Sebuah Pengorbanan - Mira
Selasa, 24 Mei 2016
Tulis Komentar
Sebuah pengorbanan
Karya
Mira
Desir halus sang angin meniup anak rambut seorang
lelaki yang sedang duduk di bangku taman sambil memikirkan sesuatu, desir angin
pagi yang begitu kencang seraya menggugurkan dedaunan, lelaki ini tampak resah
dan gelisa sambil memegang buku novel Ia tampak bingung dan gelisah. Suasana
hening taman itu membuat Ia tampak kesepian lelaki yang berusia 23 tahun itu
terlihat sedang dilema Ia bernama Rizki. Sesekali Ia tersenyum-senyum sendiri entah apa yang sedang ada
dalam fikirannya.
‘’Em, apa yang sedang terjadi dengan hatiku?’’ gumam
Rizki dalam hati
***
‘’Rizki…! Cepat bangun kamu kuliah apa enggak?” teriak
mama
Dia memang anak yang sulit untuk bangun pagi,
terkadang sampai
mamanya jengkel, sudah berkali-kali Ia di panggil oleh mamanya namun tak ada
jawaban juga, mamanya bergegas pergi kekamarnya namun saat tiba di kamar Rizki
sudah tidak ada di kamar, ternyata Dia pagi-pagi buta sudah berangkat ke
Kampus.
‘’Aku heran tidak biasanya anakku begini.’’ Ucap mama
dengan heran
Dia memak anak yang tergolong pendiam saat di Kampus,
dalam usianya yang sudah dewasa ini Ia belum memiliki seorang kekasih entah apa
penyebabnya. Ia juga termasuk dalam mahasiswa berprestasi, Ia juga hobi dalam
membuat karya sastra.
Ia merupakan mahasiswa yang tidak suka bergaul ia
hanya mempunyai satu teman saja, entah apa penyebab Ia tidak suka bergaul.
‘’Hey darimana lo?’’ teriak Sigit
‘’Aku dari perpustakaan’’ Jawab Rizki
‘’Kapan lo mau cari pacar keburu kiamat ni dunia, ha ha ha’’ ucap Sigit
mengajak bercanda
Namun Rizki hanya tersenyum Ia tidak bisa berkutik
kalo sudah berbicara tentang pasangan.
Hari
sudah sore Ia segera bergegas untuk pulang Ia merupakan lelaki yang pandai
membuat puisi.
Hari yang cerah mengiringi langkah Rizki, Ia tampak
tergesa-gesa saat memasuki halaman kampus hingga tak sengaja Ia menabrak
seorang wanita yang cantik.
‘’Hey apa sih yang lo liat?!!!’’ sentak wanita itu
dengan nada tinggi
‘’Maaf Aku enggak sengaja’’ Jawab Rizki
‘’Pergi lo…” sentak wanita itu
Rizki hanya bisa terdiam hari demi hari telah Ia
lewati dan pada saat hari jadi Kampus Rizki bertemu dengan wanita yang Ia
tabrak kemarin, Ia sepertinya memendam rasa yang mendalam Ia selalu
memperhatikan setiap apa yang wanita itu kerjakan Ia selalu memperhatikannya.
‘’Kenapa lo brow? Lo suka ya sama Desi.” Ucap Sigit
‘’Desi?’’ Tanya Rizki
‘’Iya Dia itu namanya desi dia itu cewek yang paling
terkenal di Kampus ini, tapi judesnya itu yang enggak bikin kuat.” Jawab Sigit
Lagi-lagi Rizki hanya bisa tersenyum, Ia merasa bahwa
wanita itu wanita yang selama ini Ia cari. Ia sekarang hanya bisa diam dan
berfikir bagaimana cara mendapatkan wanita itu, sedangkan sikap wanita itu
terhadap Rizki begitu galak.
Suasana Kampus yang senyam membuat Rizki bosan berada
di kampus dan Ia memutuskan pergi ke taman belakang Kampus.
Tak menyangka di taman itu ternyata ada Desi, begitu
bahagianya hati Rizki ketika melihat Desi sedang tersenyum dan bercanda bersama
teman-temannya. Namun Rizki hanya bisa melihat dari kejauhan untuk saat ini Ia
akan memikirkan bagaimana cara supaya Ia bisa dekat dengan Desi.
Ia berfikir dan terlintas di fikiranya Ia ingin
mengirimkan surat untuk Desi namun surat yang berisikan puisi, Ia selalu
membuat puisi yang bagus dan setelah selesai Ia mengirimkannya namun tidak di
beri nama pengirimnya. Ketika desi membaca puisi tersebut desi merasa heran.
‘’siapa yang mengirimkan puisi norak seperti ini, Dia
fikir ini zaman purba apa?’’ ucap Desi dengan nada kesal
Namun Rizki tidak tau kalo Desi tidak menyukai puisi,
Ia hampir
setiap hari mengirimkan puisi itu namun jawaban Desi tetap sama terkadang Desi
langsung membuang puisi itu, Rizki tak menyadari bahwa Desi itu tidak
menyukainya semua cara telah Rizki lakukan hanya untuk wanita pujaannya tapi
ternyata tidak ada hasilnya.
***
Tiba
saatnya Rizki menyampaikan perasaannya tepat pada jam 10 pagi Rizki berjalan
sambil menbawa untaian bunga mawar yang berwarna putih Ia mengungkapkan
perasaannya pada Desi.
‘’Des,
maukah kamu menjadi pacarku Aku membawakan bunga mawar putih ini untuk menjadi
saksi sucinya cintaku padamu, dan puisi-puisi yang selama ini kau baca itu
merupakan bukti keseriusanku padamu.’’
Ucap Rizki dengan lembut
‘’Ow
jadi selama ini yang ngirim puisi itu elo, norak banget lo, lo pikir lo itu
siapa ngaca dong atau mentang-mentang lo itu mahasiswa berprestasi jadi lo
berfikir lo bisa jadi pacar gue enggak usah mimpi lo?’’ ucap Desi dengan nada
tinggi seraya meninggalkan taman
Rizki hanya bisa terdiam Ia hanya
bisa melihat kelayuan mawar yang Ia bawa, sunyi senyap hari-hari yang di jalani
oleh Rizki Ia begitu mencintai Desi namun cintanya tak diterima oleh Desi,
namun Rizki tetap bertekad biarpun Dia tidak bisa memiliki wanita pujaannya
setidaknya Ia bisa menjaganya dari kejauhan.
***
Tiba
pada hari perayaan kartini jalan raya begitu ramai dan padat, sekelompok
mahasiswa dan mahasiswi berjalan berbondong-bondong untuk memperingati hari
besar nasional, tak ketinggalan juga Rizki ikut serta dalam acara tersebut.
Jalanan begitu ramai tak sedikit kecelakaan terjadi,
pada hari itu melintas mobil mewah dengan kecepatan tinggi Desi tak menyadari
bahwa dirinya telah
melewati batas yang telah dilewati oleh para mahasiswa, Desi hampir tertabrak
tapi itu tidak akan terjadi karena Rizki telah menyelamatkan nyawanya.
Semua mahasiswa berlari untuk menolong Rizki, keadaan
Ia sangan keritis Ia segera dilarikan kerumah sakit terdekat, Desi tak bisa
berkata-kata lagi Desi hanya bisa terdiam dan menangis.
Keadaan Rizki begitu parah sampai dua hari Ia belum
sadarkan diri Ia kehilangan banyak darah. Dan pada saat itu juga Desi baru
sadar bahwa Rizki benar-benar mencintainya sampai Ia rela mengorbankan
nyawanya, Desi tak henti menangis dan Desi mengatakan
‘’Riz, Aku minta maaf selama ini Aku udah nyianyiain
kamu Aku mohon bangun Riz.’’
Namun keadaan Rizki tetap tak ada perubahan hingga
pada detik-detik terakhir hanya air mata menetes dari mata Rizki, dokter tak
bisa menyelamatkan nyawa Rizki.
Kesedihan
mendalam sangat Desi rasakan, Dia sangat menyesal karena sudah menyianyiakan
lelaki yang benar-benar tulus
mencintainya.
‘’Aku kesini ingin mengantarkan surat terakhir dari
Rizki. Ini suratnya.’’ Ucap sigit seraya meninggalkan rumah Desi
Isi surat terakhir yang ditulis oleh Rizki.
‘’Maafkan aku kalau selama ini aku membuatmu tidak
nyaman akan puisi-puisi yang kukirimkan padamu, Aku memang lelaki yang tidak
punya apa-apa, tapi cintaku padamu akan kubawa sampai mati.
’’Kini Desi hanya bisa menyesal akan semua yang telah
Ia lakukan, saat ada takterasa saat tiada baru terasa.
Hari-hari yang bisa Desi jalani hanya dengan merenung
dan menyesali semua kesalahannya yang telah menyianyiakan orang yang sangat
mencintainya.
***
Kicau burung terdengar begiu merdu, disertai desir
angin yang begitu menusuk kulit, pagi-pagi buta seorang wania Nampak duduk di taman sambil memegang
lembaran keras yang kusam, terlihat diwajahnya kesedihan, wanita itu adalah Desi, Ia sedang mengingat masa-masa seorang
lelaki yang sangat mencintainya.
Empat
bulan sudah kepergian Rizki namun Desi masih belum
bisa melupakannya kesedihan yang sangan mendalam benar-benar menimpa dirinya Ia
sangan menyesal akan semua yang telah terjadi, seakan Ia ingin mengakhiri
hidupnya lantarai Ia tak tahan lagi dengan semua kejadian ini. Seiring waktu
berjalan berambah buruk pula keadaannya entah mengapa Desi bisa menjadi seperti
ini, padahal dulu Ia sangat terkenal dengan kepandaiannya berbicara di depan
umum, kini semua tinggal
kenangan semenjak kejadian empat bulan yang silam.
Hari demi hari keadaannya semakin memburuk bahkan tak
jarang Ia terlihat seperti orang tak waras. Kini semua orang yang ada
disekitarnya hanya bisa diam. Kejadian itu merupakan kejadian yang sangat buruk
bagi Desi, akibat dari kejadian itu Desi menjadi setres, bangku Kuliah pun kini
hanya tinggal kenangan baginya entah mengapa keadaan seburuk ini menimpa seorang
mahasiswa. Bahkan tak jarang Desi ingin melakukan bunuh diri tapi masih bisa
digagalkan oleh anggota keluarganya.
‘’Untuk apa lagi Aku hidup, semua sudah tak berguna.’’
Seru Desi
Namun apa boleh buat semua sudah terjadi tak mungkin
juga waktu kembali, kini Desi hanya bisa meratapi nasibnya. Tiba pada suatu
hari Desi pergi keluar rumah Ia pergi kejalan raya entah apa yang ingin Ia
lakukan, Ia tak peduli banyak kendaraan yang melintas dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Terlihat dari arah utara truk yang melaju dengan kecepatan
tinggi pada saat itu Desi sedang berada di jalan raya kejadian empat bulan yang silam kini terulang kembali Desi tertabrak truk itu, Ia mengalami luka
parah di kepalanya Ia bnyak kehilangan darah sampai nyawanya tak tertolong, ini
merupakan kejadian yang sangat tragis dan mengerikan dalam nafas terakhirnya Ia
berkata.
‘’Akhirnya Aku bisa menyusulmu.’’ Ucap Desi dengan
suara lirih
Belum ada Komentar untuk "Sebuah Pengorbanan - Mira"
Posting Komentar