HGN ; Selentingan Subjektif
Senin, 19 November 2018
Tulis Komentar
Sudah diduga, saat mendengar
tentang lomba penulisan HGN (Hari Guru Nasional) pasti akan ada banyak
pertanyaan. Emang sih melihat dan mendengar tataan pelaksanaanya baik dan
sistematis. Salah satunya menggunakan rayon. Sepakat sekali tentang tata cara pengolahannya.
Ketika saya mencoba berbincang kepada salah satu panitianya (ya, gak usah
disebutkanlah) apa sih indikatornya? Katanya membangkitkan para guru dalam
bidang menulis. Wow, itu ide cemerlang. Katanya lagi, dengan diadakannya
workshop dan lomba menulis, siapa tahu para guru dapat terpancing dalam
menulis. Sekali lagi brilian dan dua jempol.
Memang penelitian saat ini, guru
sangat minim untuk menulis. Menulis bagi guru hanya sebuah tuntutan saja. Bukan
kemauan. Sebab kalau tidak menulis maka tidak bakalan dapat naik pangkat. Sejak
saat itu, element guru kian gencar menebarkan gerakan
literasi kepada pendidik khususnya
bidang menulis. Bahkan dari element guru tersebut ada yang menaungi dan
menyalurkan tulisan pendidik untuk diterbitkan ke media cetak, agar tulisan itu
dihargai.
Terlepas dari segi gerakan
literasi . Saya sempatkan bertanya kepada salah satu teman (Sekali lagi tidak usah
disebutkan namanya) tentang subtansi menulis. Dia merupakan seorang jurnalistik
dan sekaligus seorang penulis yang handal. Dia juga termasuk orang yang giat dalam
gerakan literasi ke sekolah. Saya menanyakan pernah gak melihat tulisan-tulisan
guru di media cetak? dengan tersenyum dan enten menjawab
"Hmm...Sering", Mendengar jawaban sang jurnalistik itu terasa aneh,
seperti ada sesuatu yang dirahasiakan. Sekali lagi saya menanyakannya, "Ada
tanggapan ngak?". Menurut dia, "guru mau menulis ya pasti itu sangat
bagus dan itu harus didukung, jangan pernah sama sekali mematahkannya. Lewat
tulisan guru dapat menuangkan ide, gagasan, dan permasalahan dalam mengajar.
Walaupun pengunaan tata bahasa banyak yang
tidak beraturan. Ya tidak mengapa, yang penting menulis. Guru mau
menulis itu luar biasa. Tapi yang membuat saya bingung dan sangat disayangkan
adalah ide-ide tulisannya saja. Selama ini tulisan guru-guru kebanyakan memberi
judul ; Meningkatkan..., Menumbuhkan..., Menanamkan.. Minat..., Karakter..,
hampir semua judul seperti itu. Padahal banyak ide-ide atau permasalahan yang
dapat diangkat, misalnya tentang literasi digital, pembelajaran seni, atau yang
lainnya"
Hmm... Tausiah -tausiah sang
jurnalis itu kalau saya renungkan memang benar juga. Hampir tulisan-tulisan
guru stylenya memang begitu. Bahasanya terlalu normatif. Bahkan di media
kebanyakan temannya umum seperti itu. Tidak lepas dengan judul; minat..,
menanamkan.., menumbuhkan.., atau karakter.
Nah kembali lagi ke fokus
utamanya, permasalahan di paragraf awal. Saya sendiri sangat mendukung dengan program gerakan
menulis dengan cara diperlombakan. Namun sangat disayangkan ketika hasil
pengumuman banyak berita-berita yang kurang sedap didengar. Esst,,, Sebelum
saya sampaikan statement, saya tekankan saya tidak mengikuti lomba
menulis HGN, bisa dicek dipanitia hehe.
Permasalahanya adalah dari segi penghargaan. Ketika seseorang guru ikut
lomba menulis dan meraih tiga besar
tingkat kecamatan tidak ada penghargaan sedikit pun. Padahal kalau diamati untuk kegiatan HGN itu
sangat fantastis. Misalnya saja dalam rangka jalan santai oleh HGN,
doorprize-doorprizenya sangat luar biasa. Kenapa tidak diambil dari doorprize-doorprize
itu.
Kedua, ada lagi selentingan dari
seseorang yang mengikuti lomba menulis HGN, katanya sih tulisan-tulisan yang
juara lima besar itu subjektif. Kok bisa? karena sebagian dari pemenang itu
adalah orang yang baru pertama kali menulis artikel. Wah, berbakat donk.
Pertanyaannya adalah apakah orang baru pertama kali menulis itu langsung baik tulisannya?
beranalogi saja, apakah anak yang baru belajar naik sepeda dapat mengendalikan
sepedanya dengan baik dan dapat mengayuh sepedanya di tengah keramaian? Wow..,
itu diluar nalar saya. Yang lebih menguatkan atas kesubjektifan adalah dia
sudah melihat semua tulisan-tulisan yang mengikuti lomba tersebut.
Ya, begitulah apapun bentuk lombanya,
apapun jenis lombanya, pasti ada saja permasalahannya. Lomba penulisan ini
adalah masalah kecil. Bentuk lomba penulisan ini mengandalkan selera juri atau
subjektif. Berbeda dengan olahraga, Siapa terdepan maka dialah yang menang. Protes
itu wajar, tapi harus berlandasan juga donk. Begitu juga juri harus terbuka dan
dapat mempertanggung jawabkan hasil pilihannya. Jangan mengambil aman. Tapi
kembali lagi ke indikator awal adalah bagaimana cara kita mengapresiasi guru
dalam bidang menulis. karena sebuah apresiasi itu sangat membantu pendidik
dalam berkarir dan berkreasi. Sekali lagi apresiasi!

Belum ada Komentar untuk "HGN ; Selentingan Subjektif"
Posting Komentar