keluar yang lain, aku tau apabila seseorang sangat mempertahankan benda miliknya pasti itu sangat berarti baginya, kita harus berbicara baik-baik dengannya.”
Karyawan Pemerintah Daerah pun berpikir apa yang harus mereka katakan agar nenek itu mau menyingkirkan benderanya?
“Sebaiknya, aku datangi saja ke rumah Nenek itu untuk berbicara dengannya secara baik-baik.” gumam Kasub Pemerintah Daerah.
Sambil berjalan menuju rumah nenek itu para karyawan Pemerintah Daerah itu berpikir dan menyiapkan bahan yang harus dibicarakan dengan nenek. Disisi lain, bahan material untuk pembangunan monument sudah datang dan para pekerja siap untuk membuat monumennya, tetapi sedikit masalah yang disebabkan bendera itu semua pekerjaan jadi tersendat dan ini menjadi masalah besar.
“Nek... Nek…” kata salah satu karyawan Pemerintah Daerah
“Siapa...?”  sahut Nenek sambil membuka pintu
“Apakah kami boleh masuk Nek? Kami ingin berbicara denganmu Nek!” kata Kasub Pemerintah Daerah.
Wajah Nenek mulai geram melihat kedatangan karyawan Pemerintah Daerah itu.
Jadi begini, kedatangan kami kemari ingin membahas tentang bendera yang terletak di taman ini, bagaimana pun caranya bendera itu harus dipindah atau disingkirkan karena lokasi ini akan dijadikan tempat pembangunan monument Negara. Dan ini perintah dari atasan kami, dan Nenek juga tidak memiliki hak atas wilayah ini, jadi kami pertegas lagi agar Nenek harus segera menyingkirkan bendera yang ada di taman ini.” ucap Kasub Pemerintah Daerah.
Mendengar perkatakaan dari Kasub Pemerintah Daerah, Nenek pun terdiam, matanya mulai berbinar, bagaimana mungkin bendera yang telah lama dijaganya selama kurang lebih dua puluh lima tahun kini akan dihancurkan oleh Pemerintah setempat, dengan dalih ingin digantikan sebuah monument yang menurut dia bukan sebuah simbol sejarah dan kurang bermakna jika  dibandingkan dengan benderanya. 
Karyawan Pemerintah Daerah itu meninggalkan rumah Nenek.. Sambil berlari kecil nenek itu mengejar  para karyawan Pemerintah Daerah.
“Hey...! Berhenti...! Aku tetap tidak mau memindahkan bendera itu.” spontan suara dikeluarkan oleh Nenek.
Nek, alangkah baiknya jika nenek tidak bersikap seperti itu seharusnya Nenek juga memikirkan nasib Negara kita, Nenek jangan mementingkan diri sendiri. Ini semua bukan kehendak kami, tapi ini semua kehendak Rakyat demi berkembangnya Negara kita ini.”
***
Pada akhirnya Nenek memutuskan menurunkan bendera itu dengan sangat berat hati. Bendera yang sangat sudah jelek itu disimpan rapi di dalam lemarinya, Nenek itu masih belum ikhlas menerima semua itu setiap hari ia memikirkan nasib bendera itu, dengan keadaan yang demikian nenek itu tidak peduli dengan kondisi dirinya yang lemah akibat tidak memperdulikan  makan karena memikirkan bendera kesayangannya itu, sampai nenek itu sakit karna tidak makan seharian karena bendera itu, dalam keadaan sakit nenek itu pun tetap menjaga bendera itu hingga ia tidak lagi memperdulikan dirinya dalam batinnya, ia hanya memperedulikan benderanya saja.
Lambat hari sakitnya semakin parah. Kini ia hanya bisa memandangi tempat di mana dulu bendera itu berdiri sekarang sudah berubah menjadi pondasi monument. Terkadang wanita lanjut usia itu menitikkan air matanya, mengira bahwa dirinya tidak berguna. Menyesali, mengapa ia bisa mengorbankan bendera yang sangat bermakna itu digantikan oleh bangunan yang baru. Kondisi tubuh yang semakin ringkih tidak lagi  ia permasalahkan karena betapa cintanya ia terhadap tanah air
Sekarang apa yang harus aku lakukan?gumam nenek dalam hati.
Hari demi hari ia lewati dengan penuh penyesalan, akibat rasa sayang yang berlebihan itulah yang semakin membuatnya merasa menyesal.
Namun semua sudah terlanjur, Nenek pun tak dapat berbuat banyak. Terkadang, ia bersikap berontak karena tidak terima dengan apa yang telah terjadi. Bangunan monument itu sudah setengah berdiri dengan kokoh. Hanya beberapa bagaian lagi monument itu selesai dibangun. Semakin bagus dan semakin cepat monument itu jadi membuat hati nenek teriris-iris. Tiada pekerjaan lain selain merenung dan menjaga benderanya sambil menatapi proses pembangunan monument, ia mengaggap bahwa monument itu tidaklah penting. Yang penting dan yang sangat-sangat penting ialah benderanya menurut Nenek tersebut.
Terlihat seorang lelaki sedang gelisah, ia berjalan ke arah timur menuju ke gubuk tua yang berdiri di samping taman. Tak lama kemudian Ia tiba di depan pintu gubuk Nenek itu, namun pintu gubuknya tidak terkunci dan suasana di gubuk itu sangan hening. Ia masuk kedalam, sambil memanggil nenek itu.
Permisi! Nek...! Nek...! ucap Kasub Pemda dengan sopan.
            Betapa terkejutnya Ia ketika mengetahui Nenek itu telah tiada. Dilihatnya Nenek itu telah terbaring mendekap kain berwarna merah putih. Lelaki yang tadi terlihat gelisah itu sangat heran mengapa Nenek itu sangat menyayangi bendera yang kusam itu, meski diakhir hayatnya Nenek masih bersama bendera kesayangannya. Dan lebih terkejutnya lagi saat ia mendapati baju yang berada tidak jauh dari jasad Nenek itu adalah baju seorang Komandan Pejuang kemerdekaan, dan  sekaligus mendiang suami Nenek itu.
Betapa bersalahnya aku, aku telah membuat  bukti kemenangan Negara ini disingkirkan, dan aku juga belum puas atas apa yang aku lakukan, aku masih ingin menyingkirkan gubuk ini sedangkan gubuk ini adalah saksi bisu kediaman seorang Pahlawan kemerdekaan. Ucap Kasub dengan penuh penyesalan.

  ***

            Seorang lelaki gagah berjalan menuju pemakaman, dengan seuntai bunga di tangan kanannya Ia akan letakkan di sebuah makam seorang wanita yang telah membuat Ia sadar akan apa yang Ia lakukan di masa 3 tahun yang silam, Ia adalah Kasub Pemerintah Daerah.
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "Bendera - Mira"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel