google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A SEHARI BERSAMA SANG KRITIKUS - PULPENWANKERTAS

SEHARI BERSAMA SANG KRITIKUS

Kalau kalian goes bersama sang kritikus sastra sebaiknya, siapkan amunisi-amunis yang harus dilontarkan kepada dia. sebab kapan lagi kesempatan itu datang? mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Mendatangkan mereka dalam ajang resmi seperti workshop atau seminar, kalian tentu akan dipungut biaya, dan itu sangat tidak mengasikkan. Masalahnya dalam pertemuan ajang resmi, kita akan kesulitan untuk bertanya, sebab banyaknya persaingan dengan peserta lain. dan juga pertanyaan kita dibatasi.


Berbeda kalau sang kritikus kita ajak goes, pastilah sangat mengasikkan. Kita akan bebas bertanya apapun bentuk perntanyaannya. Baik pengalaman pribadi, pendidikan, profesi,  sastra dan lain-lain. Dengan goes perbicangan itu akan menjadikan suasana santai dan fleksibel. Ditambah dengan view-view pemandangan yang bagus, tentulah obralan itu sangat menarik. Bahkan rasa lelah ketika goes pasti tak terasa.
Tanggal 26 Okotober 2018, aku  tidak menyangka akan goes bersama seorang kritikus yang  aku anggap sebagai H.B. Jassinnya Kalimantan Selatan yaitu Sainul Hermawan. Beliau merupakan dosen ULM Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID), dan juga dosen aku ketika aku masih kuliah di ULM. Beliau datang ke daerahku pada saat menjadi nara sumber dalam pembuatan artikel populer bagi guru di Tanah Bumbu. 
Siang itu, pada pukul 15.00 Wita, aku mendapatkan sebuah chat dari istriku yang isinya Pak Dosen memintaku mencarikan sebuah sepeda untuk goes. Tentu saja segera kurespon dengan cepat. Pikirku, kapan lagi goes bersama sang kritukus ternama. Ini kesempatan untuk berbincangan lebar dengan beliau dan ini termasuk momen yang langka. Sore itu aku sempatkan mampir dipenginapan yang beliau tempati, untuk memastikan bahwa sepeda yang diinginkan beliau sudah siap.

Ketika matahari mulai menampakan wajahnya, kami segera goes menuju tempat yang belum pernah beliau jalani. Tentu saja sebelum goes saya sempatkakan dulu berfoto dengan sang kritikus sebagai koleksi pribadi, karena kapan lagi goes bersama sang kritikus yang sering ditakuti oleh kalangan sastrawan. Beliau sempat bertanya rute perjalanan goes. kujawab rutenya mengelilingi benteng tuan Takur dengan jarak kurang lebih enam belas kilo. Beliau agak sedikit heran dan mengatakan "Mantap" sambil mengeluarkan Gadget menyetel GPS.

Dalam perjalanan yang berkelok, dipenuhi pemandangan sawit dan bebatuan serta hutan yang lebat membuat dercak kagum sang kritikus. Beliau beberapa kali memgatakan menyayangkan lupa membawa bike holder yang sering dibawa ketika goes. Rasa ingin tau beliau terhadap sang tuan Takur lumayan tinggi. Ya  kujawab aja semampunya, karena toh aku juga tidak pernah behadapan dengan tuan Takur tersebut. Apalagi berbicara langsung. Hanya taunya dengan orang yang pernah bekerja dengan tuan Takur itu. Selama goes, banyak yang menyita perhatian sang kritikus, beberapa kali beliau dengan sengaja menghentikan kayuhan sepeda untuk memfoto. Katanya sih untuk galeri, siapa tau hasil jepretannya akan menjadikan sebuah desain atau sampul buku.
Rute yang panjang dan mendaki,  kami turun untuk berjalan kaki sambil menghirit sepeda, dan disaat itulah obrolan-obral seputar sastra, pendidikan, keprofesian dan pengalaman hidup kami bincangkan. Diatambah view hamparan laut di atas bukit menjadikan obralan itu sangat mengasikkan. Banyak yang aku dapat pada obralan yang gratis itu tanpa bayaran. Obrolan-obralan itu sangat membuka pikiran dan wawasanku, masalah-masalah yang sering kuhadapi tentang seputar pendidikan, keprofesian dan penulisan akhirnya terpecahkan. Bahkan ide-ide yang tidak pernah kupikirkan ternyata ikut tersaji dalam obrolan yang cukup mengasikkan itu. 


Ada beberapa pesan dari beliau yang menurutku itu adalah sebuah tantangan. Salah satunya membuat suatu karya yang berbicara tentang tambang, beliau mengatakan selama ini para penulis Kalsel sangat jarang mengungkit tentang tambang. Padahal pulau kalimantan ini dikenal dengan tambangnya dan itu tidak ada dimiliki daerah lain. Bagikku lontaran pertanyaan beliau itu ada benarnya. Salam ini yang kutemukan para penulis khususnya daerahku sering berbicara tentang laut,ombak, hutan, hujan dan curahan hati. Semuanya hanya biasa-biasa saja dan banyak ditemukan di daerah lain. 
Beliau memberikanku sebuah tantangan itu. Tanpa pikir panjang kujawab oke, tapi spontan kutanyakan bagaimana cara melakukannya. dan pada akhirnya H.B. Jassin Kalimantan Selatan itu memberikan gambaran  cara atau triknya. Bahkan memberikan Ide untuk temanya. Tentu saja tidak akan kutulis di blog ini cara, trik dan idenya. Sebab obrolan sang kritikus sangat mahal broe!
Selain obrolan tentang tambang, ada juga obrolan yang cukup menarik perhatianku yaitu tentang keprofesian. Kata beliau, saat ini seorang guru setidaknya harus mengikuti perkembangan siswa. Siswa saat ini hampir kecaduan dengan namanya gadget. Kalau tidak mengikuti perkembangan siswa, besar kemungkinan guru tersebut akan ketinggalan zaman, dan tidak mampu untuk mengembangkan karakter peserta didik. Bahkan bisa saja literasi siswa lebih unggul daripada literasi guru. Beliau memberikan tips-tips yang jitu untuk mengatasi masalah pada keprofesian. Sekali lagi tips-tipsnya tidak akan saya uraikan di blog ini!
Tidak terasa obrolan kami itu sudah menempuh jarak 19 kilometer. Dan seketika itu juga kami memutuskan untuk mencari makanan. Yang uniknya makanan yang dicari rata-rata sudah habis.Ya wajarlah goes kami itu memakan waktu dua jam perjalanan. Dan itu sangat menguras perut kami yang belum terisi nasi sama sekali, hanya minum engergen saja.
Tapi yang jelas, goes bersama sang kritikus Sainul Hermawan sangat mengasikkan. Momen ini tidak akan kulupakan, karena ini adalah momen yang sangat berharga. Dan Tepat pada pukul 16.00 Wita kuantarkan beliau ke bandara Bersujud untuk balik ke Banjarbaru melalui penerbangan Nam Air.
Yang herannya selama satu hari penuh saya bersama beliau, dari pihak panitia yang mengudang pada acara penulisan populer tidak ada sedikitpun menelpon atau mengontak. setidaknya menanyakan keadaan, makan atau pulang. Beberapa kali aku mencoba menyinggung kepada beliau. Tapi singgunganku itu selalu dialihkan pembicaraan lain. Ya, saya akui memang beliau orang yang rendah hati. Padahal beliau seorang kritikus yang sangat tajam


 Batulicin, 27 Oktober 2018
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "SEHARI BERSAMA SANG KRITIKUS"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel