Seyum Terakhir - Vanti
Rabu, 25 Mei 2016
Tulis Komentar
Hari
mulai pagi, matahar tampak memancarkan sinarnya dengan malu-malu. Kicauan
burung-burung pun ikut meramaikan suasana pagi yang cerah di Desa Produksi,
Kecamatan Mentewe. Terlihat petani yang sedang berjalan dengan memanggul
cangkul dan menggenggam batang sabit di salah satu tangannya, menuju ladang
dengan sesekali bertegur sapa dengan petani lain ketika berpapasan. Asap tampak
membumbung dari rumah-rumah penduduk, mengisyaratkan, seolah tulisan alam jika
para ibu rumah tangga sedang membuatkan sarapan pagi untuk suami dan anak
mereka.
Semua
kesibukan itu juga tampak di salah satu rumah penduduk. Meski pun rumah itu kecil dengan pekarangan yang tidak terlalu luas,
namun terlihat rapi dan indah karena terawat dengan teliti. Bunga-bunga yang
cantik tumbuh subur di setiap sudut depan rumah tersebut. Rumah kecil itu
ditinggali oleh seorang ibu dan kedua anaknya. Ibu itu biasa dipanggil Bu
Wiwin, yang pekerjaan hariannya ialah
menjahit
baju pesanan tetangga dengan upah yang tidak seberapa. Suaminya telah lama
meninggal, akibat kecelakaan
mobil. Sejak itu, Bu Wiwin harus berjuang sendiri untuk melengkapi kebutuhan
hidup keluarganya.
“Agung
berangkat sekolah dulu ya Bu, sudah siang soalnya,” terdengar suara dari dalam rumah.
“Hati-hati
ya Gung, kalau pulang jangan mampir-mampir dulu. Soalnya hari ini Ibu mau
mengantar baju pesanan Bu Marni.” Pesan Ibunya.
“
Iya Bang, nanti Mita sendirian di rumah.” terdengar suara gadis cilik ikut menimpali
ucapan Ibunya.
“
Hehehe, iya iyaa. Assalamualikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Jawab Ibu Wiwin
Setelah
bersalaman dengan Ibunya, Agung bergegas mengayuh sepedanya menuju ke sekolah
yang tempatnya lumayan jauh di Kecamatan. Maklum, karena di Desa Produksi belum
ada sekolah tingkat SMA yang dibangun. Jadi, setiap anak yang sekolah harus
pergi ke Kecamatan. Suka Damai, dan Agung baru kelas 10 di MA Al-Ihsan di
kecamatan Mentewe.
Setelah
Agung anak tertuanya itu berangkat, Ibu Wiwin segera melanjutkan kegiatannya
untuk membersihkan rumah dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya. Sambil
bekerja, Ibu Wiwin sesekali bercanda dengan si kecil Mita yang selalu
menanyakan berbagai hal yang menurutnya asing dan baru. Meski hanya tinggal di
rumah, Ibu Wiwin tidak pernah mengeluh dan bosan dengan pekerjaannya yang hanya
itu-itu saja. Apa lagi dengan hadirnya Mita, yang selalu memberikan hiburan dengan
tingkah lucunya.
Hari
itu Ibu Wiwin terlihat lesu. Pucat di wajahnya menandakan bahwa ia sangat
kelelahan. Namun, Ibu Wiwin tidak peduli dengan keadaan tubuhnya yang mulai
terasa lemas. Ia terus mengerjakan jahitannya, karena baju itu harus segera
diantarkan kepada pemiliknya.
***
Di
sekolah, entah mengapa Agung merasa tidak nyaman dan tidak seperti biasanya.
Walaupun ia ingat pesan Ibunya untuk cepat pulang, tapi ini berbeda. Yang ada
dipikirannya saat itu hanyalah pulang dan bertemu dengan Ibunya.
“Kamu
kenapa sih Gung?” tanya sohibnya, Henry. “Dari tadi aku perhatikan, kamu gelisah
terus. Nanti kena marah Pak Kumis lagi lho. Hehehe…” bisik Henry.
Pak
Kumis adalah julukan yang diberikan para siswa untuk Guru Matematika yang
terkenal killer dan kebetulan memang berkumis. Tetapi sebetulnya, dia sangat
baik dan perhatian dengan siswa-siswanya.
“Tidak
ada apa-apa kok. Aku cuma merasa aneh saja, seperti ada sesuatu yang membuat
aku tidak tenang. ” Jawab Agung ikut berbisik pula.
Tanpa
disadari ketika asik berbisik-bisik mereka diperhatikan oleh Pak Rudi atau Pak
Kumis yang sedang menjelaskan pelajaran.
“
Hei, kalian berdua yang di belakang. Ya, Agung dan Henry. Maju ke depan dan
silahkan kerjakan soal nomor 4 dan 5.” Perintah Pak Rudi mengagetkan. Mereka
pun tersenyum malu karena diperhatikan oleh seluruh siswa di kelas sembari
melangkah ke depan.
***
Kriiiingg
kriiingg kriiingg..
Bel
tanda sekolah usai telah berbunyi. Agung pun menghembuskan nafas lega. Setelah
selesai berdoa bersama sebelum pulang, Agung terlihat berlari-lari kecil menuju
ke tempat dimana sepedanya ditambatkan, Agung melambaikan tangannya pada Henry
yang sedang berjalan pulang karena rumahnya dekat dengan sekolah. Setelah
mendapatkan sepedanya, Agung bergegas mengayuh pedal sepeda dengan kencang. Ia
ingin sesegera mungkin sampai di rumah.
“Heii..!
Aku duluan ya!” Sapa Agung ketika sepedanya mendahului Henry yang sedang berjalan.
“
Iyaa..! Hati-hati Gung!” jawab Henry berteriak agar perkataannya didengar
Agung.
“
Siip! Hehehe…” kata Agung menengok ke belakang sambil mengacungkan jempol
tangan kirinya.
Keringat
pun membasahi seluruh tubuh Agung, karena hari itu matahari terasa sangat panas.
Namun, ia tidak menghiraukanya. Yang ia inginkan saat itu hanyalah secepat
mungkin sampai di rumah dan
menghilangkan kegelisahannya. Rasa lapar dan haus yang dirasakan, tidak membuat
Agung ingin berhenti sejenak. Walaupun untuk membeli es seperti biasa yang ia
lakukan ketika pulang sekolah jika hari sedang panas.
Tanpa
terasa, Agung sudah sampai depan rumahnya. Teapi ada sesuatu yang aneh dirasa. “Kenapa ya, kok rumahku sepi sekali?
Biasanya Mita atau Ibu langsung keluar ketika mendengar aku pulang,” batin
Agung. “Ah, mungkin Mita ikut Ibu ke
rumah Bu Marni mengantar baju pesanannya.” Batin Agung lagi mencoba
berfikir positif.
Meskipun
ia tahu, biasanya ibu baru mengantar pesanan setelah ia pulang. Agung bergegas masuk rumah karena rasa lapar
dan hausnya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Ketika sampai di depan pintu,
Agung dikejutkan oleh suara tangis adiknya di dalam. Agung segera masuk, dan
dilihatnya sang adik sedang menangis di samping Ibunya yang terbaring tanpa
bergerak di depan pintu ruang menjahit. Rasa lapar dan hausnya menguap seketika
melihat hal itu.
“Astaghfirullah!
Ibu kenapa Mita?!” dengan
cemas Agung segera menyentuh wajah pucat Ibunya. Dirasakan panas yang menyengat
ditangannya ketika menyentuh dahi ibunya.
“Tadi
Ibu mau membuat
teh manis, kata ibu kepalanya pusing. Terus tiba-tiba Ibu jatuh, Bang,” kata
Mita mencoba menjelaskan disela isak tangisnya. “ Terus Ibu tidak bangun lagi,
waktu Mita coba membangunkan Ibu.”
Sambil
mendengarkan penjelasan Mita, Agung mencoba mengangkat tubuh ringkih ibunya
untuk dibawa ke kamar tidur.
“Mita,
jaga Ibu sebentar ya? Abang mau ke rumah Pak Herman dulu. Abang mau minta
bantuan supaya bisa bawa Ibu ke Puskesmas.” Kata Agung menjelaskan langsung
bergegas.
Mita
hanya mengangguk, karena Ia masih tidak tahu mengapa Ibunya tidak
bangun-bangun. Setelah berkata seperti itu, Agung bergegas ke rumah Pak RT
tersebut. Di jalan, barulah Ia tahu mengapa tadi perasaannya berubah menjadi tidak
enak. Setelah sampai di rumah pak Herman, yang kebetulan sedang berada di
rumah. Agung segera menjelaskan apa yag terjadi hingga Ia datang ke rumahnya.
Setelah mendengarkan dengan seksama, Pak Herman segera mengatakan bersedia
untuk membantu.
Setelah
menitipkan Mita kepada tetangga sebelah rumahnya, dan dengan mengendarai mobil
milik Pak Herman, Agung segera menuju Puskesmas yang tempatnya cukup jauh dari
rumah Agung. Ketika sampai, ternyata puskesmas itu sudah sepi dan tinggal
sorang Dokter dan beberapa Perawat saja yang ada. Dengan tergesa-gesa, Agung
segera masuk ke dalam puskesmas dan menjelaskan bahwa Ibunya sedang sakit.
“Sebelumnya
kami minta maaf dik, kami tidak bisa merawat Ibu adik di sini. Seperti yang
Adik ketahui, Puskesmas ini tidak memiliki peralatan yang lengkap.” Kata Dokter
tersebut menjelaskan pada Agung setelah memeriksa Ibu Wiwin.
”Sebaiknya,
Adik bawa Ibu ke rumah sakit saja. Selain memiliki peralatan yang lengkap, di
sana juga memiliki tempat yang terjamin.”
“Tapi
Dokter, bagaimana saya bisa membawa Ibu kesana? Saya belum tahu seperti apa
prosedur yang harus dilakukan ketika masuk ke sana,” kata Agung lagi dengan
wajah yang terlihat sangat bingung.
“Dek
Agung tenang saja, saya akan membuatkan surat rujukan dari Puskesmas ini.
Sehingga akan membuat Dek Agung lebih mudah ketika berada di sana.” Jawab
Dokter sambil tersenyum menyemangati.
Sambil
menunggu Dokter membuatkan surat rujukan, Agung duduk disamping Ibunya yang
tertidur di tempat periksa pasien di ruangan Dokter yang biasa digunakan untuk praktek.
Hati kecilnya bertanya-tanya. “Apa yang
yang harus kulakukan sekarang? Di rumah sakit, kan, biayanya sangat mahal. Apa
lagi jika rawat inap. Ah, aku tidak usah memikirkan hal itu dulu! Yang penting
aku harus membawa Ibu kerumah sakit.”
Tak
lama kemudian, Dokter memberikan surat rujukan untuk membawa Ibu Wiwin ke rumah
sakit. Setelah menerima surat rujukan tersebut, Agung pun membawa Ibunya ke
rumah sakit yang letaknya di Kabupaten dengan menggunakan mobil ambulans.
Sedangkan Pak Herman sudah pulang setelah mengantarkannya ke Puskemas tadi.
Karena ada suatu rapat penting di Balai Desa.
Dengan
keteguhan hati, Agung akhirnya berhasil membuat Ibunya dirawat di rumah sakit
itu. Meskipun harus melalui beberapa proses rumit dan membingungkan, serta
menulis beberapa formulir yang harus diisi dan ditanda tangani.
***
Ibunya sudah dirawat selama seminggu di rumah
sakit. Dokter mengatakan bahwa Ibunya terkena penyakit DBD ( Demam Berdarah Dangue)
yang memang saat itu sedang musim. Ibunya juga mengalami tekanan trombosit yang
rendah dan memiliki penyakit magh akut. Akhirnya ibu Wiwin
pun harus diinfus dan dirawat dengan
hati-hati. Dan selama itu pula Mita dititipkan di rumah saudaranya yang terletak
di Kabupaten Kotabaru.
Sedangkan
Agung sendiri, ia tidak pergi ke sekolah. Agung menggunakan waktunya untuk
bekerja serabutan. Yaitu mengerjakan pekerjaan apa saja yang dapat dilakukannya
untuk mendapatkan uang yang halal. Uang
itu dipergunakannya untuk menambahkan uang simpanan ibunya yang harus dibayarkan untuk
pengobatan sang ibu
tercinta.
***
Sore itu, seperti biasanya Agung sedang
bekerja sebagai pengangkut barang di pelabuhan tempat kapal pedagang bongkar
muat barang. Dengan peluh yang bercucuran di wajah
dan punggungnya, Agung tetap terlihat bersemangat mengerjakan pekerjaannya.
Agung tidak pernah mengeluh selama ia melakukan pekerjaan itu. Setelah barang
yang harus diangkut dari kapal sudah habis, dan mendapatkan bayaran untuk
pekerjaan itu,
para pekerja pun bergegas mendatangi
kapal lainnya yang baru datang. Agung memilih untuk beristirahat sejenak, dan
duduk di salah satu pinggiran pelabuhan yang cukup dekat dengan pantai. Sambil
menghitung uang yang didapatnya seharian itu, Agung terlihat sedang memandang
ke arah lautan dengan wajah yang sulit digambarkan.
Tanpa
disadarinya, tampak seseorang sedang memperhatikan Agung dengan simpati yang
terlihat diraut wajahnya. Dengan langkah tegap, seseorang itu mendekati Agung.
“
Agung..” sapa orang itu sambil menepuk bahunya. Seseorang itu tak lain adalah
Pak Rudi yang merupakan Guru matematika yang sekaligus Wali Kelasnya.
“
Bapak...!” Agung sangat terkejut melihat Wali Kelasnya sedang berdiri
dibelakangnya. “Dari kapan Bapak ada di sini?” tanya Agung untuk menghilangkan
kegugupannya.
“
Sebenarnya sudah dari tadi Gung,” kata Pak Rudi.” Sudah seminggu lebih kamu
tidak sekolah. Ada apa dengan kamu? Semua teman-teman kamu sudah Bapak tanya,
tapi mereka tidak ada yang tahu.”
Agung hanya menunduk sedih mendengar
pertanyaan dari Pak Rudi. Ia merasa bingung,”Haruskah aku menceritakan semuanya?”
tanya
Agung dalam hati. Setelah menimbang-nimbang dalam hati, “Baiklah,
mungkin aku harus berbicara dengan seseorang. Yang bisa mengerti keadaanku dan
bisa membuat pikiranku menjadi tenang.” Batin Agung lagi.
Pak
Rudi sengaja membiarkan Agung yang terlihat diam dan belum menjawab
pertanyaannya. Akhirnya, setelah terdiam cukup lama. Agung pun membuka mulutnya
dan menjelaskan segala hal yang terjadi padanya selama ini. Termasuk tentang
penyakit Ibunya. Pak Rudi pun mendengarkan semua penjelasan itu dengan seksama
dan terlihat wajahnya yang menunjukkan keprihatinan akan apa yang terjadi pada
muridnya, Agung.
“
Begitulah Pak, oleh karena
itu, saya harus bekerja untuk membantu Ibu membayar biaya rumah sakit,” kata Agung
mengakhiri ceritanya.
Tanpa
terasa, mereka telah berbincang cukup lama, dan matahari hanya meninggalkan
seberkas cahaya kemerahaan di atas lautan yang tampak indah. Agung dan Pak Rudi pun memutuskan
untuk berpisah. Sebelum berpisah, Pak Rudi mengatakan bahwa ia akan membantunya
untuk membayar biaya rumah sakit, asal Agung segera masuk kembali ke sekolah. Sepeninggalan
Pak Rudi, Agung segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat untuk
pulang. Di perjalanan, Agung memikirkan maksud perkataan Pak Rudi tadi. Dan
tanpa sadar telah sampai rumah. Agung pun bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap menuju ke
rumah sakit untuk menemani sang Ibu di malam hari.
Agung
sampai di rumah sakit sekitar pukul 21.00 WITA. Saat sampai di ruangan tempat Ibu Wiwin
di rawat, tampak seraut wajah pucat tersenyum kepadanya. Sambil duduk di
samping Ibunya, Agung berusaha terlihat ceria. Meskipun terlihat dari matanya,
bahwa ia sangat sedih melihat ibunya yang semakin kurus dan pucat.
“
Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Mita katanya sudah kangen loh, ingin ketemu Ibu,” kata Agung sambil tersenyum.
“
Alhamdulillah, Ibu merasa sudah agak baikan. Ibu juga kangen banget sama Mita,
Gung. Besok kalau kesini Mita dibawa ya?”
pinta Ibunya. “Gung, Ibu minta maaf ya. Ibu
sudah meropatkan kamu terus. Ibu tidak enak sama kamu.”
“Ibu jangan bilang gitu. Agung senang kok,
bisa melakukan hal ini semua buat Ibu,” jawab Agung sambil tersenyum.
Setelah
cukup lama bercakap-cakap, Ibu Wiwin terlihat lelah dan mengatakan bahwa ia
ingin beristirahat. Agung pun ikut beristirahat dengan tidur bersandar dikursi
yang berada di ruangan itu.
***
Hujan
gerimis menambahkan kesedihan yang terukir di wajah seorang pemuda dan gadis
kecilnya. Seakan dunia ikut berduka bersama mereka. Agung tidak pernah
menyangka, bahwa saat itu adalah malam terakhir bercakap-cakap dan bergurau
dengan Ibunya. Tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya hal itu akan terjadi.
Agung
masih bisa membayangkan senyuman sang Ibu di malam itu. “Tolong kamu jaga Mita ya, Gung. Kamu juga harus sekolah terus, jangan
berhenti di tengah jalan. Apa pun yang terjadi kamu harus tetap semangat. Tidak
ada yang tidak mungkin, Gung. Selama kita mau berusaha,”
Itulah pesan yang
diucapkan Ibunya malam itu sebelum pergi tidur. Agung mengira, itu hanya pesan
biasa yang disampaikan ketika hendak tidur.
“
Agung,” panggil Pak Rudi sambil menepuk bahunya. “Sudah terlalu lama kita di sini. Kasihan
Mita, dia juga sudah kedinginan.”
“
Iya Bang, ayo kita pulang. “ kata Mita. Ia sekarang sudah tahu apa yang terjadi
pada Ibunya. Ia harus belajar mengerti dengan semua keadaan ini.
Setelah
mengucapkan doa untuk
yang terakhir kalinya,
mereka pun pergi meninggalkan pemakaman
bersama-sama.
Mulai saat itu, Agung
dan adiknya tinggal bersama dengan Pak Rudi dan istrinya. Pak Rudi dan Istrinya
tidak dikaruniai seorang anak, sehingga dengan hadirnya Agung dan Mita membuat
kerinduan mereka terhadap seorang anak terobati.
Belum ada Komentar untuk "Seyum Terakhir - Vanti"
Posting Komentar