google-site-verification=-VT47BRGBGVdLjDl0yFFwnFoh2EwaFmBfVYKS-2bM-A KITAB SUCI 'FIKSI' SEBUAH PEYORASI - PULPENWANKERTAS

KITAB SUCI 'FIKSI' SEBUAH PEYORASI


Lagi dan lagi di medsos ramai membicarakan hal yang viral. Saat ini yang diviralkan adalah kata FIKSI terhadap KITAB SUCI. Statmant itu terlontar dari salah satu seorang Profesor ternama yang hadir dalam acara TV swasta.

Sebenarnya sih, yang dibahas pada acara itu bukan masalah KITAB SUCI adalah FIKSI, tetapi masalah perpolitikan. Tetapi contoh yang digunakan oleh Sang Profesor itu sontak membuat gaduh para pendengar, apalagi saya. Ya wajarlah kegaduhan itu disebabkan karena Sang Profesor itu mencontohkan dengan membawa KITAB SUCI.

Menurut Profesor, KITAB SUCI itu adalah FIKSI, berdasarkan pengertian umumnya sebagai “prosa naratif yang bersifat imajiner, namun tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran”. Karena kitab suci banyak berisi berita dan janji-janji masa depan, maka, bagian dari fiksi, yaitu upaya untuk mengaktifkan imajinasi. Berulang kali saya coba memahami ucapan-ucapan Profesor itu, akhirnya Saya sependapat dengan apa yang dikatakan beliau. tetapi hanya sebatas kajian FIKSInya saja, dan saya akui, selama ini saya melenceng menafsirkan tentang FIKSI sehingga menimbulkan peyorasi terhadap FIKSI.

Sebenarnya bukan FIKSI saja. Sebelum-sebelumnya saya juga pernah menemukan kata yang lain. Misalnya saja pada kata CANGGIH. Penggunaan kata CANGGIH hampir merujuk kepada penggunaan elektronik yang hebat. Padahal dalam KBBI kata CANGGIH itu adalah banyak cakep, bawel, suka mengganggu atau tidak dalam keadaan wajar *(silahkan cek saja di KBBI)

Menanggapi apakah  KITAB SUCI adalah FIKSI ? dalam hal ini saya tidak sependapat yang dikatakan Profesor itu. Walaupun penjelasan-penjelasan beliau itu masuk akal bagi saya. Kitab suci sangatlah berbeda porsinya dengan bacaan-bacaan lain, meskipun pada wujudnya KITAB SUCI sebuah tulisan, saya masih bersikukuh bahwa KITAB SUCI merupakan bacaan yang tak tertandingi.
Padahal kalau mengupas lagi lebih dalam, KITAB SUCI sebenarnya bukan sebuah bentuk prosa atau tulisan, tetapi itu adalah kalam Ilahi atau perkataan Sang Illahi, yang dijembatani untuk menginformasikan kepada manusia tentang ajaran kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Misalnya saja Al-Quran merupakan sebuah wujud rukun iman yang ketiga yaitu percaya terhadap kitab Al-Quran. Percaya di sini adalah meyakini bahwa itu adalah nyata. Apabila seorang muslim tidak meyakini tentang Al-Quran, maka ia tergolong yang munafik, dan itu ranahnya bukan imajinasi lagi tetapi real. Sedangkan novel  merupakan tulisan manusia yang menyampaikan informasi tentang imajinasi hayalan-hayalan si penulis, walaupun dalam novel tidak sedikit berbentuk kenyataan.

Pada intinya, perlulah selektif lagi dalam menjelaskan setiap kata dalam bertutur. Saat ini memang kesalahan penggunaan kata itu diakibatkan sudah terdoktrinnya kita dalam hal-hal kebiasaan yang salah. Sehingga penggunaan kata asalnya baik dan santun menjadikan sebuah kata peyorasi.


Arif Rahman (Bakulaan) Hidup adalah seni yang terus dan terus kita jalani, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah, kadang kita tertawa sejenak dan kadang kita akan menitikan air mata, dan kita hanyalah wayang yang tak tahu sampai mana ending dari seni dunia ini.

Belum ada Komentar untuk "KITAB SUCI 'FIKSI' SEBUAH PEYORASI"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel