google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A Seyum Terakhir - Vanti - PULPENWANKERTAS

Seyum Terakhir - Vanti

Hari mulai pagi, matahar tampak memancarkan sinarnya dengan malu-malu. Kicauan burung-burung pun ikut meramaikan suasana pagi yang cerah di Desa Produksi, Kecamatan Mentewe. Terlihat petani yang sedang berjalan dengan memanggul cangkul dan menggenggam batang sabit di salah satu tangannya, menuju ladang dengan sesekali bertegur sapa dengan petani lain ketika berpapasan. Asap tampak membumbung dari rumah-rumah penduduk, mengisyaratkan, seolah tulisan alam jika para ibu rumah tangga sedang membuatkan sarapan pagi untuk suami dan anak mereka.
Semua kesibukan itu juga tampak di salah satu rumah penduduk. Meski pun rumah itu kecil  dengan pekarangan yang tidak terlalu luas, namun terlihat rapi dan indah karena terawat dengan teliti. Bunga-bunga yang cantik tumbuh subur di setiap sudut depan rumah tersebut. Rumah kecil itu ditinggali oleh seorang ibu dan kedua anaknya. Ibu itu biasa dipanggil Bu Wiwin, yang pekerjaan hariannya ialah menjahit baju pesanan tetangga dengan upah yang tidak seberapa. Suaminya telah lama meninggal, akibat kecelakaan mobil. Sejak itu, Bu Wiwin harus berjuang sendiri untuk melengkapi kebutuhan hidup keluarganya.
“Agung berangkat sekolah dulu ya Bu, sudah siang soalnya,” terdengar suara dari dalam rumah.
“Hati-hati ya Gung, kalau pulang jangan mampir-mampir dulu. Soalnya hari ini Ibu mau mengantar baju pesanan Bu Marni.” Pesan Ibunya.
“ Iya Bang, nanti Mita sendirian di rumah.” terdengar suara gadis cilik ikut menimpali ucapan Ibunya.
“ Hehehe, iya iyaa. Assalamualikum.”
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Ibu Wiwin
Setelah bersalaman dengan Ibunya, Agung bergegas mengayuh sepedanya menuju ke sekolah yang tempatnya lumayan jauh di Kecamatan. Maklum, karena di Desa Produksi belum ada sekolah tingkat SMA yang dibangun. Jadi, setiap anak yang sekolah harus pergi ke Kecamatan. Suka Damai, dan Agung baru kelas 10 di MA Al-Ihsan di kecamatan Mentewe. 
Setelah Agung anak tertuanya itu berangkat, Ibu Wiwin segera melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan rumah dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya. Sambil bekerja, Ibu Wiwin sesekali bercanda dengan si kecil Mita yang selalu menanyakan berbagai hal yang menurutnya asing dan baru. Meski hanya tinggal di rumah, Ibu Wiwin tidak pernah mengeluh dan bosan dengan pekerjaannya yang hanya itu-itu saja. Apa lagi dengan hadirnya Mita, yang selalu memberikan hiburan dengan tingkah lucunya.
Hari itu Ibu Wiwin terlihat lesu. Pucat di wajahnya menandakan bahwa ia sangat kelelahan. Namun, Ibu Wiwin tidak peduli dengan keadaan tubuhnya yang mulai terasa lemas. Ia terus mengerjakan jahitannya, karena baju itu harus segera diantarkan kepada pemiliknya.
***
Di sekolah, entah mengapa Agung merasa tidak nyaman dan tidak seperti biasanya. Walaupun ia ingat pesan Ibunya untuk cepat pulang, tapi ini berbeda. Yang ada dipikirannya saat itu hanyalah pulang dan bertemu dengan Ibunya.
“Kamu kenapa sih Gung?” tanya sohibnya, Henry. “Dari tadi aku perhatikan, kamu gelisah terus. Nanti kena marah Pak Kumis lagi lho. Hehehe…” bisik Henry.
Pak Kumis adalah julukan yang diberikan para siswa untuk Guru Matematika yang terkenal killer dan kebetulan memang berkumis. Tetapi sebetulnya, dia sangat baik dan perhatian dengan siswa-siswanya.
“Tidak ada apa-apa kok. Aku cuma merasa aneh saja, seperti ada sesuatu yang membuat aku tidak tenang. ” Jawab Agung ikut berbisik pula.
Tanpa disadari ketika asik berbisik-bisik mereka diperhatikan oleh Pak Rudi atau Pak Kumis  yang sedang menjelaskan pelajaran.
“ Hei, kalian berdua yang di belakang. Ya, Agung dan Henry. Maju ke depan dan silahkan kerjakan soal nomor 4 dan 5.” Perintah Pak Rudi mengagetkan. Mereka pun tersenyum malu karena diperhatikan oleh seluruh siswa di kelas sembari melangkah ke depan.
***
Kriiiingg kriiingg kriiingg..
Bel tanda sekolah usai telah berbunyi. Agung pun menghembuskan nafas lega. Setelah selesai berdoa bersama sebelum pulang, Agung terlihat berlari-lari kecil menuju ke tempat dimana sepedanya ditambatkan, Agung melambaikan tangannya pada Henry yang sedang berjalan pulang karena rumahnya dekat dengan sekolah. Setelah mendapatkan sepedanya, Agung bergegas mengayuh pedal sepeda dengan kencang. Ia ingin sesegera mungkin sampai di rumah.
“Heii..! Aku duluan ya!” Sapa Agung ketika sepedanya mendahului Henry yang sedang berjalan.
“ Iyaa..! Hati-hati Gung!” jawab Henry berteriak agar perkataannya didengar Agung.
“ Siip! Hehehe…” kata Agung menengok ke belakang sambil mengacungkan jempol tangan kirinya.
Keringat pun membasahi seluruh tubuh Agung, karena hari itu matahari terasa sangat panas. Namun, ia tidak menghiraukanya. Yang ia inginkan saat itu hanyalah secepat mungkin sampai di rumah  dan menghilangkan kegelisahannya. Rasa lapar dan haus yang dirasakan, tidak membuat Agung ingin berhenti sejenak. Walaupun untuk membeli es seperti biasa yang ia lakukan ketika pulang sekolah jika hari sedang panas.  
Tanpa terasa, Agung sudah sampai depan rumahnya. Teapi ada sesuatu yang aneh dirasa. “Kenapa ya, kok rumahku sepi sekali? Biasanya Mita atau Ibu langsung keluar ketika mendengar aku pulang,” batin Agung. “Ah, mungkin Mita ikut Ibu ke rumah Bu Marni mengantar baju pesanannya.” Batin Agung lagi mencoba berfikir positif.
Meskipun ia tahu, biasanya ibu baru mengantar pesanan setelah ia pulang.  Agung bergegas masuk rumah karena rasa lapar dan hausnya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Ketika sampai di depan pintu, Agung dikejutkan oleh suara tangis adiknya di dalam. Agung segera masuk, dan dilihatnya sang adik sedang menangis di samping Ibunya yang terbaring tanpa bergerak di depan pintu ruang menjahit. Rasa lapar dan hausnya menguap seketika melihat hal itu.
“Astaghfirullah! Ibu kenapa Mita?!” dengan cemas Agung segera menyentuh wajah pucat Ibunya. Dirasakan panas yang menyengat ditangannya ketika menyentuh dahi ibunya.
“Tadi Ibu mau membuat teh manis, kata ibu kepalanya pusing. Terus tiba-tiba Ibu jatuh, Bang,kata Mita mencoba menjelaskan disela isak tangisnya. “ Terus Ibu tidak bangun lagi, waktu Mita coba membangunkan Ibu.”
Sambil mendengarkan penjelasan Mita, Agung mencoba mengangkat tubuh ringkih ibunya untuk dibawa ke kamar tidur.  
“Mita, jaga Ibu sebentar ya? Abang mau ke rumah Pak Herman dulu. Abang mau minta bantuan supaya bisa bawa Ibu ke Puskesmas.” Kata Agung menjelaskan langsung bergegas.
Mita hanya mengangguk, karena Ia masih tidak tahu mengapa Ibunya tidak bangun-bangun. Setelah berkata seperti itu, Agung bergegas ke rumah Pak RT tersebut. Di jalan, barulah Ia tahu mengapa tadi perasaannya berubah menjadi tidak enak. Setelah sampai di rumah pak Herman, yang kebetulan sedang berada di rumah. Agung segera menjelaskan apa yag terjadi hingga Ia datang ke rumahnya. Setelah mendengarkan dengan seksama, Pak Herman segera mengatakan bersedia untuk membantu.
Setelah menitipkan Mita kepada tetangga sebelah rumahnya, dan dengan mengendarai mobil milik Pak Herman, Agung segera menuju Puskesmas yang tempatnya cukup jauh dari rumah Agung. Ketika sampai, ternyata puskesmas itu sudah sepi dan tinggal sorang Dokter dan beberapa Perawat saja yang ada. Dengan tergesa-gesa, Agung segera masuk ke dalam puskesmas dan menjelaskan bahwa Ibunya sedang sakit.
“Sebelumnya kami minta maaf dik, kami tidak bisa merawat Ibu adik di sini. Seperti yang Adik ketahui, Puskesmas ini tidak memiliki peralatan yang lengkap.” Kata Dokter tersebut menjelaskan pada Agung setelah memeriksa Ibu Wiwin.
”Sebaiknya, Adik bawa Ibu ke rumah sakit saja. Selain memiliki peralatan yang lengkap, di sana juga memiliki tempat yang terjamin.”
“Tapi Dokter, bagaimana saya bisa membawa Ibu kesana? Saya belum tahu seperti apa prosedur yang harus dilakukan ketika masuk ke sana,” kata Agung lagi dengan wajah yang terlihat sangat bingung.
“Dek Agung tenang saja, saya akan membuatkan surat rujukan dari Puskesmas ini. Sehingga akan membuat Dek Agung lebih mudah ketika berada di sana.” Jawab Dokter sambil tersenyum menyemangati.
Sambil menunggu Dokter membuatkan surat rujukan, Agung duduk disamping Ibunya yang tertidur di tempat periksa pasien di ruangan Dokter yang biasa digunakan untuk praktek. Hati kecilnya bertanya-tanya. “Apa yang yang harus kulakukan sekarang? Di rumah sakit, kan, biayanya sangat mahal. Apa lagi jika rawat inap. Ah, aku tidak usah memikirkan hal itu dulu! Yang penting aku harus membawa Ibu kerumah sakit.”  
Tak lama kemudian, Dokter memberikan surat rujukan untuk membawa Ibu Wiwin ke rumah sakit. Setelah menerima surat rujukan tersebut, Agung pun membawa Ibunya ke rumah sakit yang letaknya di Kabupaten dengan menggunakan mobil ambulans. Sedangkan Pak Herman sudah pulang setelah mengantarkannya ke Puskemas tadi. Karena ada suatu rapat penting di Balai Desa. 
Dengan keteguhan hati, Agung akhirnya berhasil membuat Ibunya dirawat di rumah sakit itu. Meskipun harus melalui beberapa proses rumit dan membingungkan, serta menulis beberapa formulir yang harus diisi dan ditanda tangani.
***
 Ibunya sudah dirawat selama seminggu di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Ibunya terkena penyakit DBD ( Demam Berdarah Dangue) yang memang saat itu sedang musim. Ibunya juga mengalami tekanan trombosit yang rendah dan memiliki penyakit magh akut. Akhirnya ibu Wiwin pun harus diinfus dan dirawat dengan hati-hati. Dan selama itu pula Mita dititipkan di rumah saudaranya yang terletak di Kabupaten Kotabaru.
Sedangkan Agung sendiri, ia tidak pergi ke sekolah. Agung menggunakan waktunya untuk bekerja serabutan. Yaitu mengerjakan pekerjaan apa saja yang dapat dilakukannya untuk mendapatkan uang yang halal. Uang itu dipergunakannya untuk menambahkan uang simpanan ibunya yang harus dibayarkan untuk pengobatan sang ibu tercinta.
***
 Sore itu, seperti biasanya Agung sedang bekerja sebagai pengangkut barang di pelabuhan tempat kapal pedagang bongkar muat barang. Dengan peluh yang bercucuran di wajah dan punggungnya, Agung tetap terlihat bersemangat mengerjakan pekerjaannya. Agung tidak pernah mengeluh selama ia melakukan pekerjaan itu. Setelah barang yang harus diangkut dari kapal sudah habis, dan mendapatkan bayaran untuk pekerjaan itu, para pekerja pun bergegas mendatangi kapal lainnya yang baru datang. Agung memilih untuk beristirahat sejenak, dan duduk di salah satu pinggiran pelabuhan yang cukup dekat dengan pantai. Sambil menghitung uang yang didapatnya seharian itu, Agung terlihat sedang memandang ke arah lautan dengan wajah yang sulit digambarkan.
Tanpa disadarinya, tampak seseorang sedang memperhatikan Agung dengan simpati yang terlihat diraut wajahnya. Dengan langkah tegap, seseorang itu mendekati Agung.
“ Agung..” sapa orang itu sambil menepuk bahunya. Seseorang itu tak lain adalah Pak Rudi yang merupakan Guru matematika yang sekaligus Wali Kelasnya.
“ Bapak...!” Agung sangat terkejut melihat Wali Kelasnya sedang berdiri dibelakangnya. “Dari kapan Bapak ada di sini?” tanya Agung untuk menghilangkan kegugupannya.
“ Sebenarnya sudah dari tadi Gung,” kata Pak Rudi.” Sudah seminggu lebih kamu tidak sekolah. Ada apa dengan kamu? Semua teman-teman kamu sudah Bapak tanya, tapi mereka tidak ada yang tahu.”
Agung hanya menunduk sedih mendengar pertanyaan dari Pak Rudi. Ia merasa bingung,Haruskah aku menceritakan semuanya?” tanya Agung dalam hati. Setelah menimbang-nimbang dalam hati, Baiklah, mungkin aku harus berbicara dengan seseorang. Yang bisa mengerti keadaanku dan bisa membuat pikiranku menjadi tenang.” Batin Agung lagi.
Pak Rudi sengaja membiarkan Agung yang terlihat diam dan belum menjawab pertanyaannya. Akhirnya, setelah terdiam cukup lama. Agung pun membuka mulutnya dan menjelaskan segala hal yang terjadi padanya selama ini. Termasuk tentang penyakit Ibunya. Pak Rudi pun mendengarkan semua penjelasan itu dengan seksama dan terlihat wajahnya yang menunjukkan keprihatinan akan apa yang terjadi pada muridnya, Agung.
“ Begitulah Pak, oleh karena itu, saya harus bekerja untuk membantu Ibu membayar biaya rumah sakit,” kata Agung mengakhiri ceritanya.
Tanpa terasa, mereka telah berbincang cukup lama, dan matahari hanya meninggalkan seberkas cahaya kemerahaan di atas lautan yang tampak indah. Agung dan Pak Rudi pun memutuskan untuk berpisah. Sebelum berpisah, Pak Rudi mengatakan bahwa ia akan membantunya untuk membayar biaya rumah sakit, asal Agung segera masuk kembali ke sekolah. Sepeninggalan Pak Rudi, Agung segera mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat untuk pulang. Di perjalanan, Agung memikirkan maksud perkataan Pak Rudi tadi. Dan tanpa sadar telah sampai rumah. Agung pun bergegas  membersihkan diri dan bersiap-siap menuju ke rumah sakit untuk menemani sang Ibu di malam hari.
Agung sampai di rumah sakit sekitar pukul 21.00 WITA. Saat sampai di ruangan tempat Ibu Wiwin di rawat, tampak seraut wajah pucat tersenyum kepadanya. Sambil duduk di samping Ibunya, Agung berusaha terlihat ceria. Meskipun terlihat dari matanya, bahwa ia sangat sedih melihat ibunya yang semakin kurus dan pucat.
“ Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Mita katanya sudah kangen loh, ingin ketemu Ibu,”  kata Agung sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah, Ibu merasa sudah agak baikan. Ibu juga kangen banget sama Mita, Gung. Besok kalau kesini Mita dibawa ya?” pinta Ibunya. “Gung, Ibu minta maaf ya. Ibu  sudah meropatkan kamu terus. Ibu tidak enak sama kamu.”
  “Ibu jangan bilang gitu. Agung senang kok, bisa melakukan hal ini semua buat Ibu,” jawab Agung sambil tersenyum.
Setelah cukup lama bercakap-cakap, Ibu Wiwin terlihat lelah dan mengatakan bahwa ia ingin beristirahat. Agung pun ikut beristirahat dengan tidur bersandar dikursi yang berada di ruangan itu.
***
Hujan gerimis menambahkan kesedihan yang terukir di wajah seorang pemuda dan gadis kecilnya. Seakan dunia ikut berduka bersama mereka. Agung tidak pernah menyangka, bahwa saat itu adalah malam terakhir bercakap-cakap dan bergurau dengan Ibunya. Tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya hal itu akan terjadi.
Agung masih bisa membayangkan senyuman sang Ibu di malam itu. “Tolong kamu jaga Mita ya, Gung. Kamu juga harus sekolah terus, jangan berhenti di tengah jalan. Apa pun yang terjadi kamu harus tetap semangat. Tidak ada yang tidak mungkin, Gung. Selama kita mau berusaha,”
 Itulah pesan yang diucapkan Ibunya malam itu sebelum pergi tidur. Agung mengira, itu hanya pesan biasa yang disampaikan ketika hendak tidur.
“ Agung,” panggil Pak Rudi sambil menepuk bahunya. “Sudah terlalu lama kita di sini. Kasihan Mita, dia juga sudah kedinginan.”
“ Iya Bang, ayo kita pulang. “ kata Mita. Ia sekarang sudah tahu apa yang terjadi pada Ibunya. Ia harus belajar mengerti dengan semua keadaan ini.
Setelah mengucapkan doa untuk yang terakhir kalinya, mereka pun pergi meninggalkan pemakaman bersama-sama.
Mulai saat itu, Agung dan adiknya tinggal bersama dengan Pak Rudi dan istrinya. Pak Rudi dan Istrinya tidak dikaruniai seorang anak, sehingga dengan hadirnya Agung dan Mita membuat kerinduan mereka terhadap seorang anak terobati. 
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "Seyum Terakhir - Vanti"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel