google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A LINGKARAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN BERKARAKTER - ARIF RAHMAN - PULPENWANKERTAS

LINGKARAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN BERKARAKTER - ARIF RAHMAN

 Zaman sekarang kita sangat mudah mendengarkan para pejabat yang tersandung dengan masalah korupsi. Media elektronik sepertinya tidak henti-hentinya menyiarkan para terpidana korupsi. Tak tanggung-tanggung lagi yang tersandung korupsi hampir rata-rata orang yang ternama di negera kita tercinta. Bukan masalah korupsi saja, baru-baru ini kita melihat di media sosial salah satu siswa merayakan kelulusan sekolah dengan cara mencoret-coret baju seragamnya. Memang mencoret-coret seragam itu sebenarnya masalah klasik,  yang ironisnya dalam coretan itu bertuliskan “Lulus potong bebek, kalau tidak lulus potong guru”. Wajarlah ketika mereka dewasa nantinya, mereka akan bertindak di luar batas, bukan tidak mungkin masalah korupsi atau kejahatan-kejahatan lainnya tak mungkin dihindari.
            Beginikah potret negara kita?. Apa yang terjadi pada negara tercinta kita? Negara kita yang dikatakan santun oleh negara-negara lain namun faktanya di lapangan tidak sesuai. Saat ini negera kita telah krisis nilai-nilai karakter santun atau budi pekerti. Siapa yang patut dipersalahkan? Apakah peran orang tua, lingkungan, atau guru?
            Memang saat ini pemerintah sangat serius membenahi tatanan pendidikan khususnya pendidikan karakter untuk siswa. Berbagai cara dalam kurikulum yang diciptakan oleh para pakar pendidikan sampai sekarang masih tahap perjalanan. Alhasil yang diharapkan oleh pemerintah untuk menjadikan siswa yang berkualitas dan berkarakter sepertinya tersendat. Saat ini para guru banyak disibukkan urusan administrasi kepegawaian. Guru yang pada hakikat tugasnya mendidik dan memberi ilmu kepada siswanya, sekarang pekerjaannya terbagi dengan urusan administrasi kepegawaian. Tuntutan kepegawaian yang merupakah wajib, mau tidak mau para guru harus melaksanakan tugas kepegawaiannya. dan pada akhirnya tidak jarang para guru hanya sekadar mengajar saja bukan mendidik.
            Hakikat pendidikan diartikan sebagai kepuasan secara konseptual terhadap keyataan-keyataan kehidupan manusia baik disadari maupun tidak disadari manusia telah melaksanakan pendidikan mulai dari keberadaan manusia pada zaman primitif sampai zaman masa kini, bahkan selama masih ada kehidupan manusia di dunia, pendidikan akan berlangsung. kesadaran akan konsep tersebut di atas menunjukkan bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan. Artinya sebagai pertanda bahwa manusia sebagai makhluk budaya yang salah satu tugas kebudayaan itu tampak pada proses pendidikan (Syaifullah, 1981)
Membangun masa depan siswa dalam pendidikan yang berkualitas dan berkarakter tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Untuk mewujudkan siswa yang berkualitas dan berkarakter setidaknya ditanamkan pada sejak usia dini, seperti nilai-nilai kebajikan, kesopanan serta saling menghormati. Pada masa usia dinilah peran orang tua, guru dan lingkungan dapat  menanamkan nilai-nilai yang diinginkan.
Faktor lingkunganpun harus mendukung untuk mewujudkan pendidkan berkulitas dan berkarakter. Hal ini karena dari sekian persen pergaulan anak-anak saat ini, kebanyakan adalah lingkungan sekitar. Pengawasan orang tua di lingkungan sangat menentukan, tidak bisa sepenuhnya orang tua mengharapkan kepada pihak sekolah untuk membimbing anaknya menjadi lebih baik.
            Nilai kesopanan, dan  saling menghormati merupakan hal  dasar yang harus dilakukan secara rutinitas. Membiasakan seorang anak pada masa usia dini dalam memberikan nilai karakter kesopanan dan saling menghoramati seperti dengan cara menegur, sapa, dan bersalaman kepada orang yang lebih tua setidaknya melatih mereka secara tidak langsung. Memang dalam melatih seorang anak untuk menjadikan anak berkarakter perlu kesabaran dan ekstra khusus.
            Menurut Dr. Martin, Pendidikan karakter merupakan kunci yang sangat penting di dalam membentuk kepribadian anak. Pada hakikatnya, pendidikan memiliki tujuan untuk membantu manusia menjadi cerdas dan tumbuh menjadi insan yang baik. Pemerintah mendorong pengingkatan literasi dasar, kompetensi berpikir kritis, kreatif komunikatif, dan kalaborasi generasi muda.
            Dalam dunia pendidikan di sekolah seperti menjabat dan bersalaman mencium tangan guru  ketika masuk dan pulang sekolah merupakan hal dasar yang jitu untuk mewujudkan pendidikan berkualitas dan berkarakter. Dengan adanya  menjabat dan bersalaman mencium tangan guru setidaknya ada beberapa sikap yang mereka dapat, seperti sikap saling menghormati kepada orang tua, sikap santun dan sikap menghargai antara sekamanya. Bahkan sikap kebersamaan dan pertemanan merekapun akan terjalin dengan baik.

            Secara agamapun menganjurkan tentang bersalaman kepada oran tua maupun guru. Menurut Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, keutamaan berjabat tangan ketika bertemu atau berpisah yaitu adanya suatu berkah yang akan di dapat seperti salah satunya diampuni dosa-dosa mereka.
            Sejalan dengan ingin  mewujudkan pendidikan berkualitas dan berkarakter, setidaknya membuat sebuah lingkaran yang di dukung oleh semua pihak, baik dari orang tua, lingkungan, sekolah, dan pemerintah. Agar pada nantinya apa yang kita harapkan kepada generasi bangsa dapat mewujudkan keperibadian nilai-nilai yang baik, serta tetap menjaga kepribadian santun dari pandangan negara-negara lain.


Ar_86 (Harian Radar Banjarmasin, Minggu, 4 Juni 2017)
Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "LINGKARAN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN BERKARAKTER - ARIF RAHMAN"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel