KITAB SUCI 'FIKSI' SEBUAH PEYORASI
Jumat, 13 April 2018
Tulis Komentar
Lagi dan lagi di medsos ramai
membicarakan hal yang viral. Saat ini yang diviralkan adalah kata FIKSI
terhadap KITAB SUCI. Statmant itu terlontar dari salah satu seorang Profesor ternama
yang hadir dalam acara TV swasta.
Sebenarnya sih, yang dibahas pada
acara itu bukan masalah KITAB SUCI adalah FIKSI, tetapi masalah perpolitikan.
Tetapi contoh yang digunakan oleh Sang Profesor itu sontak membuat gaduh para
pendengar, apalagi saya. Ya wajarlah kegaduhan itu disebabkan karena Sang
Profesor itu mencontohkan dengan membawa KITAB SUCI.
Menurut Profesor, KITAB SUCI itu
adalah FIKSI, berdasarkan pengertian umumnya sebagai “prosa naratif yang
bersifat imajiner, namun tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran”. Karena
kitab suci banyak berisi berita dan janji-janji masa depan, maka, bagian dari
fiksi, yaitu upaya untuk mengaktifkan imajinasi. Berulang kali saya coba
memahami ucapan-ucapan Profesor itu, akhirnya Saya sependapat dengan apa yang
dikatakan beliau. tetapi hanya sebatas kajian FIKSInya saja, dan saya akui,
selama ini saya melenceng menafsirkan tentang FIKSI sehingga menimbulkan
peyorasi terhadap FIKSI.
Sebenarnya bukan FIKSI saja.
Sebelum-sebelumnya saya juga pernah menemukan kata yang lain. Misalnya saja
pada kata CANGGIH. Penggunaan kata CANGGIH hampir merujuk kepada penggunaan
elektronik yang hebat. Padahal dalam KBBI kata CANGGIH itu adalah banyak cakep,
bawel, suka mengganggu atau tidak dalam keadaan wajar *(silahkan cek saja di
KBBI)
Menanggapi apakah KITAB SUCI adalah FIKSI ? dalam hal ini saya
tidak sependapat yang dikatakan Profesor itu. Walaupun penjelasan-penjelasan
beliau itu masuk akal bagi saya. Kitab suci sangatlah berbeda porsinya dengan
bacaan-bacaan lain, meskipun pada wujudnya KITAB SUCI sebuah tulisan, saya
masih bersikukuh bahwa KITAB SUCI merupakan bacaan yang tak tertandingi.
Padahal kalau mengupas lagi lebih
dalam, KITAB SUCI sebenarnya bukan sebuah bentuk prosa atau tulisan, tetapi itu
adalah kalam Ilahi atau perkataan Sang Illahi, yang dijembatani untuk menginformasikan
kepada manusia tentang ajaran kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Misalnya
saja Al-Quran merupakan sebuah wujud rukun iman yang ketiga yaitu percaya
terhadap kitab Al-Quran. Percaya di sini adalah meyakini bahwa itu adalah nyata. Apabila
seorang muslim tidak meyakini tentang Al-Quran, maka ia tergolong yang munafik,
dan itu ranahnya bukan imajinasi lagi tetapi real. Sedangkan novel merupakan tulisan manusia yang menyampaikan
informasi tentang imajinasi hayalan-hayalan si penulis, walaupun dalam novel tidak
sedikit berbentuk kenyataan.
Pada intinya, perlulah selektif
lagi dalam menjelaskan setiap kata dalam bertutur. Saat ini memang kesalahan
penggunaan kata itu diakibatkan sudah terdoktrinnya kita dalam hal-hal kebiasaan
yang salah. Sehingga penggunaan kata asalnya baik dan santun menjadikan sebuah
kata peyorasi.

Belum ada Komentar untuk "KITAB SUCI 'FIKSI' SEBUAH PEYORASI"
Posting Komentar