SPRIT BULAN BAHASA ; Lebih Baik Menulis Jelek daripada Tidak Menulis Sama Sekali
Rabu, 21 November 2018
Tulis Komentar
Tidak
sedikit guru yang galau ketika diharuskan menulis. Apalagi tulisan yang
dimaksud berupa artikel ilmiah. Kegalauan itu muncul karena banyak faktor; dari
ketidakpercayaan diri sampai karena ia menilai tulisannya itu tidak berbobot,
sehingga tidak layak dipublikasikan di media massa atau mungkin sekadar
diposting di media sosial. Kalau tulisan itu ditulis oleh seseorang yang tidak
memiliki latar belakang akademis, mungkin tak jadi soal. Akan tetapi, jika
tulisan yang dipublikasikan itu ditulis oleh seorang guru, apalagi oleh guru
Bahasa Indonesia, tentu bebannya sangat besar.
Masalah yang sering kali muncul jika
si penulis kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia adalah ketakutan-ketakutan
jika tulisan yang dibuat salah dalam hal-hal mendasar, seperti salah dalam
menyusun struktur kalimat sampai takut jika penggunaan tanda baca dalam
tulisannya tidak tepat. Guru Bahasa Indonesia seakan dituntut sempurna dalam
menulis. Di situlah yang menjadi titik masalahnya.
Pada dasarnya, menulis adalah cara
setiap orang untuk memyampaikan pesan lewat tulisan. Lewat menulis banyak
manfaat yang didapat oleh siapa saja yang mau menulis, termasuk para guru.
Lewat menulis, kita dapat meningkatkan keterampilan berbahasa. Seluruh ide dan
gagasan yang kita miliki juga dapat dituangkan melalui tulisan. Tulisan sering
kali menjadi senjata ampuh untuk mengkritisi masalah-masalah yang terjadi di negeri
ini, baik di wilayah politik, sosial, budaya, atau di bidang pendidikan.
Di dalam ranah akademis, ada kesan
begini: apabila seorang guru gemar menulis berarti ia memiliki referensi dan
wawasan yang luas. Dengan banyaknya referensi dan wawasan itu, guru dengan
mudah dan gampang menjelaskan materi-materi pelajaran. Bukan hanya itu saja,
guru gemar menulis dapat kemungkinan membuat buku yang dapat dijadikam sebagai
bahan mengajar. Peraturan terbaru dari Direktorat Jendral Guru dan Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan, juga mengharuskan seorang guru untuk membuat karya
tulis, baik menulis dalam bentuk penelitian tindak kelas (PTK) atau menulis
artikel yang harus dipublikasikan lewat media cetak.
Dalam pengembangan profesi, seorang
guru yang notabene golongan III B, lalu ia ingin ke naik pangkat ke golongan
III C atau golongan III ke golongan IV diwajibkan untuk membuat karya tulis.
Tulisan-tulisan guru itu akan berpengaruh besar dalam mendapatkan angka kredit
atau kenaikan pangkat. Misalnya saja seorang guru membuat sebuah tulisan dan
diterbitkan di media cetak, maka angka kredit poinnya 1,5. Meski mendapat
kredit yang besar, tetapi menulis tetap menjadi momok bagi sebagian besar guru.
Banyak guru yang memprotes peraturan tentang menulis.
Sebenarnya, tak perlu ada yang
ditakutkan dengan aktivitas menulis. Menulis akan terkesan berat jika
sebelumnya seseorang menganggap menulis adalah pekerjaan yang berat.
Sebaliknya, menulis akan mudah jika kita menganggap menulis itu mudah.
Kepercayaan diri tentu berperan penting dalam keberhasilan seseorang mengatasi
ketakutannya dalam menulis. Keberanian
dan kemauan juga penting. Keberanian yang dimaksud adalah berani menulis tanpa
mempertimbangkan baik tidaknya menulis. Apabila seorang guru berani menulis,
maka pastilah guru tersebut mendapatkan kepercayaan pada tulisannya. Sedangkan
kemauan merupakan aspek yang harus dimiliki setiap orang khususnya guru. Dengan
adanya kemauan pastilah tulisan yang ingin disampaikan dapat terwujud atau
tersampaikan.
Puja Mandela, seorang penulis di
Kabupaten Tanah Bumbu pernah mengatakan lebih baik menulis jelek daripada tidak
menulis sama sekali. Pernyataan itu tentu benar bagi setiap orang yang masih
takut menulis. Bagi guru yang memiliki ide secapatnya untuk menulis, karena ide
itu datangnya dengan tiba-tiba. Di samping itu, juga jangan takut salah.
Ada
beberapa tips bagaimana cara agar para guru berani menulis. Kita bisa saja
mencari koneksi atau teman yang suka menulis. Hasil dari tulisan tersebut bisa
diserahkan kepada teman yang suka menulis untuk didiskusikan. Kalau dalam
bahasa jurnalistiknya adalah editor. Dengan adanya kawan diskusi itu, kita bisa
berdiskusi banyak hal tentang tulisan, dari penggunaan tanda baca atau mungkin
struktur kalimatnya. Dengan adanya teman diskusi, kepercayaan dalam menulis
tentu akan meningkat. Dengan cara itulah kita akan mengalahkan ketakutan,
kegalauan, dan ketidakpercayaan diri untuk menuliskan apa saja yang kita
pikirkan. Untuk menjadi penulis, kita harus mengalahkan semua itu.
Saat ini kita sedang memperingati
bulan bahasa. Ini adalah momentum yang tepat agar kita makin mengenal bahasa
kita sendiri. Salah satu caranya yakni dengan menulis. Dengan semangat menulis
Maka secara tidak langsung
menyemarakan bulan bahasa. Dengan menulis kita wujudkan kecintaan terhadap
bahasa dan sastra Indonesia. Jangan takut akan kesalahan dalam menulis. Berani
dan percaya diri itulah kuncinya.
Harian Radar Banjarmasin, Minggu 11 Nopember 2018

Belum ada Komentar untuk "SPRIT BULAN BAHASA ; Lebih Baik Menulis Jelek daripada Tidak Menulis Sama Sekali"
Posting Komentar