GURU BERSASTRA MEMBUDAYAKAN LITERASI SISWA
Kamis, 25 Mei 2017
Tulis Komentar
Pendidikan merupakan hak seluruh warga negara sesuai yang tertuang di pasal 31 Undang-Undang Dasar negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan sangat penting diperoleh sejak anak-anak sampai dewasa, dalam berbagai kondisi baik miskin maupun kaya. Pendidikan telah menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampsu meraih kesuksesan dalam kehidupannya (Yuni, 2011: 1).
Di sekolah-sekolah budaya
menulis terjadi kendala untuk siswa. Dalam menulis, siswa susah dalam
mengemukakan pendapat maupun ide yang mereka miliki. Khususnya dalam mata
pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia terdapat materi tentang sastra di
antaranya menulis puisi, cerpen, drama, dan lain-lain.
Ditemukan fakta bahwa banyak
siswa yang mengalami kesulitan ketika menulis, khususnya berkaitan dengan
sastra. Untuk mengawali menulis biasanya sangat susah. Hal tersebut, siswa masih
susah mengutarakan apa yang terdapat dalam pikirannya melalui tulisan,
khususnya puisi. Pengimajinasian masih kabur dan mengakibatkan puisi yang
dibuat menjadi rancu dalam pemilihan diksinya. Sehingga budaya literasi terasa
jauh dari kebiasaan.
Dengan Membangun Budaya
Literasi di Satuan Pendidikan. terkait dengan membiasakan baca tulis di
sekolah. mindset susahnya menumbuhkan budaya literasi akhirnya sedikit demi
sedikit akan mengabur.
Membaca dan menulis sebagai
aktivitas komunikasi ibarat mata uang logam yang sisi-sinya saling melengkapi.
Sesuai yang dikemukakan White dalam Haryadi dan Zamzani (1997: 75) mengatakan
bahwa antara membaca dan menulis terdapat hubungan yang saling menunjang dan
melengkapi. Artinya kebiasaan membaca tidak mungkin terlaksana tanpa kebiasaan
menulis atau mengarang, sebaliknya kebiasaan menulis tidak akan bermakna tanpa
diikuti oleh kebiasaan membaca.
Menulis di buku harian (diary) merupakan hobby yang sangat
bermanfaat dan akan menimbulkan kesensitifan terhadap lingkungan sekitar dan
akan menghasilkan tulisan. Selain itu, di media sosial juga mempersilakan
menulis apa yang dipikirkan atau membuat status.
Budaya literasi yang
berkembang di sekolah kami berakar dari menulis sastra. Menurut Zaidan, dkk
(2007: 180) bahwa sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang
nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa.
Walaupun banyak orang yang
menganggap sastra merupakan hal yang sederhana namun sastra sungguh
menyumbangkan hasil yang luar biasa. Di mulai dengan pecinta sastra, guru
maupun siswa bisa sensitif terhadap apa yang dilihat maupun didengarnya.
Dimulai dengan sastra, mereka bisa berpikiran kritis dan memunculkan ide maupun
gagasan-gagasan baru yang akan dituangkannya melalui tulisan. Bahkan mungkin
saja di mulai dengan sastra maka akan menghasilkan artikel, jurnal, maupun
buku-buku nonfiksi.
Membudayakan literasi perlu
pendekatan melalui bahasa dan pembuktian yang bisa dirasakan membanggakan bagi
siswa kita. Dengan itu, kita sebagai pendidik agar tetap memberikan motivasi
dan contoh terhadap siswa kita di lingkungan sekolah. Seorang guru yang
berprestasi tidak hanya menyukseskan diri sendiri melainkan juga dapat
menyukseskan siswa-siswanya. Kita sebagai guru tidak hanya repot mempersiapkan
penilaian-penilaian penunjang profesi namun kita juga harus sibuk menumbuhkan
bakat dan karakter yang dimiliki oleh siswa kita. Sehingga mereka
Semua siswa pasti mempunyai
kelebihan yang dia miliki. Namun, kita sebagai guru yang masih belum menemukan
sisi-sisi kelebihan yang mereka miliki. Setiap siswa memiliki bakatnya masing-masing.
Menulis tidak sesulit
dipikirkan, karena jangan terbebani dengan berbagai teori tentang menulis. Pada
intinya, tulis saja apa yang ingin ditulis. Apakah itu puisi, pantun, cerpen,
artikel atau bahkan hanya catatan harian yang yang hanya disimpan dalam buku
harian (diary).
Menulis dimulai dari seorang
pendidik dan ada bukti seperti buku hasil dari karya yang ditulis. Menulis
harus ada pemotivasi. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak terpisahkan,
karena menulis harus di awali dengan membaca. Sehingga tercapailah keinginan
untuk membudayakan literasi di lingkungan sekolah.
Guru yang berhasil, tak
hanya dia yang sibuk berkarya tapi juga sibuk mengkaryakan siswanya. Dengan
pelajaran sastra maka akan melahirkan budaya literasi.
Seorang pendidik jangan puas
hanya dengan satu tulisan, tetap konsisten dalam dunia literasi. Selain untuk
menumbuhkan ide-ide baru, juga sangat memotivasi siswanya dalam membudayakan
literasi.
Pada hakikatnya kesuksesan
yang dimiliki siswa merupakan kesuksesan guru yang sesungguhnya. Dalam dunia
pendidikan, khususnya menjadi guru merupakan pendidik sejati, seseorang yang
digugu dan ditiru.
Sebaiknya dalam kurikulum
ada pelajaran mengarang. Sehingga menulis menjadi kebiasaan rutin setiap
minggunya. Mungkin awalnya merasa terpaksa namun akan menjadi terbiasa.
Halimatus Sadiah, S.Pd

Belum ada Komentar untuk "GURU BERSASTRA MEMBUDAYAKAN LITERASI SISWA"
Posting Komentar