google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A GURU BERSASTRA MEMBUDAYAKAN LITERASI SISWA - PULPENWANKERTAS

GURU BERSASTRA MEMBUDAYAKAN LITERASI SISWA




Pendidikan merupakan hak seluruh warga negara sesuai yang tertuang di pasal 31 Undang-Undang Dasar negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan sangat penting diperoleh sejak anak-anak sampai dewasa, dalam berbagai kondisi baik miskin maupun kaya. Pendidikan telah menjadi salah satu  modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampsu meraih kesuksesan dalam kehidupannya (Yuni, 2011: 1).
Di sekolah-sekolah budaya menulis terjadi kendala untuk siswa. Dalam menulis, siswa susah dalam mengemukakan pendapat maupun ide yang mereka miliki. Khususnya dalam mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia terdapat materi tentang sastra di antaranya menulis puisi, cerpen, drama, dan lain-lain.
Ditemukan fakta bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan ketika menulis, khususnya berkaitan dengan sastra. Untuk mengawali menulis biasanya sangat susah. Hal tersebut, siswa masih susah mengutarakan apa yang terdapat dalam pikirannya melalui tulisan, khususnya puisi. Pengimajinasian masih kabur dan mengakibatkan puisi yang dibuat menjadi rancu dalam pemilihan diksinya. Sehingga budaya literasi terasa jauh dari kebiasaan.
Dengan Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan. terkait dengan membiasakan baca tulis di sekolah. mindset susahnya menumbuhkan budaya literasi akhirnya sedikit demi sedikit akan mengabur.
Membaca dan menulis sebagai aktivitas komunikasi ibarat mata uang logam yang sisi-sinya saling melengkapi. Sesuai yang dikemukakan White dalam Haryadi dan Zamzani (1997: 75) mengatakan bahwa antara membaca dan menulis terdapat hubungan yang saling menunjang dan melengkapi. Artinya kebiasaan membaca tidak mungkin terlaksana tanpa kebiasaan menulis atau mengarang, sebaliknya kebiasaan menulis tidak akan bermakna tanpa diikuti oleh kebiasaan membaca.
Menulis di buku harian (diary) merupakan hobby yang sangat bermanfaat dan akan menimbulkan kesensitifan terhadap lingkungan sekitar dan akan menghasilkan tulisan. Selain itu, di media sosial juga mempersilakan menulis apa yang dipikirkan atau membuat status.
Budaya literasi yang berkembang di sekolah kami berakar dari menulis sastra. Menurut Zaidan, dkk (2007: 180) bahwa sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa.
Walaupun banyak orang yang menganggap sastra merupakan hal yang sederhana namun sastra sungguh menyumbangkan hasil yang luar biasa. Di mulai dengan pecinta sastra, guru maupun siswa bisa sensitif terhadap apa yang dilihat maupun didengarnya. Dimulai dengan sastra, mereka bisa berpikiran kritis dan memunculkan ide maupun gagasan-gagasan baru yang akan dituangkannya melalui tulisan. Bahkan mungkin saja di mulai dengan sastra maka akan menghasilkan artikel, jurnal, maupun buku-buku nonfiksi.
Membudayakan literasi perlu pendekatan melalui bahasa dan pembuktian yang bisa dirasakan membanggakan bagi siswa kita. Dengan itu, kita sebagai pendidik agar tetap memberikan motivasi dan contoh terhadap siswa kita di lingkungan sekolah. Seorang guru yang berprestasi tidak hanya menyukseskan diri sendiri melainkan juga dapat menyukseskan siswa-siswanya. Kita sebagai guru tidak hanya repot mempersiapkan penilaian-penilaian penunjang profesi namun kita juga harus sibuk menumbuhkan bakat dan karakter yang dimiliki oleh siswa kita. Sehingga mereka
Semua siswa pasti mempunyai kelebihan yang dia miliki. Namun, kita sebagai guru yang masih belum menemukan sisi-sisi kelebihan yang mereka miliki. Setiap siswa memiliki bakatnya masing-masing.
Menulis tidak sesulit dipikirkan, karena jangan terbebani dengan berbagai teori tentang menulis. Pada intinya, tulis saja apa yang ingin ditulis. Apakah itu puisi, pantun, cerpen, artikel atau bahkan hanya catatan harian yang yang hanya disimpan dalam buku harian (diary).
Menulis dimulai dari seorang pendidik dan ada bukti seperti buku hasil dari karya yang ditulis. Menulis harus ada pemotivasi. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak terpisahkan, karena menulis harus di awali dengan membaca. Sehingga tercapailah keinginan untuk membudayakan literasi di lingkungan sekolah.
Guru yang berhasil, tak hanya dia yang sibuk berkarya tapi juga sibuk mengkaryakan siswanya. Dengan pelajaran sastra maka akan melahirkan budaya literasi.

Seorang pendidik jangan puas hanya dengan satu tulisan, tetap konsisten dalam dunia literasi. Selain untuk menumbuhkan ide-ide baru, juga sangat memotivasi siswanya dalam membudayakan literasi.
Pada hakikatnya kesuksesan yang dimiliki siswa merupakan kesuksesan guru yang sesungguhnya. Dalam dunia pendidikan, khususnya menjadi guru merupakan pendidik sejati, seseorang yang digugu dan ditiru.

Sebaiknya dalam kurikulum ada pelajaran mengarang. Sehingga menulis menjadi kebiasaan rutin setiap minggunya. Mungkin awalnya merasa terpaksa namun akan menjadi terbiasa.


Halimatus Sadiah, S.Pd
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "GURU BERSASTRA MEMBUDAYAKAN LITERASI SISWA"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel