google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A SPRIT BULAN BAHASA ; Lebih Baik Menulis Jelek daripada Tidak Menulis Sama Sekali - PULPENWANKERTAS

SPRIT BULAN BAHASA ; Lebih Baik Menulis Jelek daripada Tidak Menulis Sama Sekali






Tidak sedikit guru yang galau ketika diharuskan menulis. Apalagi tulisan yang dimaksud berupa artikel ilmiah. Kegalauan itu muncul karena banyak faktor; dari ketidakpercayaan diri sampai karena ia menilai tulisannya itu tidak berbobot, sehingga tidak layak dipublikasikan di media massa atau mungkin sekadar diposting di media sosial. Kalau tulisan itu ditulis oleh seseorang yang tidak memiliki latar belakang akademis, mungkin tak jadi soal. Akan tetapi, jika tulisan yang dipublikasikan itu ditulis oleh seorang guru, apalagi oleh guru Bahasa Indonesia, tentu bebannya sangat besar.
            Masalah yang sering kali muncul jika si penulis kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia adalah ketakutan-ketakutan jika tulisan yang dibuat salah dalam hal-hal mendasar, seperti salah dalam menyusun struktur kalimat sampai takut jika penggunaan tanda baca dalam tulisannya tidak tepat. Guru Bahasa Indonesia seakan dituntut sempurna dalam menulis. Di situlah yang menjadi titik masalahnya.
            Pada dasarnya, menulis adalah cara setiap orang untuk memyampaikan pesan lewat tulisan. Lewat menulis banyak manfaat yang didapat oleh siapa saja yang mau menulis, termasuk para guru. Lewat menulis, kita dapat meningkatkan keterampilan berbahasa. Seluruh ide dan gagasan yang kita miliki juga dapat dituangkan melalui tulisan. Tulisan sering kali menjadi senjata ampuh untuk mengkritisi masalah-masalah yang terjadi di negeri ini, baik di wilayah politik, sosial, budaya, atau di bidang pendidikan. 
            Di dalam ranah akademis, ada kesan begini: apabila seorang guru gemar menulis berarti ia memiliki referensi dan wawasan yang luas. Dengan banyaknya referensi dan wawasan itu, guru dengan mudah dan gampang menjelaskan materi-materi pelajaran. Bukan hanya itu saja, guru gemar menulis dapat kemungkinan membuat buku yang dapat dijadikam sebagai bahan mengajar. Peraturan terbaru dari Direktorat Jendral Guru dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, juga mengharuskan seorang guru untuk membuat karya tulis, baik menulis dalam bentuk penelitian tindak kelas (PTK) atau menulis artikel yang harus dipublikasikan lewat media cetak.
            Dalam pengembangan profesi, seorang guru yang notabene golongan III B, lalu ia ingin ke naik pangkat ke golongan III C atau golongan III ke golongan IV diwajibkan untuk membuat karya tulis. Tulisan-tulisan guru itu akan berpengaruh besar dalam mendapatkan angka kredit atau kenaikan pangkat. Misalnya saja seorang guru membuat sebuah tulisan dan diterbitkan di media cetak, maka angka kredit poinnya 1,5. Meski mendapat kredit yang besar, tetapi menulis tetap menjadi momok bagi sebagian besar guru. Banyak guru yang memprotes peraturan tentang menulis.
            Sebenarnya, tak perlu ada yang ditakutkan dengan aktivitas menulis. Menulis akan terkesan berat jika sebelumnya seseorang menganggap menulis adalah pekerjaan yang berat. Sebaliknya, menulis akan mudah jika kita menganggap menulis itu mudah. Kepercayaan diri tentu berperan penting dalam keberhasilan seseorang mengatasi ketakutannya dalam menulis.  Keberanian dan kemauan juga penting. Keberanian yang dimaksud adalah berani menulis tanpa mempertimbangkan baik tidaknya menulis. Apabila seorang guru berani menulis, maka pastilah guru tersebut mendapatkan kepercayaan pada tulisannya. Sedangkan kemauan merupakan aspek yang harus dimiliki setiap orang khususnya guru. Dengan adanya kemauan pastilah tulisan yang ingin disampaikan dapat terwujud atau tersampaikan.
            Puja Mandela, seorang penulis di Kabupaten Tanah Bumbu pernah mengatakan lebih baik menulis jelek daripada tidak menulis sama sekali. Pernyataan itu tentu benar bagi setiap orang yang masih takut menulis. Bagi guru yang memiliki ide secapatnya untuk menulis, karena ide itu datangnya dengan tiba-tiba. Di samping itu, juga jangan takut salah.

Ada beberapa tips bagaimana cara agar para guru berani menulis. Kita bisa saja mencari koneksi atau teman yang suka menulis. Hasil dari tulisan tersebut bisa diserahkan kepada teman yang suka menulis untuk didiskusikan. Kalau dalam bahasa jurnalistiknya adalah editor. Dengan adanya kawan diskusi itu, kita bisa berdiskusi banyak hal tentang tulisan, dari penggunaan tanda baca atau mungkin struktur kalimatnya. Dengan adanya teman diskusi, kepercayaan dalam menulis tentu akan meningkat. Dengan cara itulah kita akan mengalahkan ketakutan, kegalauan, dan ketidakpercayaan diri untuk menuliskan apa saja yang kita pikirkan. Untuk menjadi penulis, kita harus mengalahkan semua itu.
            Saat ini kita sedang memperingati bulan bahasa. Ini adalah momentum yang tepat agar kita makin mengenal bahasa kita sendiri. Salah satu caranya yakni dengan menulis. Dengan semangat menulis
            Maka secara tidak langsung menyemarakan bulan bahasa. Dengan menulis kita wujudkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Jangan takut akan kesalahan dalam menulis. Berani dan percaya diri itulah kuncinya.


Harian Radar Banjarmasin, Minggu 11 Nopember 2018
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "SPRIT BULAN BAHASA ; Lebih Baik Menulis Jelek daripada Tidak Menulis Sama Sekali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel