SEHARI BERSAMA SANG KRITIKUS
Senin, 29 Oktober 2018
Tulis Komentar
Kalau kalian goes bersama sang kritikus sastra
sebaiknya, siapkan amunisi-amunis yang harus dilontarkan kepada dia. sebab
kapan lagi kesempatan itu datang? mungkin tidak akan datang untuk kedua
kalinya. Mendatangkan mereka dalam ajang resmi seperti workshop atau seminar,
kalian tentu akan dipungut biaya, dan itu sangat tidak mengasikkan. Masalahnya
dalam pertemuan ajang resmi, kita akan kesulitan untuk bertanya, sebab
banyaknya persaingan dengan peserta lain. dan juga pertanyaan kita dibatasi.
Berbeda kalau sang kritikus kita ajak goes,
pastilah sangat mengasikkan. Kita akan bebas bertanya apapun bentuk
perntanyaannya. Baik pengalaman pribadi, pendidikan, profesi, sastra dan lain-lain. Dengan goes perbicangan
itu akan menjadikan suasana santai dan fleksibel. Ditambah dengan view-view
pemandangan yang bagus, tentulah obralan itu sangat menarik. Bahkan rasa lelah
ketika goes pasti tak terasa.
Tanggal 26 Okotober 2018, aku tidak
menyangka akan goes bersama seorang kritikus yang aku anggap sebagai H.B.
Jassinnya Kalimantan Selatan yaitu Sainul Hermawan. Beliau merupakan dosen ULM
Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID), dan juga dosen aku
ketika aku masih kuliah di ULM. Beliau datang ke daerahku pada saat menjadi
nara sumber dalam pembuatan artikel populer bagi guru di Tanah Bumbu.
Siang itu, pada pukul 15.00 Wita, aku mendapatkan
sebuah chat dari istriku yang isinya Pak Dosen memintaku mencarikan sebuah
sepeda untuk goes. Tentu saja segera kurespon dengan cepat. Pikirku, kapan lagi
goes bersama sang kritukus ternama. Ini kesempatan untuk berbincangan lebar
dengan beliau dan ini termasuk momen yang langka. Sore itu aku sempatkan mampir
dipenginapan yang beliau tempati, untuk memastikan bahwa sepeda yang diinginkan
beliau sudah siap.
Ketika matahari mulai menampakan wajahnya, kami
segera goes menuju tempat yang belum pernah beliau jalani. Tentu saja sebelum
goes saya sempatkakan dulu berfoto dengan sang kritikus sebagai koleksi
pribadi, karena kapan lagi goes bersama sang kritikus yang sering ditakuti oleh
kalangan sastrawan. Beliau sempat bertanya rute perjalanan goes. kujawab
rutenya mengelilingi benteng tuan Takur dengan jarak kurang lebih enam belas
kilo. Beliau agak sedikit heran dan mengatakan "Mantap" sambil
mengeluarkan Gadget menyetel GPS.
Dalam perjalanan yang berkelok, dipenuhi
pemandangan sawit dan bebatuan serta hutan yang lebat membuat dercak kagum sang
kritikus. Beliau beberapa kali memgatakan menyayangkan lupa membawa bike holder
yang sering dibawa ketika goes. Rasa ingin tau beliau terhadap sang tuan Takur
lumayan tinggi. Ya kujawab aja semampunya, karena toh aku juga tidak
pernah behadapan dengan tuan Takur tersebut. Apalagi berbicara langsung. Hanya
taunya dengan orang yang pernah bekerja dengan tuan Takur itu. Selama goes,
banyak yang menyita perhatian sang kritikus, beberapa kali beliau dengan
sengaja menghentikan kayuhan sepeda untuk memfoto. Katanya sih untuk galeri,
siapa tau hasil jepretannya akan menjadikan sebuah desain atau sampul buku.
Rute yang panjang dan mendaki, kami turun
untuk berjalan kaki sambil menghirit sepeda, dan disaat itulah obrolan-obral
seputar sastra, pendidikan, keprofesian dan pengalaman hidup kami bincangkan.
Diatambah view hamparan laut di atas bukit menjadikan obralan itu sangat
mengasikkan. Banyak yang aku dapat pada obralan yang gratis itu tanpa bayaran.
Obrolan-obralan itu sangat membuka pikiran dan wawasanku, masalah-masalah yang
sering kuhadapi tentang seputar pendidikan, keprofesian dan penulisan akhirnya
terpecahkan. Bahkan ide-ide yang tidak pernah kupikirkan ternyata ikut tersaji
dalam obrolan yang cukup mengasikkan itu.
Ada beberapa pesan dari beliau yang menurutku itu
adalah sebuah tantangan. Salah satunya membuat suatu karya yang berbicara
tentang tambang, beliau mengatakan selama ini para penulis Kalsel sangat jarang
mengungkit tentang tambang. Padahal pulau kalimantan ini dikenal dengan
tambangnya dan itu tidak ada dimiliki daerah lain. Bagikku lontaran pertanyaan
beliau itu ada benarnya. Salam ini yang kutemukan para penulis khususnya
daerahku sering berbicara tentang laut,ombak, hutan, hujan dan curahan hati.
Semuanya hanya biasa-biasa saja dan banyak ditemukan di daerah lain.
Beliau memberikanku sebuah tantangan itu. Tanpa
pikir panjang kujawab oke, tapi spontan kutanyakan bagaimana cara melakukannya.
dan pada akhirnya H.B. Jassin Kalimantan Selatan itu memberikan gambaran
cara atau triknya. Bahkan memberikan Ide untuk temanya. Tentu saja tidak akan
kutulis di blog ini cara, trik dan idenya. Sebab obrolan sang kritikus sangat
mahal broe!
Selain obrolan tentang tambang, ada juga obrolan
yang cukup menarik perhatianku yaitu tentang keprofesian. Kata beliau, saat ini
seorang guru setidaknya harus mengikuti perkembangan siswa. Siswa saat ini
hampir kecaduan dengan namanya gadget. Kalau tidak mengikuti perkembangan
siswa, besar kemungkinan guru tersebut akan ketinggalan zaman, dan tidak mampu
untuk mengembangkan karakter peserta didik. Bahkan bisa saja literasi siswa
lebih unggul daripada literasi guru. Beliau memberikan tips-tips yang jitu
untuk mengatasi masalah pada keprofesian. Sekali lagi tips-tipsnya tidak akan
saya uraikan di blog ini!
Tidak terasa obrolan kami itu sudah menempuh
jarak 19 kilometer. Dan seketika itu juga kami memutuskan untuk mencari
makanan. Yang uniknya makanan yang dicari rata-rata sudah habis.Ya wajarlah
goes kami itu memakan waktu dua jam perjalanan. Dan itu sangat menguras perut
kami yang belum terisi nasi sama sekali, hanya minum engergen saja.
Tapi yang jelas, goes bersama sang kritikus
Sainul Hermawan sangat mengasikkan. Momen ini tidak akan kulupakan, karena ini
adalah momen yang sangat berharga. Dan Tepat pada pukul 16.00 Wita kuantarkan
beliau ke bandara Bersujud untuk balik ke Banjarbaru melalui penerbangan Nam
Air.
Yang herannya selama satu hari penuh saya bersama
beliau, dari pihak panitia yang mengudang pada acara penulisan populer tidak
ada sedikitpun menelpon atau mengontak. setidaknya menanyakan keadaan, makan
atau pulang. Beberapa kali aku mencoba menyinggung kepada beliau. Tapi singgunganku
itu selalu dialihkan pembicaraan lain. Ya, saya akui memang beliau orang yang rendah
hati. Padahal beliau seorang kritikus yang sangat tajam



Belum ada Komentar untuk "SEHARI BERSAMA SANG KRITIKUS"
Posting Komentar