LINGKARAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN BERKARAKTER - ARIF RAHMAN
Minggu, 04 Juni 2017
Tulis Komentar
Zaman sekarang kita sangat mudah mendengarkan
para pejabat yang tersandung dengan masalah korupsi. Media elektronik
sepertinya tidak henti-hentinya menyiarkan para terpidana korupsi. Tak
tanggung-tanggung lagi yang tersandung korupsi hampir rata-rata orang yang
ternama di negera kita tercinta. Bukan masalah korupsi saja, baru-baru ini kita
melihat di media sosial salah satu siswa merayakan kelulusan sekolah dengan
cara mencoret-coret baju seragamnya. Memang mencoret-coret seragam itu
sebenarnya masalah klasik, yang
ironisnya dalam coretan itu bertuliskan “Lulus potong bebek, kalau tidak lulus
potong guru”. Wajarlah ketika mereka dewasa nantinya, mereka akan bertindak di
luar batas, bukan tidak mungkin masalah korupsi atau kejahatan-kejahatan
lainnya tak mungkin dihindari.
Beginikah
potret negara kita?. Apa yang terjadi pada negara tercinta kita? Negara kita
yang dikatakan santun oleh negara-negara lain namun faktanya di lapangan tidak
sesuai. Saat ini negera kita telah krisis nilai-nilai karakter santun atau budi
pekerti. Siapa yang patut dipersalahkan? Apakah peran orang tua, lingkungan, atau
guru?
Memang
saat ini pemerintah sangat serius membenahi tatanan pendidikan khususnya
pendidikan karakter untuk siswa. Berbagai cara dalam kurikulum yang diciptakan
oleh para pakar pendidikan sampai sekarang masih tahap perjalanan. Alhasil yang
diharapkan oleh pemerintah untuk menjadikan siswa yang berkualitas dan
berkarakter sepertinya tersendat. Saat ini para guru banyak disibukkan urusan
administrasi kepegawaian. Guru yang pada hakikat tugasnya mendidik dan memberi
ilmu kepada siswanya, sekarang pekerjaannya terbagi dengan urusan administrasi
kepegawaian. Tuntutan kepegawaian yang merupakah wajib, mau tidak mau para guru
harus melaksanakan tugas kepegawaiannya. dan pada akhirnya tidak jarang para
guru hanya sekadar mengajar saja bukan mendidik.
Hakikat
pendidikan diartikan sebagai kepuasan secara konseptual terhadap
keyataan-keyataan kehidupan manusia baik disadari maupun tidak disadari manusia
telah melaksanakan pendidikan mulai dari keberadaan manusia pada zaman primitif
sampai zaman masa kini, bahkan selama masih ada kehidupan manusia di dunia,
pendidikan akan berlangsung. kesadaran akan konsep tersebut di atas menunjukkan
bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan. Artinya sebagai pertanda bahwa
manusia sebagai makhluk budaya yang salah satu tugas kebudayaan itu tampak pada
proses pendidikan (Syaifullah, 1981)
Membangun masa depan siswa dalam
pendidikan yang berkualitas dan berkarakter tidaklah mudah seperti membalikan
telapak tangan. Untuk mewujudkan siswa yang berkualitas dan berkarakter
setidaknya ditanamkan pada sejak usia dini, seperti nilai-nilai kebajikan,
kesopanan serta saling menghormati. Pada masa usia dinilah peran orang tua,
guru dan lingkungan dapat menanamkan
nilai-nilai yang diinginkan.
Faktor lingkunganpun harus
mendukung untuk mewujudkan pendidkan berkulitas dan berkarakter. Hal ini karena
dari sekian persen pergaulan anak-anak saat ini, kebanyakan adalah lingkungan sekitar.
Pengawasan orang tua di lingkungan sangat menentukan, tidak bisa sepenuhnya
orang tua mengharapkan kepada pihak sekolah untuk membimbing anaknya menjadi
lebih baik.
Nilai
kesopanan, dan saling menghormati
merupakan hal dasar yang harus dilakukan
secara rutinitas. Membiasakan seorang anak pada masa usia dini dalam memberikan
nilai karakter kesopanan dan saling menghoramati seperti dengan cara menegur,
sapa, dan bersalaman kepada orang yang lebih tua setidaknya melatih mereka
secara tidak langsung. Memang dalam melatih seorang anak untuk menjadikan anak
berkarakter perlu kesabaran dan ekstra khusus.
Menurut
Dr. Martin, Pendidikan karakter merupakan kunci yang sangat penting di dalam
membentuk kepribadian anak. Pada hakikatnya, pendidikan memiliki tujuan untuk
membantu manusia menjadi cerdas dan tumbuh menjadi insan yang baik. Pemerintah
mendorong pengingkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif
komunikatif, dan kalaborasi generasi muda.
Dalam
dunia pendidikan di sekolah seperti menjabat dan bersalaman mencium tangan
guru ketika masuk dan pulang sekolah
merupakan hal dasar yang jitu untuk mewujudkan pendidikan berkualitas dan
berkarakter. Dengan adanya menjabat dan
bersalaman mencium tangan guru setidaknya ada beberapa sikap yang mereka dapat,
seperti sikap saling menghormati kepada orang tua, sikap santun dan sikap
menghargai antara sekamanya. Bahkan sikap kebersamaan dan pertemanan merekapun
akan terjalin dengan baik.
Secara
agamapun menganjurkan tentang bersalaman kepada oran tua maupun guru. Menurut
Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, keutamaan berjabat tangan ketika bertemu
atau berpisah yaitu adanya suatu berkah yang akan di dapat seperti salah
satunya diampuni dosa-dosa mereka.
Sejalan dengan ingin mewujudkan pendidikan berkualitas dan berkarakter,
setidaknya membuat sebuah lingkaran yang di dukung oleh semua pihak, baik dari
orang tua, lingkungan, sekolah, dan pemerintah. Agar pada nantinya apa yang
kita harapkan kepada generasi bangsa dapat mewujudkan keperibadian nilai-nilai
yang baik, serta tetap menjaga kepribadian santun dari pandangan negara-negara
lain.
Ar_86 (Harian Radar Banjarmasin, Minggu, 4 Juni 2017)

Belum ada Komentar untuk "LINGKARAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN BERKARAKTER - ARIF RAHMAN"
Posting Komentar