google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A HGN ; Selentingan Subjektif - PULPENWANKERTAS

HGN ; Selentingan Subjektif




Sudah diduga, saat mendengar tentang lomba penulisan HGN (Hari Guru Nasional) pasti akan ada banyak pertanyaan. Emang sih melihat dan mendengar tataan pelaksanaanya baik dan sistematis. Salah satunya menggunakan rayon. Sepakat sekali tentang tata cara pengolahannya. Ketika saya mencoba berbincang kepada salah satu panitianya (ya, gak usah disebutkanlah) apa sih indikatornya? Katanya membangkitkan para guru dalam bidang menulis. Wow, itu ide cemerlang. Katanya lagi, dengan diadakannya workshop dan lomba menulis, siapa tahu para guru dapat terpancing dalam menulis. Sekali lagi brilian dan dua jempol.

Memang penelitian saat ini, guru sangat minim untuk menulis. Menulis bagi guru hanya sebuah tuntutan saja. Bukan kemauan. Sebab kalau tidak menulis maka tidak bakalan dapat naik pangkat. Sejak saat  itu,  element guru kian gencar menebarkan gerakan literasi kepada pendidik  khususnya bidang menulis. Bahkan dari element guru tersebut ada yang menaungi dan menyalurkan tulisan pendidik untuk diterbitkan ke media cetak, agar tulisan itu dihargai.

Terlepas dari segi gerakan literasi . Saya sempatkan bertanya kepada salah satu teman (Sekali lagi tidak usah disebutkan namanya) tentang subtansi menulis. Dia merupakan seorang jurnalistik dan sekaligus seorang penulis yang handal.  Dia juga termasuk orang yang giat dalam gerakan literasi ke sekolah. Saya menanyakan pernah gak melihat tulisan-tulisan guru di media cetak? dengan tersenyum dan enten menjawab "Hmm...Sering", Mendengar jawaban sang jurnalistik itu terasa aneh, seperti ada sesuatu yang dirahasiakan. Sekali lagi saya menanyakannya, "Ada tanggapan ngak?".  Menurut dia,  "guru mau menulis ya pasti itu sangat bagus dan itu harus didukung, jangan pernah sama sekali mematahkannya. Lewat tulisan guru dapat menuangkan ide, gagasan, dan permasalahan dalam mengajar. Walaupun pengunaan tata bahasa banyak yang  tidak beraturan. Ya tidak mengapa, yang penting menulis. Guru mau menulis itu luar biasa. Tapi yang membuat saya bingung dan sangat disayangkan adalah ide-ide tulisannya saja. Selama ini tulisan guru-guru kebanyakan memberi judul ; Meningkatkan..., Menumbuhkan..., Menanamkan.. Minat..., Karakter.., hampir semua judul seperti itu. Padahal banyak ide-ide atau permasalahan yang dapat diangkat, misalnya tentang literasi digital, pembelajaran seni, atau yang lainnya"

Hmm... Tausiah -tausiah sang jurnalis itu kalau saya renungkan memang benar juga. Hampir tulisan-tulisan guru stylenya memang begitu. Bahasanya terlalu normatif. Bahkan di media kebanyakan temannya umum seperti itu.  Tidak lepas dengan judul; minat.., menanamkan.., menumbuhkan.., atau karakter.

Nah kembali lagi ke fokus utamanya, permasalahan di paragraf awal. Saya sendiri  sangat mendukung dengan program gerakan menulis dengan cara diperlombakan. Namun sangat disayangkan ketika hasil pengumuman banyak berita-berita yang kurang sedap didengar. Esst,,, Sebelum saya sampaikan statement, saya tekankan saya tidak mengikuti lomba menulis HGN, bisa dicek dipanitia hehe.  Permasalahanya adalah dari segi penghargaan. Ketika seseorang guru ikut lomba menulis dan meraih  tiga besar tingkat kecamatan tidak ada penghargaan sedikit pun.  Padahal kalau diamati untuk kegiatan HGN itu sangat fantastis. Misalnya saja dalam rangka jalan santai oleh HGN, doorprize-doorprizenya sangat luar biasa. Kenapa tidak diambil dari doorprize-doorprize itu.

Kedua, ada lagi selentingan dari seseorang yang mengikuti lomba menulis HGN, katanya sih tulisan-tulisan yang juara lima besar itu subjektif. Kok bisa? karena sebagian dari pemenang itu adalah orang yang baru pertama kali menulis artikel. Wah, berbakat donk. Pertanyaannya adalah apakah orang baru pertama kali menulis itu langsung baik tulisannya? beranalogi saja, apakah anak yang baru belajar naik sepeda dapat mengendalikan sepedanya dengan baik dan dapat mengayuh sepedanya di tengah keramaian? Wow.., itu diluar nalar saya. Yang lebih menguatkan atas kesubjektifan adalah dia sudah melihat semua tulisan-tulisan yang mengikuti lomba tersebut.

Ya, begitulah apapun bentuk lombanya, apapun jenis lombanya, pasti ada saja permasalahannya. Lomba penulisan ini adalah masalah kecil. Bentuk lomba penulisan ini mengandalkan selera juri atau subjektif. Berbeda dengan olahraga, Siapa terdepan maka dialah yang menang. Protes itu wajar, tapi harus berlandasan juga donk. Begitu juga juri harus terbuka dan dapat mempertanggung jawabkan hasil pilihannya. Jangan mengambil aman. Tapi kembali lagi ke indikator awal adalah bagaimana cara kita mengapresiasi guru dalam bidang menulis. karena sebuah apresiasi itu sangat membantu pendidik dalam berkarir dan berkreasi. Sekali lagi apresiasi!




Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "HGN ; Selentingan Subjektif"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel